Interview

5 Tempat Liburan Favorit Nadine

Nadine Chandrawinata kala pemotretan untuk DestinAsian Indonesia di Bukit Cinta, Taman Nasional Komodo.

Oleh Reza Idris

[dropcap type=”default”]P[/dropcap]utri Indonesia bertugas menciptakan perubahan, dan Nadine adalah satu dari segelintir yang masih konsisten menjalankannya—bahkan setelah status Putri Indonesia dilepaskannya. Kita pun lebih mengenalnya sebagai aktivis. Mengandalkan paras dan popularitasnya, Nadine giat menyuarakan perlindungan biota laut, dari karang hingga hiu, melalui berbagai forum dan akun media sosial. “Saya berbicara lantang tentang lingkungan,” ujarnya. “Kadang tidak tahu arahnya ke mana, tapi saya hanya ingin melakukan sesuatu yang membuat diri saya senang, tenang, dan lebih bernilai.”

Pilihan hidup itu sepertinya terkait pengalaman masa kecil. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Nadine selalu ditanamkan kecintaan pada lingkungan oleh orang tuanya. Mereka kerap berwisata ke alam terbuka hampir tiap akhir pekan. “Biasanya pergi piknik atau ke pantai,” kenang wanita kelahiran 1984 ini. Dia juga masih ingat kebiasaannya mengoleksi sampah ketimbang kerang yang bertaburan di pantai. “Sampah itu saya tempel-tempel menjadi lukisan.”

Usai meraih predikat Putri Indonesia pada 2005, gairahnya melindungi alam berkembang menjadi “pekerjaan.” Wanita blasteran Jerman ini menjalankan masa dinasnya dengan fokus pada isu-isu lingkungan. Di periode ini pula Nadine berkenalan dengan dunia selam. Dia rajin menyambangi alam bawah laut Indonesia, mulai dari Derawan, Lombok, Samalona, hingga Raja Ampat. “Menyelam membuat saya selalu merasa damai. Ini juga cara terbaik untuk introspeksi diri dan menghargai apa yang kita punya. Kita begitu kecil di alam yang luas.”

Dari hobi selam pula Nadine membangun reputasi baru. Dara setinggi 174 sentimeter ini bukan cuma dikenal sebagai selebriti yang selalu tampil dengan riasan wajah, tapi juga petualang laut yang tak ragu diterjang arus. Tampaknya itulah alasan sejumlah lembaga melamarnya sebagai duta. Kabupaten Wakatobi misalnya, menobatkan Nadine sebagai Duta Ekowisata Taman Nasional Wakatobi. Tugasnya adalah mendukung konservasi terumbu karang dan mempromosikan Wakatobi sebagai destinasi selam. “Saya memiliki visi bagaimana daerah tersebut dapat meningkatkan pendapatan dari pariwisata,” kata Nadine.

Nadine juga tergabung dalam Suporter Kehormatan WWF-Indonesia. Pemeran dalam film Realita, Cinta dan Rock’n Roll ini mengunjungi sejumlah taman nasional, mengenal permasalahan di sana, lalu mengajak publik untuk ikut peduli. Bersama tiga selebriti lainnya, dia juga didaulat menjadi anggota WWF Warrior. Misinya adalah mengampanyekan penyelamatan satwa Indonesia yang berstatus terancam. “Saya fokus pada penyu karena banyak kegiatan saya berhubungan dengan marine,” katanya.

Terakhir, Nadine bergabung dengan organisasi SaveSharks Indonesia. Dilandasi keprihatinan atas pembantaian hiu di Indonesia, dia bersama komunitas penyelam gencar mengampanyekan penghentian konsumsi sirip hiu. “Saya sudah sampai titik di mana saya harus bicara bagi satwa yang tidak bisa bicara,” ujar wanita yang hobi menulis ini.

Status Putri Indonesia membuka pintu bagi banyak peluang, mulai dari menjadi pengusaha hingga anggota DPR. Tapi Nadine lebih memilih berjuang memproteksi ekologi bumi. Berikut lima lokasi yang menyadarkannya bahwa bumi memang layak dilestarikan. >>

Kiri-kanan: Pekerja membersihkan kubah kuil Boudhanath di Kathmandu, Nepal; ratusan burung merpati di sebuah kuil tua di Kathmandu, Nepal.

