Dalam Serentaun, ikat-ikat gabah hasil panen diarak keliling kampung sebagai ungkapan syukur;

Oleh Fatris MF
Foto oleh Yoppy Pieter

Kereta saya tiba di Bogor, sebuah kota di provinsi dengan populasi terbanyak di Indonesia, di mana empat juta penduduknya masuk kategori miskin. Dari sini, saya akan menuju ke Ciptagelar, sebuah perkampungan yang tersohor akan kekayaan hasil buminya.

Meninggalkan gerbong sesak, saya berpindah ke bus sepi menuju Pelabuhan Ratu di tepi selatan Jawa. “Pasti ingin selimut,” ujar seorang pemuda ketika saya tiba di gerbang terminal pelabuhan. “Mau selimut seperti apa? Usia sekolah ada, cantik, cuma agak lebih mahal.”

“Yang bujang ada?” timpal saya. Sang germo terpingkal. Aroma tajam tembakau berkesiur. Terminal ini ternyata masih melestarikan kehidupan malamnya yang suram.

Usai menginap semalam di Pelabuhan Ratu, tanpa “selimut,” Ujang Cengkuk menjemput saya pagi harinya. Membonceng sepeda motor, saya menyusuri jalan yang mengocok perut. Nyaris seluruh badannya somplak dan berlubang, sementara tanjakannya penuh batu. Jurang dan ban sepeda motor saya hanya dipisahkan oleh sejengkal jarak. Benar-benar sejengkal, tanpa pembatas pula. Begitu kronis kerusakannya hingga menuliskan kondisinya saja menguras tenaga.

Kian lama, sepeda motor keluaran Jepang ini kian kepayahan. Mesinnya mendengung panjang di pendakian dan melenguh kelu di turunan. Michio Suzuki barangkali tak menyangka mesin buatannya sanggup melaju di jalan yang sepertinya habis diganyang gempa ini.

Setelah lima jam terguncang, saya akhirnya tiba di tujuan. Di hadapan bertaburan rumah beratap daun kirai bercampur ijuk. Di sekeliling, jalan-jalan kecil berliku menghubungkan kampung-kampung kecil yang bertetangga. Sawah luas membentang, kadang membentuk jenjang-jenjang landai pada pinggang perbukitan. Musim panen masih berbilang bulan. Ujang Cengkuk pergi. Malam datang. Halimun turun bersama dingin.

Kiri-kanan: Seorang wanita menyimpan ikat-ikat gabah di lumbung tradisional sebagai tabungan pangan Ciptagelar, komunitas adat yang menaungi 568 kampung; ikat-ikat gabah yang siap disimpan di lumbung.

“Beras, padi, adalah istri, ia adalah ibu. Apa kau mau menjual ibumu sendiri? Istrimu?” Karma langsung berfilosofi pada menit pertama saya bertamu ke rumahnya. Lelaki tua dengan tatapan was-was bak petarung ini tampak serius dengan kata-katanya.

Karma sedang berteori tentang padi. Tumbuhan yang tak semata mengusir lapar, tetapi juga memikat mitos. Tumbuhan yang sejak belasan ribu tahun lalu tumbuh di lahan-lahan subur Asia. Tumbuhan yang kini memasok perut lebih separuh warga bumi.

Di Asia Tenggara, kata sejarawan Anthony Reid, beras adalah bahan makan yang paling pokok. Mungkin ada makanan pokok yang lebih tua, semacam umbi-umbian atau biji-bijian lain. Tapi, pada abad ke-15, padi telah menjadi tanaman yang lebih disukai dan bisa tumbuh subur di kawasan ini.

“Tapi pengekspor padi terbesar ialah Jawa,” kata Reid lagi, pada zaman yang disebutnya Kurun Niaga (1450-1680). Beras merupakan komoditas terbesar di Asia Tenggara, dan Banten berkembang jadi salah satu produsen utamanya pada 1630. “Hampir tidak bisa dipercaya mengetahui arus-arus sungai mana saja yang telah mereka bendung, dan betapa suburnya tanah persawahan yang mereka [orang Banten] miliki,” catat seorang pelancong Belanda pada 1630, sebagaimana dikutip Reid.

