Kota Yogyakarta baru saja merayakan hari jadinya yang ke-270 pada 7 Oktober 2026. Selama perjalanannya, kota ini memiliki cara sendiri untuk membuat pelancong kembali. Keraton, jalan Malioboro, atau deretan tempat makan terkenal, sudah lama menjadi bagian dari itinerary atau destinasi Yogyakarta bagi wisatawan yang berkunjung.

Yogyakarta juga menyimpan lapisan seni dan kehidupan kreatif yang terus berkembang mengikuti zaman. Bagi DestinAsian Indonesia, Yogyakarta juga merupakan destinasi yang menarik justru karena begitu banyak hal yang masih bisa digali. Kami memang belum memiliki city guide khusus Yogyakarta, tetapi perjalanan ke kota ini selalu memperlihatkan sisi yang lebih luas dari sekadar destinasi klasik.
Ada banyak tempat yang membuat Yogyakarta terus terngiang di pikiran pelancong, dari situs bersejarah hingga ruang kreatif dan produsen pangan lokal. Spesial memperingati hari jadi Kota Yogyakarta, berikut enam tempat yang layak masuk dalam jadwal liburan Anda di kota ini.
6 Destinasi Yogyakarta yang Layak Dikunjungi
1. Tamansari

Berjarak tak jauh dari Keraton Yogyakarta, Tamansari merupakan kompleks pesanggrahan yang dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I. Dibangun sekitar 1758, kawasan ini dahulu merupakan taman kerajaan yang terdiri atas kolam, kanal air, ruang peristirahatan, serta bagian-bagian yang memiliki fungsi pertahanan dan spiritual. Salah satu bagian yang paling dikenal adalah kompleks pemandian dengan dua kolam yang dipisahkan bangunan bertingkat.
Namun, menariknya Tamansari hari ini bukan hanya pada bangunan yang tersisa. Kompleks tersebut kini hidup berdampingan dengan permukiman warga, gang-gang kecil, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Menjelajahinya berarti melihat bagaimana sebuah situs kerajaan tidak berdiri sebagai monumen yang terpisah dari kota, melainkan menjadi bagian dari lanskap sosial Yogyakarta. Bagi pengunjung pertama kali, area di sekitar Tamansari juga menarik untuk dijelajahi dengan berjalan kaki, termasuk kampung-kampung yang berada di balik kompleks utama.
Baca Juga: Riyadh Air Buka Rute Langsung Riyadh–Jakarta Mulai November
2. Bhumi Buvana

Di kawasan Prawirotaman, Bhumi Bhuvana menawarkan cara berbeda untuk melihat kehidupan lokal Yogyakarta. Tempat ini berawal dari Ranah Bhumi, sebuah toko kelontong terkurasi yang lahir dari gagasan sustainable living. Alih-alih menjadikan keberlanjutan sebagai sekadar konsep, toko ini memilih produk berdasarkan asal-usul dan proses produksinya, dengan perhatian pada bahan lokal, kualitas, serta dampaknya terhadap lingkungan. Sebagian produk bahkan diperoleh langsung dari petani, pekebun, dan pemasok yang telah melalui proses kurasi.
Kini, Bhumi Bhuvana berkembang menjadi ruang yang lebih luas dari sekadar tempat berbelanja. Di sini, pengunjung dapat mengenal bahan pangan dan produk sehari-hari melalui pengalaman yang lebih interaktif, termasuk menikmati hidangan berbahan lokal, mengikuti workshop, memasak bersama, hingga berinteraksi dengan komunitas. Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana gagasan tentang pangan, konsumsi, lingkungan, dan kehidupan bersama dapat diterapkan dalam skala yang dekat dengan keseharian. Pada 2026, Bhumi Bhuvana bahkan menghadirkan pengalaman memasak bersama ekspatriat, memperluas fungsinya sebagai ruang pertemuan antara kuliner, budaya, dan komunitas.
3. Salim Silver