Nepal
Bukan tempat ideal bagi penyelam, tapi pastinya surga bagi pendaki gunung. Negara tanpa pantai ini dipagari Pegunungan Himalaya, rangkaian puncak bercaping salju yang menusuk langit dan memisahkan Tibet dari Subkontinen India. Jalan di kota-kota di Nepal umumnya ramai oleh kendaraan dan bising oleh teriakan klakson. Namun, cukup membelot beberapa menit dari jalan, kita akan menemukan desa-desa pegunungan yang senantiasa dibalut keheningan. “Berada di sana, saya selalu merasa damai. Tempat yang memiliki energi bagi saya,” kata Nadine. Dia pertama kali mengunjungi Nepal empat tahun silam untuk syuting film Sagarmatha bersama sekumpulan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta. “Dari situ saya juga belajar cara mengepak tas layaknya Mapala,” kenangnya. >>

Barisan pulau di dekat Pulau Penemu, Raja Ampat.

Raja Ampat
Kepulauan di Papua Barat ini kerap dijuluki ibu kota selam dunia. Raja Ampat disusun oleh lebih dari 600 pulau. Lautnya didiami sekitar 1.300 spesies ikan karang, sedangkan hutannya ditinggali satwa ikonis cenderawasih. “Di Raja Ampat, saya bisa mendapatkan semuanya. Laut, perbukitan, gunung, budaya, serta flora dan fauna,” ujar Nadine. Di tempat ini pula dia mengelola sebuah penginapan berkonsep ramah lingkungan—Raja Ampat Dive Resort. Sesuai namanya, properti yang dibangun dari materi daur ulang ini membidik para penyelam. “Saya ingin memiliki rumah yang menghadap laut, tapi tak mau kehilangan hobi menyelam. Saya mendirikan resor di Raja Ampat karena tempat ini sudah memberi segalanya.”

Kepulauan Natuna
Letaknya sekitar 500 kilometer di utara Singapura. Kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau ini terdiri dari 154 pulau, tapi hanya 27 di antaranya yang berpenghuni. Walau lanskapnya menawarkan begitu banyak wadah liburan, Natuna ternyata masih berada di luar radar mayoritas petualang. Turisnya sangat minim dan pariwisata belum berkembang. Namun Nadine berhasil menemukan alasan kenapa Natuna sangat layak dijelajahi. “Kepulauan ini menyimpan kisah sejarah yang kuat,” ungkapnya. Di perairannya, penyelam bisa menemukan puing-puing yang menceritakan masa silam kepulauan di Laut Cina Selatan ini, mulai dari bangkai kapal, artefak perang, hingga kawanan barakuda dan karang yang tak kalah menawan dibandingkan Wakatobi. >>

Turis berkuda di Taman Nasional Goreme, Cappadocia, Turki.

Cappadocia
Kawasan ini dihuni manusia sejak abad ke-4. Mereka menciptakan sebuah permukiman di perut bebatuan yang membentang dalam formasi unik. Ada yang berbentuk cerobong asap, pilar, kubah, serta piramida dengan ketinggian hingga 40 meter. Bukan tanpa alasan UNESCO menobatkannya sebagai Situs Warisan Dunia. Cappadocia terletak di Provinsi Nevşehir, sebuah destinasi wisata terkenal di kawasan Central Anatolia, Turki. “Di sini, untuk pertama kalinya saya naik balon udara,” kata Nadine. Tur dengan balon udara memang aktivitas yang paling ideal untuk menyerap lanskap dramatis Cappadocia. “Rasanya seperti menyelam, tapi menyelam di udara.” >>

Yogyakarta
Tak banyak yang membayangkan Yogya ternyata menawarkan petualangan yang menyulut adrenalin. Nadine menemukannya di Gunungkidul, kawasan batu kapur di tenggara Yogya. Di rahimnya terdapat kompleks gua yang mengular ke banyak arah. Salah satunya bernama Gua Jomblang. “Saya selalu terpukau setiap kali melihat gua tersebut,” kata Nadine. Jomblang adalah gua vertikal yang menampung hutan di dasarnya. Untuk memasukinya, caver meluncur dengan berpegangan pada seutas tali. Obyek favorit Nadine lainnya di Gunungkidul adalah Gua Pindul, rangkaian tujuh gua yang membentuk sungai bawah tanah. Di sini, pengunjung bisa menyusuri sungai sepanjang 300 meter menggunakan perahu berbentuk ban dalam, aktivitas seru yang lazim disebut cave tubing.

 Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2014 (“Advokat Alam”)