
Oleh Fatris MF
Foto oleh Zulkifli
”Mau tahu sejarah Barus? Tepat kalinya itu, ini malam Jumat,” Kasman Sembiring memelototkan matanya. Wajahnya yang tadinya riang berubah tegang.
“Bawa dulu kemenyan putih, arang, batok kelapa, terus kertas sama pena. Jangan lupanya itu bakar kemenyan. Kosongkan pikiran. Nanti pena kau itu akan menulis dengan sendirinya,” Kasman mengembuskan asap tembakau ke udara November yang basah, lalu meneruskan ceritanya. “Yang menulis itu, kalok kau bisa lihat, cewek kurus, hidungnya mancung, kulitnya putih, rambutnya panjang.”
“Saya pernah lihat itu perempuan. Benar memang!” Marganda Tobing menyela sembari membenarkan posisi bangku panjang yang didudukinya. Perbincangan sejarah yang awalnya santai, kini meruncing ke persoalan pelik: dunia gaib. Marganda, yang sehari-harinya bekerja sebagai petugas keamanan, bahkan bertekad menulis buku sejarah Barus berdasarkan penerawangan gaibnya itu. “Sejarah Barus yang sebenarnya,” tegasnya dalam dialek Batak yang penuh penegasan.
Magrib sebentar lagi datang. Di seberang tempat kami berbincang, murid-murid SMA 1 Barus berhamburan dari gedung sekolah, berseliweran di jalanan basah, melewati jembatan licin yang mengangkangi Sungai Sirahar menuju perkampungan-perkampungan lengang. Dua siswa mampir di warung milik istri Kasman untuk membeli minuman dingin, lalu menyeruputnya dengan sedotan sembari berjalan dalam hujan. Danau-danau mini dan keruh mulai mengembang di muka warung.

Borumanulang, seorang petani di Desa Lobu Tua, permukiman yang dulu berstatus pusat kota Barus.
Sejarah Barus mungkin sama keruhnya dengan air kubangan itu. Kisahnya ditaburi catatan yang meragukan, berita yang simpang siur, juga rumor dari alam yang tak kasatmata. Untuk yang terakhir ini, saya urung membuktikan kebenarannya. Pembakaran kemenyan untuk menguak tabir sejarah Barus terpaksa ditunda akibat hujan yang tak kunjung reda.
Sore hengkang dan malam menyelinap di antara tetes hujan, mengirimkan kegelapan ke kota kecil di pesisir barat Sumatera ini. Kasman masih terdiam. Gadis berhidung mancung yang entah jin entah siluman, yang akan dipanggilnya untuk menuliskan sejarah, tidak kunjung tiba. “Bagaimana akan tiba kalau kemenyan belum menyala!” kata Kasman.
Gadis misterius itu mungkin tak pernah ada. Tapi sejarah Barus sesungguhnya sudah bisa diceritakan dari kemenyan di depan saya. Barus, kota dagang yang dulu kondang, kota dengan riwayat yang gilang-gemilang dan membentang hingga ke zaman Firaun, memulai riwayatnya memang dari kemenyan, juga kamper. Dua komoditas inilah yang membuat pamornya mencuat di masa silam.
Menurut Gusti Asnan, guru besar ilmu sejarah di Universitas Andalas, kemenyan dan kamper telah menjadi komoditas utama di sini sejak awal milenium pertama. Barus, tulis Sitor Situmorang dalam Toba Na Sae, Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX, telah berperan sebagai pelabuhan pengekspor kemenyan dan kamper sejak abad ke-5.
Banyak aspek dalam hidup Anda, sejak lahir hingga mati, membutuhkan kemenyan dan kamper—dan kemenyan dan kamper asal Barus (yang kemudian melahirkan istilah “kapur barus”) tersohor akan kualitasnya sejak lama. Sejarawan dari Universitas Sumatera Utara, J. Fachruddin Daulay, menyebut kapur barus pernah ditemukan dalam makam-makam tua Mesir sebagai pengharum mumi Firaun. Alquran juga sempat menyinggung kapur barus dengan menyebutnya “kafur” yang berarti “mata air dari surga.”