Kita memang tidak berhasil mengetahui apa pun mengenai orang-orang yang pertama kali menemukan padi, juga bagaimana rumput liar ini kemudian menjadi begitu jinak sehingga bisa dibudidayakan manusia. Tapi “jinakkah” padi kini bagi kita?

Produksinya nyaris tak bisa dijinakkan. Rencana-rencana swasembada bisa ambruk oleh wabah dan bencana—dan akibatnya bisa fatal secara politis. Beras adalah topik yang hangat saban tahun, apalagi di musim kampanye saat para politisi berkoar soal perut rakyat yang lapar. Memastikan produksi beras adalah tanggung jawab negara, dan beban itu diletakkan pada pundak kaum petani di desa-desa.

“Saya tidak tahan di kota. Banyak lalat, udaranya buruk,” Karma melanjutkan. Dia meneguk kopi saset. Asap tembakau tak hentihentinya mengepul dari hidung dan mulutnya. Dari arah lain, terdengar suara liuk perempuan, dendang-dendang tentang rasa syukur dalam bahasa Sunda yang ditingkahi suara angklung. Dingin kini menusuk hingga persendian.

Kiri-kanan: Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, pria 33 tahun yang menjabat Ketua Adat Kasepuhan Ciptagelar sejak 2007; ayam-ayam putih sarana ritual Salamet Rasul dibawa ke Imah Gede untuk kemudian diberkahi dan disembelih.

Di luar rumah Karma, para lelaki dan perempuan setengah uzur sedang “berpesta.” Ada yang berjoget dengan tingkah polah aneh, kemudian tertawa-tawa. Tembang silih berganti membelah dingin malam. Kampung di ketinggian seribu meter ini sedang berbahagia. Sejak pagi, laki-laki dari pedesaan di lembah-lembah sekeliling kasepuhan datang membawa ikatikat padi, yang kemudian disebar di lesung dan ditumbuk dengan alu oleh perempuanperempuan dalam prosesi yang penuh canda.

“Orang kota tidak akan paham. Kota itu perlunya uang, uang, uang. Di sini tidak perlu uang. Tapi di sini semua ada,” Karma mulai meninggikan nada bicaranya. Kadang dia menggerutu. Matanya menatap tajam. Batok kepalanya dililit kain batik. “Kepala mesti dilindungi,” katanya lagi, usai menyadari saya sedari tadi memperhatikan udengnya, kemudian ujung-ujungnya menagih: “Kenapa tidak membawa rokok?” Ternyata, tidak semuanya ada di sini, pikir saya.

Ciptagelar, kampung yang dihuni Karma, berstatus kasepuhan. Namanya berarti “kampung kuno.” Sebuah kampung adat setengah urban di pinggang Gunung Halimun. Sebuah kampung yang dianggap memelihara tatanan leluhur. Entah leluhur yang mana. Ciptagelar baru belasan tahun menghuni lahan ini, walau riwayatnya dipercaya menembus enam abad.

Tapi jangan berpikir “kampung kuno” yang menganut tatanan purba ini ketinggalan zaman. Ciptagelar memiliki radio dan stasiun televisinya sendiri. Untuk kebutuhan energi, warga mengoperasikan turbin yang menjamin listrik mengalir 24 jam. Kendati terpisah hanya 175 kilometer dari Istana Merdeka, kasepuhan ini beroperasi layaknya teritori yang mandiri dan berdaulat.

