Kairouan, tempat bersejarah Islam di Tunisia.

Kairouan
Kairouan menjadi tempat kekhalifahan Islam di Tunisia mencapai masa keemasannya. Kota yang didirikan pada 670 ini pernah menjadi pusat studi agama yang memikat banyak cendekiawan dari banyak imperium lain. Pada abad ke-9, di bawah Dinasti Aghlabid, Kairouan kian bersinar, terutama di bidang arsitektur. Masjid-masjid di sini didesain begitu mewah dan megah, salah satunya bahkan dipuji UNESCO sebagai sebuah mahakarya arsitektur. “Banyak umat muslim dari berbagai negara melawat ke Masjid Agung Kairouan, salah satu masjid tertua di dunia,” jelas Mourad.

Bangunan mirip koloseum di Mahdia.

Mahdia
Pada abad ke-10, Mahdia pernah menjadi pusat politik Dinasti Fatimid, kekhalifahan yang menguasai banyak kawasan di Afrika Utara. Saat itu, politisi terkuatnya membangun benteng yang dilengkapi gerbang bernama Skifa el Kahla (Gerbang Hitam). Dinasti Fatimid juga membangun kota kecil Zouila yang menjadi tempat berkumpulnya kaum intelektual dan seniman. Sekarang, Zouila merupakan kota pelabuhan sekaligus destinasi wisata sejarah dan arsitektur. “Mahdia juga terkenal sebagai penghasil tenun sutra dan kerajinan emas berbentuk tangan Fatima dengan detail yang memukau,” tambah Mourad.

Kota pesisir yang menyerupai desa di Yunani.

Carthage
Sesuai namanya, kota pesisir ini pernah menjadi markas Kekaisaran Carthaginian. Pasca-Perang Punic, tampuk kekuasaan kota berpindah ke Romawi. Dua imperium inilah yang kemudian mewarisi banyak situs bersejarah. “Menepi beberapa kilometer dari Carthage, kita bisa menemukan Sidi Bou Said, desa yang dipenuhi bangunan berwarna biru dan putih hingga menyerupai desa di Yunani,” jelas Mourad. Di desa ini pula Mourad gemar menyeruput secangkir kopi di Cafe des Nattes, kedai bergaya Moor yang menawarkan panorama pelabuhan yang ditaburi kapal pesiar.

Tunis, destinasi yang paling memiliki ciri khas Tunisia.

Tunis
“Tunis adalah destinasi yang paling merepresentasikan Tunisia,” kata Mourad tentang kota kelahirannya. Melalui museum, pasar rakyat, teater terbuka, juga kafe, Tunis merangkum sejarah dan peninggalan nenek moyang Tunisia. Untuk memulai eksplorasi, Mourad merekomendasikan Bardo Museum, di mana kita bisa melihat mosaik-mosaik orisinal dari zaman kekuasaan Romawi dan Carthaginian. Koleksi mosaik yang pernah diboyong ke sebuah pameran di Los Angeles tersebut terbuat dari marmer, tanah liat, serta kaca. Dari Bardo Museum yang dipenuhi mosaik, Mourad menyarankan turis pergi ke Medina, kawasan kota tua. Medina, anggota Situs Warisan Dunia, menaungi sekitar 700 monumen, mulai dari rumah hingga masjid, yang dihubungkan oleh jalan-jalan sempit. Bentuk rumah di sini masih terpelihara selama ratusan tahun, tapi fungsinya sebagian telah beralih menjadi toko suvenir dan kriya. “Banyak rumah juga sudah dijadikan perpustakaan dan museum, salah satunya rumah milik Dar Ben Abdallah yang telah disulap menjadi museum sekaligus atraksi turis berkat keindahan interior dan eksteriornya.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2016 (“Tunisia”)