Oleh Reza Idris

Sulit menemukan bar yang dirancang khusus untuk kaum pria di Jakarta. Kami berkeliling Jakarta untuk menemukan bar-bar yang menawarkan pilihan wiski menarik serta koleksi cerutu yang impresif. Berikut empat rekomendasinya.

Menu koktail yang ditawarkan terinspirasi era 60 dan 70-an di Amerika.

Speakeasy
Masuknya lewat pintu rahasia. Daftar minumannya disamarkan bungkus vinil. Speakeasy seperti tempat klandestin di era Prohibition, sebuah masa di Amerika di saat minuman beralkohol diharamkan. Dan citra “bar gelap” itu memang disengaja: Speakeasy tersembunyi di dalam restoran bernama Prohibition Chophouse. Desain art deco mendominasi interiornya: dinding bata merah, lampu temaram, terali baja. Sejalan dengan desainnya, daftar minumannya terinspirasi era Prohibition. Pimm’s Number 1 misalnya, hadir  dalam wadah miniatur bak mandi yang merepresentasikan proses pembuatan minuman keras di zaman tersebut. Koleksi cerutunya tak kalah impresif: 11 jenis cerutu buatan Kuba dan Amerika. Salah satu koleksi terbaiknya, Romeo Y Julieta Duke 2009, diracik dari tembakau berusia dua tahun. Plaza Senayan Arcadia Lt.2, Unit X215-217; Pintu 1, Senayan; 021/5790-1295.

Koleksi wiski di Bugsy’s.

Bugsy’s
Persinggahan ideal bagi penggemar film mafia semacam The Godfather. Interiornya menyuguhkan poster-poster tokoh mafia legendaris, pajangan kepala Don Corleone, taburan sofa kulit gelap, serta rak kaca berisi wiski premium semacam Macallan dan Yamazaki. Nama Bugsy’s dipinjam dari nama Bugsy Siegel, mafia tersohor Amerika yang mendirikan Flamingo Casino di Las Vegas. Tempat ini mengoleksi beragam cerutu, mulai dari Cohiba Behike, Fonseca, hingga produk lokal Wismilak Tubo. “Di sini kami coba suguhkan aneka karakter, dari yang ringan hingga berat,” ujar Hartanta Ginting, Operations Manager. Katanya, wiski Jepang kerap menjadi mitra minum favorit tamu untuk menemani sebatang cerutu. Jika area duduk utama terlalu riuh, Bugsy’s memiliki zona privat yang berkapasitas 15 orang dan menawarkan sofa kulit bergaya Tom Dixon. Plaza Senayan Lt.4; Jl. Asia Afrika, Senayan; 021/572-5570.

Koleksi cellar Artoz sangat impresif.

Artoz
“Tempat ini adalah suaka bagi mereka yang  ingin melepas penat dari stres sehari-hari  di Ibu Kota.” Itulah visi Gilles Marx, salah seorang pendiri Artoz. Atmosfer bar ini intim sekaligus flamboyan. Desainer interior Idris Samad merancang ruangan berlangit-langit rendah yang mengadopsi gaya American saloon era 60 dan 70-an.  Varian cerutu Artoz masih minim, tapi  koleksi cellar-nya sulit disaingi: sekitar 300 label wiski dan cognac premium. Koleksi andalannya antara lain Tesseron, Chase, Polugar, dan Potocky. “Minuman ini tidak tersedia di tempat lain. Hanya ada di sini,” ujar Umay sang bartender. Momen ideal untuk datang adalah saat  tempat ini menggelar whisky tasting, atau dari Senin hingga Kamis saat area tengah bar mementaskan jazz. Tawaran lain Artoz adalah tapas atraktif yang  dikonsep oleh Koki Gilles Marx. Energy Building Level 2; Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52-53; 021/2995-9050.

Desain yang kental dengan nuansa steampunk.

Hide & Seek Swillhouse
Berstatus pendatang baru di sarang hangout Fairgrounds, Hide & Seek tampil sekuat tenaga untuk menyaingi para senior semacam Potato Head Garage dan Lucy in the Sky. Sarang nokturnal ini menyuguhkan bar yang lapang, barisan sofa, serta meja biliar dan panggung musik. High Street Studio, firma yang pernah menangani Stark Bierhaus, menciptakan interior yang melemparkan imajinasi kita ke era Steampunk. Mural bergaya industrial melekat di sisi ruangan, sementara mosaik komponen mesin bertindak sebagai latar bar. Hide & Seek mengoleksi sekitar 120 label wiski dan lima jenis cerutu Partagas. Tempat ini juga memiliki sebuah restoran yang meramu menu-menu tapas dalam porsi royal.  Sajian andalannya antara lain beef enoki cheese dan crispy squid head. Fairgrounds, SCBD Lot 14; Jl. Jenderal Sudirman; 021/5150366; hideandseek.co.id.