Baca juga: 200 Tahun Kebun Raya BogorPintu Pertama Masuknya Islam ke Indonesia

Ciptagelar menaungi 568 kampung yang terkurung dalam ceruk lembah dan tersebar di tiga kabupaten: Sukabumi, Bogor, dan Lebak. Secara geografis, wilayah adat ini menempati area taman nasional. Dulu, pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial datang ke sini untuk mengeruk emas. Konon masih banyak emas di bawah tanahnya. Tapi tulisan ini tidak tentang emas, melainkan beras, komoditas yang di masa depan mungkin sama mahalnya dengan emas.

“Per ikat kira-kira tiga hingga tujuh kilogram. Kasepuhan memiliki lebih dari 10.000 lumbung. Masing-masing lumbung berisi 5.000-6.000 ikat,” Yoyo Yogasmana dengan intonasi datar membeberkan angka-angka ketika saya menginap di rumahnya. Semacam menteri luar negeri tak resmi, dia mengaku sebagai penyambung lidah antara kasepuhan dengan publik eksternal, termasuk saya.

Rumah-rumah dengan latar perbukitan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Saban tahunnya, kata Yoyo lagi, lumbung di sini terus bertambah, dan konsumennya bukan hanya warga setempat. “Tahun 80-an, ketika Ethiopia dilanda kelaparan dahsyat, berkontainer-kontainer beras dikirim dari sini. Bukti-buktinya masih tersimpan di Imah Gede,” katanya. Tapi jangan mengira kasepuhan ini menjalankan bisnis ekspor. Beras yang dikirimnya bukanlah bagian dari aktivitas perdagangan, melainkan sumbangan. Sesuai aturan adat, beras tidak boleh diperjualbelikan.

“Menjual padi, beras, berarti menjual kehidupan. Ini dosa besar yang sama dengan membunuh. Hukumannya harus dibayar, ditebus. Tujuh generasi yang menanggung dosanya,” jelas Yoyo dengan nada datar. Penjelasannya mirip dengan Karma, tapi bedanya Akang Yoyo berbicara tenang seperti air dalam tempayan.

Yoyo, awalnya, bukanlah pemuda yang hidup dari bertani. Dia seniman asal Tasikmalaya yang pernah menjajal panggung-panggung di luar negeri, dari Taiwan hingga Kanada. Lama berkelana, termasuk mengikuti residensi di New York pada 2005, Yoyo akhirnya memutuskan mudik dan menetap di Ciptagelar dengan niat “mencari akar kebudayaan sendiri.”

“Indonesia tidak pernah mengurus masyarakatnya. Sistem pendidikan ngaco,” Yoyo mulai melebar dari tema diskusi. Ramalan Joyoboyo, Ronggowarsito, Prabu Siliwangi, hingga kesultanan yang ambruk, semua disebutnya hingga saya tidak ingat lagi di mana ujung kata-katanya. Mencoba kembali ke topik, saya bertanya soal pendapatan per kapita warga.

“Apa? Pendapatan per kapita?” Umi Kusumawati, istri Yoyo menimpali pertanyaan saya yang dianggapnya janggal. “Di sini ada begitu banyak tanaman selain padi, dan itu bebas dijual. Dari mana masyarakat di sini dapat uang? Orang kota juga gak jual beras, nah, dapat uangnya dari mana? Sama!”

Tapi apa yang membuat Ciptagelar sanggup menjaga swasembada pangan di negeri yang berulang kali mengimpor beras ini? Kata Yoyo, pada 2015, saat ribuan hektare lahan gagal panen akibat El Nino, sawah di Ciptagelar tak terusik. Apa resep warga dalam menghadapi pemanasan global? “Abah adalah sentral spiritual di sini, segala urusan hidup ada pada Abah. Itu mesti ditanyakan pada Abah,” jawab Yoyo, kemudian mengingatkan saya: “Syaratnya dibawa, kan?”

Kiri-kanan: Seorang pria membawa bambu berisi nira sebagai bahan baku gula aren—salah satu hasil bumi yang boleh diperjualbelikan; memasak nasi di dandang dengan kompor kayu bakar adalah bagian dari tradisi warga demi menjaga konsistensi rasa.

