Features

8 Tempat Memesona di Tunisia

Hammamet, surga bagi para pencinta pantai dan olahraga bahari.

[dropcap type=”default”]”T[/dropcap]unisia tidak cuma menawarkan pasir putih dan laut biru,” kata Mourad Belhassen, “tapi juga sejarah dan kebudayaan yang bernyawa.” Duta Besar Tunisia ini menuturkan delapan tempat wisata di negaranya kepada Suhartina Sindukusumo.

Hammamet
“Indonesia memiliki Bali. Di Tunisia, tempat yang menyerupainya adalah Hammamet,” ujar Mourad. Hammamet, kota pesisir yang dibingkai Laut Mediterania, merupakan destinasi liburan bagi pencinta pantai dan olahraga bahari. Hotel-hotel ternama dan beberapa restoran terbaik di Tunisia bercokol di sini. “Tapi Hammamet tidak cuma menawarkan pantai. Tempat ini juga memancarkan kegembiraan dan energi kehidupan,” tambah Mourad. Semua kombinasi itu yang agaknya memikat sejumlah selebriti dunia—sebut saja Sophia Loren dan Elsa Schiaparelli—untuk mendirikan rumah liburan di sini.

Djerba, kampung warga Yahudi dengan budaya menarik.

Djerba
Umat Yahudi merupakan bagian integral dalam peradaban Tunisia, sebuah negara yang 99 persen warganya menganut Islam. Mayoritas warga Yahudi menetap di Djerba, pulau elok yang dihuni bangunan bersejarah Sinagoge El Ghriba. Situs inilah yang lazim diziarahi oleh umat Yahudi dari berbagai negara. Djerba, pulau terbesar di Afrika Utara, juga merupakan destinasi liburan yang populer. Bandaranya melayani penerbangan dari kota-kota besar di Eropa seperti Paris, Brussels, dan Munich. “Pulau ini juga memiliki panorama matahari terbenam yang terbaik di Tunisia,” jelas Mourad.

Reruntuhan peninggalan Kekaisaran Romawi yang bisa ditemukan di Sbeitla.

Sbeitla
“Ini tempat terbaik untuk mempelajari peninggalan Kekaisaran Romawi,” jelas Mourad. Di masa lalu, Sbeitla, kadang disebut Sufetula, merupakan sentra penghasil minyak zaitun. Kemakmuran kota di tengah Tunisia ini tecermin dari beragam strukturnya yang mewah, seperti kolam pemandian, teater, alun-alun yang megah, serta gapura-gapura besar. Sbeitla juga memiliki tempat penting dalam sejarah Islam. Saat dikuasai Kekaisaran Byzantine, kota ini menjadi lokasi perang akbar melawan pasukan dari Semenanjung Arab. Rampung perang, Islam mulai menyebar di Afrika Utara hingga kawasan selatan Eropa.

Salah satu bangunan bekas properti syuting Star Wars di Chott el Jerid.

Chott el Jerid
“Banyak orang Indonesia mengira hanya negara-negara di Jazirah Arab yang memiliki padang pasir, padahal Tunisia memiliki padang pasir yang pernah dijadikan lokasi syuting Star Wars,” kata Mourad bangga. Gurun yang dimaksudnya bernama Chott el Jerid, hamparan seluas 5.000 kilometer persegi yang melintang di tengah Tunisia dan secara geologis sebenarnya merupakan padang garam di Sahara. Dalam Star Wars, Chott el Jerid ditampilkan sebagai Planet Tatooine, tempat Obi-Wan Kenobi pernah bersembunyi dan Luke Skywalker menghabiskan masa kecilnya. Safari di gurun adalah aktivitas yang sangat populer di Tunisia. Paket turnya umumnya mencakup ekspedisi menaiki unta, mengendarai jip, juga menginap di tenda dan mempelajari kehidupan etnik Berber yang menghuni kawasan Afrika Utara.

Kairouan, tempat bersejarah Islam di Tunisia.

Kairouan
Kairouan menjadi tempat kekhalifahan Islam di Tunisia mencapai masa keemasannya. Kota yang didirikan pada 670 ini pernah menjadi pusat studi agama yang memikat banyak cendekiawan dari banyak imperium lain. Pada abad ke-9, di bawah Dinasti Aghlabid, Kairouan kian bersinar, terutama di bidang arsitektur. Masjid-masjid di sini didesain begitu mewah dan megah, salah satunya bahkan dipuji UNESCO sebagai sebuah mahakarya arsitektur. “Banyak umat muslim dari berbagai negara melawat ke Masjid Agung Kairouan, salah satu masjid tertua di dunia,” jelas Mourad.

Bangunan mirip koloseum di Mahdia.

Mahdia
Pada abad ke-10, Mahdia pernah menjadi pusat politik Dinasti Fatimid, kekhalifahan yang menguasai banyak kawasan di Afrika Utara. Saat itu, politisi terkuatnya membangun benteng yang dilengkapi gerbang bernama Skifa el Kahla (Gerbang Hitam). Dinasti Fatimid juga membangun kota kecil Zouila yang menjadi tempat berkumpulnya kaum intelektual dan seniman. Sekarang, Zouila merupakan kota pelabuhan sekaligus destinasi wisata sejarah dan arsitektur. “Mahdia juga terkenal sebagai penghasil tenun sutra dan kerajinan emas berbentuk tangan Fatima dengan detail yang memukau,” tambah Mourad.

Kota pesisir yang menyerupai desa di Yunani.

Carthage
Sesuai namanya, kota pesisir ini pernah menjadi markas Kekaisaran Carthaginian. Pasca-Perang Punic, tampuk kekuasaan kota berpindah ke Romawi. Dua imperium inilah yang kemudian mewarisi banyak situs bersejarah. “Menepi beberapa kilometer dari Carthage, kita bisa menemukan Sidi Bou Said, desa yang dipenuhi bangunan berwarna biru dan putih hingga menyerupai desa di Yunani,” jelas Mourad. Di desa ini pula Mourad gemar menyeruput secangkir kopi di Cafe des Nattes, kedai bergaya Moor yang menawarkan panorama pelabuhan yang ditaburi kapal pesiar.

Tunis, destinasi yang paling memiliki ciri khas Tunisia.

Tunis
“Tunis adalah destinasi yang paling merepresentasikan Tunisia,” kata Mourad tentang kota kelahirannya. Melalui museum, pasar rakyat, teater terbuka, juga kafe, Tunis merangkum sejarah dan peninggalan nenek moyang Tunisia. Untuk memulai eksplorasi, Mourad merekomendasikan Bardo Museum, di mana kita bisa melihat mosaik-mosaik orisinal dari zaman kekuasaan Romawi dan Carthaginian. Koleksi mosaik yang pernah diboyong ke sebuah pameran di Los Angeles tersebut terbuat dari marmer, tanah liat, serta kaca. Dari Bardo Museum yang dipenuhi mosaik, Mourad menyarankan turis pergi ke Medina, kawasan kota tua. Medina, anggota Situs Warisan Dunia, menaungi sekitar 700 monumen, mulai dari rumah hingga masjid, yang dihubungkan oleh jalan-jalan sempit. Bentuk rumah di sini masih terpelihara selama ratusan tahun, tapi fungsinya sebagian telah beralih menjadi toko suvenir dan kriya. “Banyak rumah juga sudah dijadikan perpustakaan dan museum, salah satunya rumah milik Dar Ben Abdallah yang telah disulap menjadi museum sekaligus atraksi turis berkat keindahan interior dan eksteriornya.”

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2016 (“Tunisia”)