Pada semester pertama 2020, jumlah penumpang internasional di Asia Pasifik menurun drastis 67,7 persen. Januari-Juni 2020, maskapai kawasan ini secara kolektif mengangkut hanya 61 juta penumpang, susut dari 190 juta penumpang pada Januari-Juni 2019.

Statistik suram itu dilansir oleh AAPA (Association of Asia Pacific Airlines), lembaga yang bermarkas di Kuala Lumpur dan beranggotakan 15 maskapai utama Asia Pasifik, termasuk ANA, Cathay Pacific, Garuda Indonesia, Singapore Airlines, serta Thai Airways.

AAPA juga mencatat tren penurunan penumpang kian besar di semester pertama 2020. Di Januari, maskapai Asia Pasifik mengangkut 33 juta penumpang. Sebulan berselang, angkanya drop hampir 50 persen. Selepas itu, interior pesawat kian lowong. Secara kolektif, maskapai kawasan ini melayani kurang dari satu juta penumpang per bulan. 

Penumpang Internasional Asia Pasifik, Januari-Juni 2019 & 2020

Sumber: Association of Asia Pacific Airlines

“Mayoritas pesawat hanya melayani penerbangan repatriasi,” jelas Subhas Menon, Direktur Jenderal AAPA, dalam siaran persnya. “Penerbangan internasional terus dibekukan akibat penutupan perbatasan dan syarat karantina yang memberatkan, bahkan setelah lockdown domestik dilonggarkan.”

Apa yang terjadi di level Asia Pasifik itu tecermin di Indonesia. April 2020 misalnya, dari 15 bandara yang didata BPS, hanya tujuh yang menerima turis asing. Selama pandemi, mayoritas turis ke Indonesia memang datang lewat jalur darat, dan pemasoknya didominasi dua negara tetangga: Timor-Leste dan Malaysia.

Singapore Airlines mengangkut 13.900 penumpang di Juni 2020, drop 99% dibandingkan Juni 2019. (Foto: Singapore Airlines)

Di luar Asia Pasifik, kondisi kronis juga berlangsung. Industri aviasi Eropa, Amerika Utara, dan Afrika didera krisis okupansi pesawat. ICAO (International Civil Aviation Organization) bahkan menyatakan dampak negatif pandemi Covid-19 jauh lebih parah dibandingkan SARS 2003. Menurut estimasi, industri aviasi global akan kehilangan hingga dua miliar penumpang pada 2020.

Kendati begitu, Asia Pasifik menderita pukulan paling telak. Maklum, kawasan berpopulasi gemuk ini mewakili sekitar 33 persen lalu lintas penumpang global. ICAO mencatat, pada semester pertama 2020, perusahaan penerbangan Asia Pasifik kehilangan pendapatan $60 miliar, di bawah Eropa yang mencapai $44 miliar dan Amerika Utara sebesar $40 miliar.  

Baca Juga: Emirates Tawarkan Asuransi Perjalanan Gratis

Dan nestapa itu, celakanya, masih akan berlanjut. Merujuk laporan Economic Impacts of Covid-19 on Civil Aviation, Asia Pasifik akan menjadi kawasan yang paling terpukul di 2020. Kapasitas penumpang internasionalnya akan minus 70 persen. Satu-satunya pelipur lara bagi Asia Pasifik ialah penerbangan domestik. Di kategori ini, kapasitasnya akan susut maksimum 41 persen di Tahun Tikus. Cristian Rahadiansyah