Sebagai tamu, saya harus melapor ke Abah (secara harfiah berarti “ayah”), sosok yang menurut Yoyo merupakan titik sentral spiritualitas. Berjalan ke kediamannya, saya membawa “syarat” selembar uang Rp50.000 dan dua bungkus Djarum Super kesukaan Abah.

Imah Gede adalah bangunan kayu yang kelewat mewah untuk dataran tinggi yang dikepung sawah ini. Dindingnya ditaburi foto tokoh politik yang pernah bertamu, serta plakat pemberian sejumlah kampus, dari yang terkenal hingga yang tak pernah saya dengar namanya. Di ruangan tengahnya yang lapang, orang-orang lesehan, minum kopi, menonton sinetron pada saluran televisi Jakarta dengan mulut menganga. Saya membatin, bukankah Ciptagelar punya stasiun televisi sendiri?

Usai melewati ruang besar Imah Gede, saya memasuki lorong, menuju serambi di mana perangkat elektronik bertumpuk layaknya gudang di ruko-ruko Glodok. Di depan serambi, mobil-mobil gardan ganda terparkir. Kata beberapa orang, Abah menggemari benda elektronik dan mesin. Tiba di ruangan Abah, gitar listrik, lukisan, dan ukiran tergantung di dinding. Abah duduk di singgasananya: kursi kayu tanpa kaki dengan sandaran berukir.

Nama aslinya Ugi Sugriana Rakasiwi. Lelaki 33 tahun ini pernah kuliah hingga semester tiga di Bandung. Saat saya datang, dia sedang menunduk, membaca mantra dan doa dalam bahasa Sunda di hadapan seorang tamu laki-laki. Usai sesi doa, sang tamu menyalami Abah, beringsut, lalu digantikan lelaki lain, perempuan lain, keluarga lain, begitu seterusnya.

Seluruh tamu Imah Gede datang membawa “syarat.” Kadang ayam, kadang kemenyan, kadang bungkusan yang tidak jelas isinya. Tamu sangat banyak, berduru dengan urusannya masing-masing. Saya masuk daftar antrean entah nomor berapa. Untungnya saya diantar Yoyo, pejabat teras Ciptagelar, hingga saya bisa memotong antrean dan lebih cepat menemui Abah.

Wajahnya teduh dengan rona kulit terang yang dibingkai cambang dan jenggot. Kepalanya dibalut udeng hitam. Pakaiannya serba-hitam. Saya menghadap, melapor, memohon doa, dan meminta izin tinggal di kasepuhan yang dipimpinnya. Sejak usia 25 tahun, Ugi telah disapa “Abah” oleh ribuan warganya. Kata-katanya dipatuhi bak titah raja.

“Raja? Saya bukan raja. Mana prajurit saya? Saya hanya Abah,” dia tertawa. Asap keretek terembus dari mulutnya. Saya dapat jatah beberapa menit untuk menemuinya dan meminta doa. Doanya pun singkat: agar saya selamat di kasepuhan ini. Abah Ugi tampak sibuk dengan warga yang mengantre meminta petunjuk, doa, atau sekadar melaporkan keadaan desa. Di antara mereka ada seorang peneliti dan seorang periset musik asal Amerika.

Kiri-kanan: seekor ayam putih yang menjadi sarana ritual Salamet Rasul; jajaran lumbung tua di mana gabah disimpan.

Pagi hari berikutnya, lesung kembali berbunyi. Asap membubung dari tungku-tungku, berbagai penganan dibuat, segala puja-puji dimunajatkan. Hari ini saya mendapatkan lagi kesempatan sarasehan bersama Abah, dan kali ini saya punya waktu lebih banyak.

“Kasepuhan ini adalah titipan nenek moyang, dan kami menanam padi berdasarkan hitungan bintang. Tapi jangan pernah memaksa tanah. Kita tidak boleh serakah,” Abah menerangkan tentang manajemen wilayahnya.

