Vila dengan arsitektur uma mbatangu khas Sumba di Lelewatu. (Foto: Lelewatu)

Sejak dulu, magnet Sumba Barat tak pernah berubah: tradisi megalit, perang Pasola, serta ombak selancar. Akan tetapi, dalam hal koleksi hotel, kawasan ini sekarang punya tawaran yang lebih variatif.

Sebelum tahun 2000, hanya ada dua jenis akomodasi di Sumba Barat: pondok murah meriah dan vila yang sangat mahal. Kini, turis bisa menemukan opsi yang lebih beragam, termasuk penginapan untuk keluarga.  

Kolam renang di Sumba Nautil, properti bersahaja di Lamboya. (Foto: Sumba Nautil)

Sumba Nautil Resort
Tarif: Rp1,9 juta 
Dibandingkan para tetangganya, Sumba Nautil tampil lebih bersahaja, dengan tarif yang lebih murah. Lokasinya di bukit yang menghadap Pantai Marosi—kawasan elok yang dalam beberapa tahun lagi mungkin akan berubah jadi kompleks resor, berhubung banyak lahan di sini telah dibeli oleh investor (kabarnya, termasuk grup Aman). Selain 14 pondok guyub, Sumba Nautil menawarkan kolam renang yang menatap pesisir bertebing, serta tur trekking ke pantai-pantai dan desa-desa sekitar. Desa Patiala Bawa, Lamboya, Sumba Barat; sumbanautilresort.com

Interior vila satu kamar di Lelewatu, resor yang dirancang oleh arsitek kondang Popo dan Melati Danes. (Foto: Lelewatu)

Lelewatu
Tarif:
Rp3,3 juta
Di lahan 10 hektare yang menatap laut, Lelewatu menaungi 27 vila berisi satu hingga empat kamar. Desainnya terinspirasi uma mbatangu, rumah vernakular khas Sumba. Seluruh vilanya dilayani butler dan dihiasi ornamen tenun lokal; hampir semuanya dilengkapi kolam renang privat. Kendati berstatus pendatang baru, Lelewatu sebenarnya digarap oleh pemain lama di industri perhotelan. Pemiliknya, Jenny Tan, mengelola The Wolas Villas dan Sense Sunset Seminyak. Desain resornya juga ditangani oleh arsitek berpengalaman: Popo dan Melati Danes, yang pernah menggarap Hanging Gardens dan Kaba Kaba Estate. Jl. Lelewatu 168, Wanokaka, Sumba Barat; lelewatu.com

Alamayah, resor pendatang baru di Sumba, menampung hanya enam suite. (Foto: Alamayah)

Alamayah
Tarif:
Rp5,5 juta 
Resor muda hadir di momen yang berat: awal 2020, saat Covid-19 menjalar ganas. Dibandingkan para seniornya, Alamayah (gabungan kata “alam” dan “ayah”) menyuguhkan desain yang lebih modern: rumah gedongan bergaya Mediterania dengan sentuhan tropis. Resor butik ini menaungi hanya enam suite dengan luas mulai dari 43 meter persegi, masing-masingnya ditaburi kriya lokal dan dilengkapi teras fotogenik. Alamayah bersemayam di dekat Pantai Kerewei, lokasi selancar yang populer di Sumba. Desa Patiala Bawa, Lamboya, Sumba Barat; alamayah.com

Berkuda, salah satu aktivitas yang ditawarkan Nihi Sumba. (Foto: Alexandre Santos/Nihi Sumba)

Nihi Sumba
Tarif: Rp9,9 juta
Resor senior di Sumba ini dirintis pada 1998 dengan nama Nihiwatu. Lokasinya di lahan pesisir yang sakral bagi penganut kepercayaan lokal Marapu. Selain selancar, kegiatan yang ditawarkannya antara lain berkuda di pantai, memancing di Sungai Wanokaka, serta menonton atraksi “perang” kavaleri Pasola. Pada 2012, resor ini berganti manajemen dan nama, lalu kian agresif berekspansi menambah koleksi vilanya. Tarifnya merupakan yang termahal di Sumba, bahkan salah satu yang termahal di Indonesia. Namun, di musim sepi turis, pemiliknya rutin melansir paket menginap dengan bonus menarik. Hoba Wawi, Wanokaka, Sumba Barat; nihi.com