7 Rekomendasi Buku Foto Karya Orang Indonesia

Punya banyak foto dan ingin membukukannya? Ahmad ‘Deny’ Salman, kurator foto, merekomendasikan tujuh buku foto karya orang Indonesia yang patut dijadikan referensi.

Ahmad ‘Deny’ Salman, kurator foto, merekomendasikan tujuh buku foto karya orang Indonesia yang patut dijadikan referensi.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Yang Kuat Yang Kalah
Memuat lima esai foto, Yang Kuat Yang Kalah, jelas Deny Salman, “bisa menjadi rujukan bagi mereka yang meminati photo story sebagai bentuk karya.” Banyak nama besar (dan kelak besar) yang terlibat dalam buku pertama dari fotografer Rama Surya ini. Pengantarnya ditulis oleh Mochtar Lubis dan Yudhi Soerjoatmodjo. Penyunting fotonya Erik Prasetya, sementara desainnya oleh Agus Suwage.

The Riders of Destiny
“Cerita yang mendalam tentang anak-anak joki pacuan kuda,” ujar Deny Salman tentang The Riders of Destiny. Tema yang diusungnya tidak baru memang, tapi Romi Perbawa adalah orang pertama yang memotretnya secara jangka panjang. Dari 2010 hingga 2014, fotografer asal Kutoarjo ini bolak-balik Sumbawa untuk merekam kehidupan para joki cilik, termasuk tawa dan luka mereka.

Illusion
Karya terbitan 2014 ini memberi warna segardalam skena buku foto di Indonesia. Kontras dari kebanyakan buku yang mengulas isu kontemporer, fakta-fakta “keras,” atau dokumentasi jalanan, Illusion memuat narasi visual yang intim hasil ekspedisi Ng Swan Ti di delapan negara. “Tidak bercerita tentang perjalanannya,” tambah Deny Salman, “tapi lebih pada memori dan emosi-emosi.”

Tanah Yang Hilang
Lumpur Lapindo, salah satu bencana paling fatal akibat alpa manusia, sudah dikupas oleh beragam media. Tanah Yang Hilang mengangkat kasus serupa, tapi dengan perspektif visual yang personal. Daya tarik lain dari karya Mamuk Ismuntoro ini, kata Deny Salman, ialah “desain dan kemasannya yang out of the box.” Bagaikan parodi satir, Tanah Yang Hilang didesain menyerupai sertifikat tanah.

Soulscape Road
Laksana proyek foto dokumenter yang dibuat dengan mata seorang seniman, Soulscape Road memuat foto-foto bencana—dari tsunami Aceh hingga lumpur Lapindo—yang sarat simbol, hingga memicu perenungan khidmat tentang dimensi kosmis alam. Pembuatnya, Oscar Motuloh, adalah punggawa galeri Foto Jurnalistik Antara. “Kepiluan yang liris,” begitu Deny Salman merangkum karya ini. 

Baca juga: 8 Buku Travel Pilihan Penulis; 5 Buku Keluarga Petualang

Tanpa Batas
“Ketekunan adalah sesuatu yang langka,” jelas Deny Salman, “dan Tjandra adalah satu dari yang langka itu.” Tanpa Batas memang buah dari ketekunan. Selama tujuh tahun, Tjandra Moh Amin mendokumentasikan grup musik slank, baik di atas maupun di luar panggung, termasuk dimensi kehidupan pribadi para personelnya. Buku ini diterbitkan pada 2018 dalam rangka ulang tahun Slank ke-35.

Jakarta: Estetika Banal
Dalam buku yang judulnya terkesan kontradiktif ini, Erik Prasetya, salah seorang street photographer paling berpengaruh di Indonesia, menangkap elemen keseharian yang banal dalam dinamika manusia dan gerak kehidupan Jakarta. Dibuat dalam rentang 20 tahun, foto-foto dalam buku ini, ujar Deny Salman, ibarat “kumpulan cerpen tentang Jakarta.” Satu yang cukup unik, tiap babnya dibatasi oleh penggalan puisi.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2019 (“Primbon Panutan”).

Tags : listMagazine
Comments