Berkat kemenyan dan kapur barus, Barus punya jejak dalam peta perdagangan global. Seperti Banda yang memproduksi pala atau Ternate yang menghasilkan cengkih, kecamatan di Tapanuli Tengah ini menjadi titik tolak bagi hasil bumi Nusantara untuk menjangkau tanah-tanah yang asing. Sejarah Barus adalah sejarah perjalanan panjang kapur barus selama ribuan tahun, yang di Barus sendiri sekarang pohonnya bagai raib dan asing.
Tapi bukan berkat komoditas semata Barus terkenal. Membuka riwayatnya, kota bandar ini juga menyimpan episode penting lain yang berpengaruh pada kehidupan Indonesia hingga hari ini. Sebuah episode yang mencengangkan, walau bisa juga meragukan.
Maret 2017, Presiden Joko Widodo melawat Barus untuk meresmikan Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara. Pemerintah percaya, di sinilah ajaran Islam pertama kalinya memasuki gugusan pulau di ekuator yang kemudian dinamai Indonesia. Barus menyambut tugu itu dengan pergelaran. Musik-musik Islam ditabuh, tambur-tambur besar dipukul, warna-warna Islam menyala menyapu kota. Setelah itu, Barus giat menengok masa lalunya kembali. Masa lalu sebagai titik pijak Islam pertama di negeri ini. Tapi betulkah? Di mana lokasi kampung-kampung Arab pertama di Nusantara itu?
Dalam The Preaching of Islam, T.W. Arnold menyebut pada 674 M di pantai barat Sumatera pernah hidup seorang pembesar Arab yang menjabat kepala daerah pendudukan bangsa Arab. Menurut Hamka, Islam sudah ada di Nusantara sejak abad ke-7, dan di Barus terdapat kompleks Mahligai yang menyimpan nisan kuno bertuliskan nama Syekh Rukunuddin yang wafat pada 672 M. Berdasarkan referensireferensi itukah Barus dinobatkan sebagai gerbang Islam Nusantara?
“Tidak ada bukti!” sanggah pakar sejarah Gusti Asnan. “Saya tidak pernah membaca catatan yang menunjukkan Islam di Indonesia disebarkan pertama kali lewat Barus.” Sejalan dengan Gusti Asnan, sejumlah pihak di Aceh juga menyanggah keras keputusan pemerintah dengan membeberkan kembali dokumen seputar jejak Islam yang lebih tua di Aceh. Di Indonesia, pelurusan sejarah memang proyek yang kelewat sensitif, apalagi pelurusan sejarah yang terpaut agama.

Tapi mungkin memang pernah ada kerajaan kuno Islam di Barus. Dalam The Suma Oriental, pengelana Portugis Tome Pires sempat menyinggung Kerajaan Panchur, walau dia tidak menjelaskan lebih jauh apakah rajanya berkiblat ke Kakbah. Dulu, tulis Pires lagi, Barus adalah kota persinggahan yang makmur, mengingat banyaknya benda berharga yang ditemukan di dalam tanah di ibu kota kunonya. Hasil-hasil penggalian para arkeolog di sini menemukan tembikar, piring, liontin cincin, prasasti Tamil, dan keramik.
Suatu malam, saya bertamu ke Istana Barus: sebuah rumah semi permanen yang terletak di pinggir jalan utama. Di sini, saya bertemu Maisura Pohan yang tengah duduk menemani anaknya yang terlelap. Di dekat keduanya, asap mengepul dari obat nyamuk bakar yang ditaruh di mulut botol.
Maisura, putri Raja Barus, hidup di rumah beratapkan seng dan berdinding kayu dan tripleks. Ayahnya, sang raja, berprofesi sebagai tukang urut. Saya hendak menemuinya, tapi dia tidak ada di rumah. “Tengah di Sibolga berobat diabetes,” kata Maisura. “Istana Raja di mana?” tanya saya lagi. “Istana sudah hanyut,” Maisura menyeringai.