Kotagede telah lama dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan perak Yogyakarta. Kawasan ini sendiri merupakan bekas ibu kota Kerajaan Mataram Islam dan hingga kini masih menyimpan rumah-rumah tradisional, gang bersejarah, serta jejak kehidupan perdagangan dan kerajinan yang telah berlangsung selama berabad-abad. Di salah satu sudutnya, Salim Silver menawarkan kesempatan untuk melihat tradisi tersebut dalam bentuk yang lebih personal.
Bukan hanya toko perhiasan, Salim Silver juga membuka pengalaman silversmith workshop di studio keluarga mereka di Kotagede. Pengunjung dapat mempelajari proses dasar pembuatan perhiasan perak, mulai dari membuat desain, teknik repoussé atau tatah, penyolderan, hingga pemolesan. Workshop berdurasi sekitar tiga jam ini memungkinkan pengunjung membawa pulang karya yang dibuat sendiri, sekaligus mengenal cerita keluarga dan tradisi kerajinan perak Kotagede langsung dari pengrajinnya.
Baca Juga: Hilton Padalarang Bandung: Rasa Mewah dan Kontemporer di Bandung Barat
4. Lokanusa

Di kawasan Kotagede, Lokanusa menghadirkan sisi lain dari kuliner Yogyakarta. Tempat ini menggabungkan sajian Nusantara dengan minuman berbasis rempah dan artisan tea, dalam ruang yang dibuat santai dan jauh dari kesan restoran konvensional. Namanya sendiri berkaitan dengan gagasan tentang keberagaman rasa Nusantara, sementara konsepnya menempatkan rempah sebagai salah satu bagian penting dari pengalaman bersantap. Lokanusa juga berada di kawasan Bokong Semar, tidak jauh dari lanskap budaya Kotagede.
Yang menarik adalah bagaimana tempat ini mengemas kekayaan kuliner Indonesia tanpa menjadikannya sekadar nostalgia. Rempah, jamu, teh, dan hidangan tradisional diperlakukan sebagai bagian dari pengalaman gastronomi yang lebih kontemporer. Lokanusa juga pernah menjadi lokasi kegiatan yang mengajarkan generasi muda untuk mengenal dan meracik jamu tradisional, memperlihatkan bagaimana kuliner dapat menjadi medium untuk meneruskan pengetahuan lokal kepada generasi berikutnya.
5. Mazaraat Artisan Cheese

Yogyakarta mungkin bukan kota pertama yang muncul ketika membicarakan keju artisan, tetapi Mazaraat Artisan Cheese menawarkan alasan untuk melihat kembali hubungan antara kuliner, pertanian, dan produksi lokal di kota ini. Berbasis di Sleman, Mazaraat mengolah susu segar dari peternak lokal menjadi beragam jenis keju, mulai dari Gouda dan Cheddar hingga keju bergaya Brie, Camembert, Tomme, dan Alpine. Mereka juga memiliki lini produk segar seperti mozzarella, feta, halloumi, burrata, serta berbagai produk creamery.
Skalanya juga menunjukkan bagaimana produk artisan dapat berkembang dari usaha lokal menjadi bagian dari ekosistem pangan yang lebih luas. Pada 2026, Mazaraat disebut menyerap sekitar 1.000 liter susu segar dari peternak lokal setiap hari dan mengolahnya menjadi sekitar 100 kilogram keju artisan. Bagi pelancong yang tertarik pada gastronomi, kunjungan ke Mazaraat menawarkan kesempatan melihat sisi Yogyakarta yang juga melahirkan produk pangan dengan standar dan pendekatan yang lebih global.
Baca Juga: Ketika Arsitektur Resorts World Sentosa Berubah Menjadi Playground Freerunning
6. Jogja National Museum

Yogyakarta tidak hanya memiliki tradisi seni yang panjang, tetapi juga ekosistem seni kontemporer yang terus bergerak. Salah satu tempat untuk melihat perkembangannya adalah Jogja National Museum (JNM), yang menempati kompleks bekas Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang berdiri pada 1950 dan kemudian menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain sebelum menjadi bagian dari ISI Yogyakarta. Setelah kampus ISI berpindah ke lokasi terpadu pada 1998, kompleks tersebut sempat terbengkalai sebelum dihidupkan kembali sebagai Jogja National Museum pada 2006.
Kini, JNM berfungsi sebagai ruang publik sekaligus kantong aktivitas seni dan budaya, dengan perhatian khusus pada seni rupa kontemporer Indonesia. Programnya tidak terbatas pada pameran, tetapi juga mencakup diskusi, seminar, lokakarya, program residensi seniman, hingga berbagai kegiatan lintas disiplin. Kompleks seluas sekitar 1,4 hektare ini juga terus berkembang dengan fasilitas seperti JNM Bloc, ruang musik dan podcast, panggung seni, serta ruang publik lainnya. (chs)

