Apa Kabar Lompat Batu Nias?

Misionaris dan penjajah telah mengikis banyak tradisi megalitik Nias. Lompat batu, salah satu warisan budayanya yang selamat dari penjajahan, kini justru kesulitan bertahan akibat kekurangan peminat. Buah keniscayaan zaman atau korban ketimpangan pembangunan?

Kiri-kanan: Warga Kampung Bawomataluo, Nias Selatan, bercengkerama di atas artefak-artefak batu yang terpajang di halaman rumah besar Omo Hada Nifolasara; patung Bunda Maria di depan Gereja Santa Maria, Kota Gunungsitoli.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Ramadhani

Apa? Wisata di Nias? Jauh panggang dari api,” jelas Agus Mendrofa. “Jangankan di perkampungan, di kota ini saja listrik mati kadang sampai dua minggu. Bagaimana mungkin pariwisata tanpa listrik?”

Agus Mendrofa berbicara berapi-api di Miga Beach Hotel miliknya di Kota Gunungsitoli. Dia mantan Wakil Bupati Nias. Di masa pemerintahannya, pulau seluas 4.771 kilometer persegi ini belum terbagi jadi empat kabupaten dan satu kota madya. “Surfing katamu? Itu bukan wisata; itu olahraga!” katanya lagi, mengomentari pendapat saya soal peselancar. “Pernah kau lihat peselancar itu berwisata melihat peninggalan budaya?”

Walau tak lagi bertakhta, Agus masih lancar berorasi layaknya kepala daerah. “Untuk Nias,” lanjutnya, “apa pun akan aku lakukan, dengan setan sekalipun aku mau bekerja sama.” Untuk kalimat yang terakhir ini, dia terlihat bersungguh-sungguh. Nias, pulau di belahan barat Sumatera, memang memproduksi banyak ilmu kebatinan dan dukun yang disegani dalam skena klenik nasional. Untungnya, tulisan ini bukanlah soal setan dan perdukunan.

Meninggalkan Agus yang ketus, saya berziarah ke tanah purba Tano Niha, kampung asal yang sakral, markas warga suku yang menurut legenda bersumber dari langit. Di tengah jalan, takdir mempertemukan saya dengan Aluiziduhu Telaumbanua, pria 39 tahun yang berbadan subur. Para tetangganya memanggilnya Ama Beni, artinya “bapaknya Beni,” sesuai nama anak sulungnya. Menurut norma setempat, setelah seorang pria memiliki anak, nama aslinya tidak boleh lagi dipanggil.

Ama Beni berprofesi pengojek merangkap pemandu. Dia memperlihatkan tunggangan kebanggaannya: sepeda motor Honda tua dengan warna yang sukar diterka, rantai yang berderak, serta dengung mesin yang membuat risau. Dengan upah Rp200.000, Ama Beni membawa saya menyusuri jalan berbatu menuju desa purba, mendaki tanjakan yang meandernya lebih dari 45 derajat. Langit telah gelap, hujan siap tercurah, cemas saya kian bertambah.

Di perjalanan, Ama Beni berbicara seperti orator kondang, walau ia bukan politisi sebagaimana Agus. Intonasinya meyakinkan dan terstruktur seperti ahli linguistik. Bersaing dengan bising knalpot, dia terus mengoceh tentang kampung yang akan kami tuju, sebuah tanah yang dalam catatan antropolog disebut sebagai tempat tinggal suku dari zaman batu.

Panorama Kota Gunungsitoli.

Institut de Recherche Pour le Développement, sebuah lembaga penelitian Prancis, pernah melaporkan tentang temuan peninggalan megalitik bertitimangsa 1600 di Nias. Catatan yang menggegerkan tentu saja. Ketika banyak daerah lain di Nusantara memasuki “zaman kolonial,” Nias masih menekuni kebudayaan batu. Sumber lain, buku Sumatra: Its History and People karya Edwin M. Loeb, mengklaim nama Nias pernah tertera dalam catatan kuno pedagang Persia. Di situ disinggung tentang tradisi pemenggalan kepala musuh sebagai syarat bagi pria yang ingin menikah. Konsep pre-wedding yang jauh dari kata romantis.

Kira-kira 20 menit menjelang desa zaman batu, sepeda motor buatan zaman modern terbatuk-batuk, lalu membisu. “Kita harus ganti kendaraan, kereta ini tidak cocok dibawa ke sana,” kata Ama Beni beretorika. Tak punya pilihan, saya merogoh dana tambahan Rp50.000 untuk menumpang GL Pro milik pemuda setempat. Merapat bertiga di atas jok, kami meniti jalan semen berlumut di sepanjang tubir perbukitan menuju Kampung Lahusa Satua, Kecamatan Gomo, Nias Selatan.

Tiba di tujuan, Temariaso Ndruru, kuncen kampung, menyambut kami di rumahnya. Ama Beni memandang saya dan menganggukkan kepalanya, sebuah isyarat bagi saya untuk menyerahkan “uang adat.” Saya menyelipkan Rp50.000 ke tangan Temariaso, dan wajahnya berubah semringah. Dia menyodorkan sebuah buku tamu kepada saya untuk diisi.