“Dulu masih banyak barang-barang antik, sekarang entah ke mana, mungkin telah dijual ke pemburu barang antik,” jelas Maisura. “Hanya ada ini yang tersisa, tapi tidak boleh dibawa, ya.” Dia menyuguhi saya segepok kertas berisi ketikan, foto-foto, tahun-tahun dan silsilah-silsilah berangkai huruf Latin. Dia menunjukkan satu per satu moyangnya, opungnya, buyut segala buyut dalam kerajaan yang kini tersimpan dalam tumpukan kertas itu.
Maisura tak hidup layaknya anak raja. Kemiskinan telah merenggut kedigdayaan keluarganya. Barus telah jauh melewati masa keemasannya. Pamornya sebagai kota bandar sudah lenyap ditelan zaman. Akan tetapi, mulai tahun ini, kondisinya mungkin akan berbeda. Riwayat Barus kini ramai ditengok kembali. Tugu sejarah penyebaran Islam telah didirikan dan pemerintah setempat mungkin akan memakainya sebagai amunisi promosi pariwisata. “Selamat datang di Barus, Titik Nol Peradaban Islam Nusantara!” Wisata seperti apa yang akan ditawarkan?
“Ziarah!” R. Pasaribu menjawab tegas. Saya menemuinya di sebuah pelabuhan yang tidak lagi disinggahi kapal. Matahari memacak kekuningan di batas cakrawala. Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara menjulang di dekat pelabuhan, di tepi Kuala Barus yang di masa lalu menjadi tempat diangkutnya bahan pengawet dan parfum mumi melintasi benua.

“Pelabuhan ini bukan tempat masuknya Islam saja. Semua agama yang ada di Indonesia masuk lewat pelabuhan ini, termasuk Kong Hu Cu,” lanjut R. Pasaribu dengan nada bicara yang menolak perdebatan. Sesekali dia menarik tali pancing, mengumpulkan ikan seluas dua jari. R. Pasaribu, guru SD yang sebentar lagi pensiun, lalu menunjuk sebuah bukit dan berkata: “Di sana, di puncak bukit itu, semua misteri tentang Barus tersimpan. Di sana bersemayam seorang keramat!”
Tak jauh dari tempat R. Pasaribu memancing, bilah-bilah penjemuran ikan bertaburan di pantai dan ombak menampar-nampar tiang pelabuhan. Di warung-warung, laki-laki muda menyeduh kopi instan dan duduk bercerita. Di Barus, tuak memang tidak dijual telanjang, tidak seperti di kecamatan sekelilingnya yang dulu juga bernama Barus.
Azan zuhur berkumandang, tapi hempasan domino kian lantang dari tangan yang mempertaruhkan garis nasib dengan lembaran uang di warung reyot. Arus Kuala Barus makin kencang meluap ke warung, ke jalan-jalan, ke pesta perkawinan yang sedang berlangsung.
“Ini pintu gerbang Islam Nusantara, tempat pedagang Arab-Muslim melabuhkan kapal dan membangun perkampungan Islam, tapi sekarang tempat menambatkan perahu saja tidak ada,” kata Sahlan Simalulang, ketua pemuda kampung nelayan itu. “Kau tidak lihat itu, semua menganggurnya, tidak ada pekerjaan, melaut susah, banjir tiap sebentar.” Arus makin kencang, tamu di warung reyot bubar.
Di sebuah lapo, lelaki paruh baya Lasdel Simatupang sedang memasak anjing dengan campuran andaliman, bumbu warisan nenek moyang. Pagi baru saja dibuka, tapi lapo sudah ramai. Di dalamnya, segerombolan lelaki berbincang serius. Gitar, perkakas wajib di lapo, kini tergantung begitu saja pada paku, dan tak seorang pun berminat memetiknya.