Hari ini, dia dikawal oleh dua kakek berpakaian hitam. Katna, salah satunya, berkata: “Menjadi Abah itu memusingkan, seluruh warga melapor urusannya, bahkan suami yang ingin beristri lagi juga dilaporkan.” Kami mulai tertawa. Suasana kian hangat, walau dingin kembali merambat lewat celah-celah ventilasi.

Saya lalu bertanya tentang modernisasi di Ciptagelar. “Apa? Zaman modern? Listrik baik, ambil. Traktor tidak baik, [maka] kami tidak memakainya untuk mengolah sawah,” jawabnya sembari meletakkan smartphone di lantai. Memang, traktor dan mesin penggiling padi absen dari Ciptagelar, membuat kampung ini lebih erat didekap sunyi.

Lalu bagaimana dengan pariwisata? tanya saya lagi. Berkat alamnya yang asri, Ciptagelar masuk radar turis. Selain alam, Ciptagelar punya ajang syukuran tahunan Serentaun yang selalu ramai bukan kepalang. “Kita tidak mungkin melarang orang untuk datang ke sini,” jawab Abah dengan tenang dan diplomatis.

Ciptagelar memang tidak menolak turis, tapi juga tidak sudi menjadi objek wisata. Di waktu yang lain, Umi Kusumawati, istri Yoyo, bahkan sempat mengutarakan penolakannya jika Ciptagelar ditetapkan sebagai destinasi resmi oleh pemerintah. “Buat apa? Nanti akan ada ritual-ritual by request seperti daerah-daerah wisata lain,” katanya pedas.

Kiri-kanan: Seorang anak bermain jangkungan saat menyambut upacara Serentaun; sawah-sawah yang digenangi air di periode jeda pascapanen. Untuk proses penanaman padi berikutnya, warga menanti perintah dari Abah Ugi.

Kata warga, beberapa perusahaan, termasuk pabrik rokok dan panitia konser jazz, pernah berniat menggelar acara di sini. Tapi semuanya ditolak. “Sekali lagi, kami tidak menolak wisatawan yang menginap di sini,” tambah Umi, “tapi kok ada yang berani minta mandi air panas, dikiranya rumah-rumah ini hotel?”

Sawah yang berjenjang, lumbung yang berserak di penjuru kampung, masyarakat yang hidup dalam tatanan adat. Semuanya sempurna bagaikan lukisan Hindia Molek, gambaran haru-biru orang Eropa tentang eksotisme Timur. Duduk merenung di pematang, saat suara alu penumbuk padi berdentum seperti degup jantung, saya justru membayangkan kampung-kampung bertanah kering di timur Indonesia. Saya membayangkan betapa susahnya nasi di Kobror, Kei Besar, juga Lembata. Daerah ini memang sedari awal tidak ramah bagi padi. Warganya mesti menerjang lautan dan bertaruh nyawa demi mendapatkan pangan. Mereka sebenarnya juga bergantung pada kebaikan alam. Bedanya, warga Ciptagelar dipandang sebagai penjaga, sedangkan saudara-saudara pelaut nun di timur dicap sebagai pemburu.

PANDUAN
Rute
Wilayah adat Ciptagelar mencakup 568 kampung yang tersebar di tiga kabupaten: Sukabumi, Bogor, dan Lebak. Pusat kasepuhan terletak di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Berhubung kondisi jalan cukup runyam, sebaiknya gunakan kendaraan 4WD untuk menggapainya. Jika membutuhkan pemandu, hubungi Ujang Cengkuk (0838- 0534-8719). Ciptagelar tidak memiliki hotel, tapi Anda bisa menginap di rumah warga, salah satunya rumah milik Yoyo Yogasmana (0813- 1916-7450), “menteri luar negeri” tak resmi.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2018 (“Berdikari Pada Padi”)