“Ini istri kedua saya. Anak saya semuanya 12 orang,” Temariaso mulai buka mulut. Anakanaknya makan di meja, di bingkai jendela, di bale-bale, berjongkok di samping pinang yang sedang dijemur. Usai bersalaman dengan istri keduanya, saya digiring keluar rumah.

Di jantung kampung, rumah-rumah kayu ditata mengelilingi artefak batu berwujud wajah manusia, naga, bangku, dan meja. Semua sudah berlumut digerus waktu. Layaknya pemandu yang piawai, Temariaso langsung merapal informasi tentang banyak hal. Kalimat tumpah dari mulutnya seperti air bah. “Batu pipih ini tempat gadis-gadis menari menghadap raja. Ini gong dari batu, pukul saja, bunyinya enak didengar. Ini peti mati, dan di sebelah sini tempat tengkorak kakek moyang saya. Saya tidak biasa membukanya untuk tamu, tapi berhubung Anda adalah tamu penting yang datang dari jauh, saya akan membukanya.”

Di dalam peti batu itu berserakan kepingan tengkorak di atas piring tembikar putih. Saat Temariaso hendak membuka peti batu yang lain, saya bertanya tentang kuburan keramik di ujung kampung. “O, itu kuburan keluarga kami. Itu baru, bukan dari zaman batu. Itu kan ada salibnya, tandanya kami ini telah tobat. Sudah lima, o, enam keturunan kami memeluk Kristen. Kakek moyang kami dulu kan masih kafir, jadi ya dikubur di batu.”

Kiri-kanan: Area muara di daerah Pantai Lahusa Mbalaekha, tak jauh dari Teluk Dalam, Nias Selatan; kerapu gulai kuning, masakan populer di Desa Lagundri, Nias Selatan.

Ketika zending dan misionaris datang pada awal abad ke-19, Nias adalah tempat yang membuat bulu kuduk berdiri: sebuah kawasan bertuah yang didiami kaum pemburu kepala. Dalam buku Famareso Nhawalö HukuFöna Awö Gowe Nifasindro Ba Dano Nias, M.G. Thomsen mengklaim tradisi Mangani Binu (memburu kepala manusia) muncul pada pertengahan abad ke-19 lantaran dipicu oleh permusuhandi antara marga besar. “Harga diri seseorang ditentukan oleh jumlah kepala manusia dari klan lain yang dipenggalnya,” catat Thomsen.

Hujan mengguyur Kampung Lahusa Satua. Istri Temariaso mengangkat jemuran, sementara Ama Beni melarikan saya ke sebuah lafo (lepau) berisi delapan pria bermata merah. Ada yang berbincang, main kartu, serta menenggak tuo nifaro (tuak suling). “Mari minum. Orang Nias pantang tidak melayani tamu, bahkan nyawa pun kami pertaruhkan buat tamu,” Yulius Lase menyambut dengan bicara “nyawa” kepada orang asing yang belum dikenalnya.

Yulius mempersilakan saya duduk di sampingnya. Belum sempat saya bicara, dia membahas topik ilmu klenik. “Jangan takut bila ada orang yang mengatakan Gomo ini masih gelap. Itu salah. Gomo tidak seperti dulu, kami telah terbuka pada pendatang. Kami sudah ada yang merantau juga. Ayo minum.”

Saya mentraktir seluruh tamu warung dengan dua teko arak seharga Rp50.000. “Hidup di sini? Ya, begitu-begitu saja. Susah, biaya pernikahan mahal,” Yulius bicara kian semangat. “Makanya, saya cari istri ke Jawa, biaya pernikahan nol rupiah.”

“Saya juga begitu, saya menikah di Padang. Di Kecamatan Gomo ini, kami generasi pertama yang mencoba merantau,” lelaki paruh baya yang duduk di pojok meningkahi. Lelaki di sampingnya tertawa. Minuman dalam teko dituang, perbincangan kian panjang, hujan kian meradang menghantam atap seng.

Menyusuri jalan penuh liku menuju selatan pulau, saya melewati pasar-pasar yang terbentang di jalan sempit, anak-anak sekolah yang berjalan bergerombol sambil tertawa, juga gereja-gereja yang beratap seng mengilap.

“Kata SBY, dulu, Nias ini ditinggal, bukan tertinggal,” Ama Sandi, sopir saya, memecah kekosongan. “Jalan ini sempit memang, tapi aman. Asal jangan di malam hari, waswas kita. Bahaya! Dulu saya pernah dirampok.”

Mobil melewati kebun pisang yang membentang lapang di tepi jalan. Sesekali tampak gadis-gadis sedang mencuci di bantaran Sungai Gomo. Tiba di Kampung Bawomataluo, Ferius Luahambowo langsung menyambut begitu kaki saya menginjak tanah. Tanpa diminta, dia memandu saya mendaki tangga, menuju permukiman yang bertengger di dataran tinggi. Gerbang kampung tersusun dari batu. Bentuknya mirip benteng.

Comments