The Wandering
“Salah satu novel paling unik yang pernah saya baca,” jelas Maesy tentang The Wandering, novel karya Intan Paramaditha, yang terbit perdana dengan judul Gentayangan. Tokoh utamanya perempuan Indonesia yang membuat perjanjian dengan iblis agar bisa bertualang ke penjuru bumi, sementara format narasinya “pilih-sendiri-petualanganmu,” artinya pembaca diajak memilih ke mana “aku” sang tokoh akan pergi: Berlin atau New York, menjadi turis atau migran, ibu atau pembunuh. Novel ini, tambah Maesy, “mengajak pembaca memikirkan apa arti perjalanan, privilese, dan pilihan bagi perempuan dari negara Dunia Ketiga.”

A Simple Story: The Last Malambo
Berbekal pengalaman panjang sebagai jurnalis, Leila Guerriero, wanita kelahiran Argentina, melahirkan karya-karya yang memperkenalkan kita dengan politik, budaya, dan gaya hidup kawasan Amerika Latin. Dalam A Simple Story, dia membawa pembaca melawat Laborde, desa terpencil di Argentina yang menggelar kejuaraan nasional tari malambo saban tahunnya, lalu menceritakan bagaimana tari malambo menjadi simbol kehormatan para pemuda. “Ini salah satu non-fiksi naratif paling apik yang pernah saya baca,” tambah Maesy. “Leila Guerriero membuat saya jatuh cinta pada tari malambo—tari yang belum pernah saya lihat!”

South and West: From a Notebook
Buku ini berisi kumpulan catatan perjalanan Joan Didion selama road trip bersama suaminya di Louisiana, Mississippi, Alabama, dan California pada 1970-an. “Membaca buku ini rasanya seperti mengintip proses berpikir Didion sebagai seorang jurnalis,” jelas Maesy. “Catatannya dipenuhi potongan percakapan, obrolan yang didengar sambil lalu, wawancara, serta pengamatan pada denyut nadi kota-kota di selatan Amerika Serikat.” Didion, wanita kelahiran 1934, hingga kini telah menghasilkan 18 buku fiksi dan nonfiksi. Dia dikenal sebagai tokoh “new journalism,” yakni teknik penyampaian berita dengan gaya tutur naratif dan sastrawi. Kisah sang penulis diabadikan dalam dokumenter Netflix berjudul Joan Didion: The Center Will Not Hold.

Every Day Is for the Thief
Salman Rushdie memuji Teju Cole sebagai “bagian dari kelompok penulis paling berbakat di generasinya,” dan Every Day Is for the Thief adalah novel debut dari penulis blasteran Nigeria-Amerika ini. Novel semi-autobiografi ini memuat kisah seorang pria Nigeria yang menetap di New York City, lalu mengunjungi Lagos dan merasa gamang usai menyadari “rumah” justru menjadi tempat asing yang mesti dikenalinya kembali. “Ini bukan cerita romantis tentang jatuh cinta kembali kepada rumah yang lama ditinggalkan,” ujar Maesy, “namun pengakuan jujur tentang kecenderungan meromantisasi kampung halaman.”

Insomniac City: New York, Oliver Sacks, and Me
Kombinasi antara memoar dan buku foto, Insomniac City memuat kisah cinta romantis antara Bill Hayes dengan New York dan Oliver Sacks, tetangganya yang bekerja sebagai penulis dan ahli saraf, dan kebetulan juga mengidap insomnia. “Sudah ada banyak buku tentang New York,” jelas Maesy, “tapi memoar ini adalah salah satu cerita New York yang paling intim, lembut, dan tenang.” Dalam aspek visual, Insomniac City juga memperlihatkan pendekatan Bill sebagai seorang street photographer.  

 

Maesy Ang
Maesy mengelola POST, toko buku independen dan penerbit mikro di Pasar Santa, Jakarta. Bersama Teddy W. Kusuma, dia telah menerbitkan memoar perjalanan The Dusty Sneakers dan novela Semasa. @maesy_ang