Lapo adalah sebutan untuk warung yang menyediakan tuak. Tapi fungsinya bukan cuma menyuguhkan makanan dan minuman. Lapo jugalah sebuah episentrum kehidupan, tempat orang bercengkerama, bertukar informasi, serta bernyanyi. Kata anekdot setempat, kalau ingin membunuh orang Batak, pisahkan lapo dari kehidupan mereka. Saya datang pada waktu yang kurang tepat. Hujan tiada berhenti sejak subuh. Di tengah cuaca dingin begini, kedai tuak penuh sesak.
“Saya datang ke sini untuk mengetahui sejarah Barus,” kata saya memperkenalkan diri. Seluruh pelanggan di kedai ini saya traktir tuak murah seharga dua ribu rupiah per gelas. Di antara mereka ada Situa, Manulang, Marbun, dan Simatupang. Semuanya hanya menyebut nama marga. Bagi orang Batak, nama depan tabu bila disebutkan. Cuma Lasdel yang sudi memberitahukan nama depannya.
Pengunjung lapo berdebat seperti segerombolan pengacara. Lasdel menghidangkan gulai anjing, dan para tamu melahapnya sembari terus mengurai benang kusut sejarah. “Dulu sekali, Portugis jauh-jauh datang ke sini demi pohon kapur,” kata Situa dengan gigi yang tak seberapa. “Ah, mana mungkinnya, itu Jepang,” Manulang membantah.
“Kalau Jepang, mana mungkin di Barus ini ada benteng Belanda. Pastilah Belanda, opungku bilang begitu. Opungku tahu semua tentang Barus ini. Opungku juga bisa membedakan mana kayu yang mengandung minyak kapur dan mana yang tidak,” Marbun berorasi seperti ketua partai.
Lasdel hanya diam. Dia berjalan ke arah belakang laponya, lalu muncul lagi membawa sebuah botol mungil. “Ini minyak umbil, minyak pohon kapur. Ini lebih mahal dari kapur barus. Hanya tersisa sedikit ini pada saya. Dicampur tuak lebih bagus,” kata Lasdel. Ia meneteskan minyak dari botol itu ke jari saya. Saya menjilatnya. Tidak berapa lama, sesuai kata Lasdel, badan saya terasa lebih ringan.
“Apanya kubilang, ini obat. Itu pohon kapur, menampik segala ilmu jahat,” kata lelaki tua di pojok lapo. “Kalau tidak ditebang-tebang, ini pasti masih banyak,” kata lelaki lain yang baru datang dan langsung memesan segelas tuak. Tapi, sebagaimana zaman dan musim, pohon dan tanaman telah berganti. Masa kapur barus telah lama lindap, sementara zaman sawit dan karet menggeliat cepat.

“Bagusnya di mana? Sawit dan karet itu tidak ada harganya sekarang,” lelaki lain protes. Lasdel tersenyum mendengar perdebatan, lalu mengajak saya melihat pohon kapur yang tumbuh besar di belakang lapo. “Peneliti dari IPB Bogor, Jepang, Prancis, datang ke sini untuk meneliti pohon ini,” kata Lasdel.
Meninggalkan lapo, saya menembus jalan berliku yang digenangi lumpur. Saya sedang menuju kota masa lalu, menuju Barus yang sebenarnya. Namanya adalah Lobu Tua. Kata Claude Guillot, arkeolog Prancis, Lobu Tua adalah kota yang dihancurkan oleh sekelompok Gergasi pada awal abad ke-12. Gergasi? Raksasa hitam dan buruk rupa? Saya membayangkan Guillot menulis sambil menenggak tuak panas.
Tapi jangan-jangan Barus memang sebuah kota yang hilang, yang lenyap diserbu kekuatan besar yang entah siapa. “Mungkin yang dimaksud Gergasi itu adalah semacam metafora akan kekuatan yang lebih besar,” kata Gusti Asnan ketika saya tanyakan hal itu pada waktu yang berbeda. Sejarah Barus adalah pertalian yang erat antara realitas dan mitos. Memisahkannya sama seperti mengurai kembali air dan ragi pada tuak.
Melewati jalan licin, saya menuju ke Lobu Tua, kota yang menurut Guillot tidak lebih dari sebuah perkampungan yang dirundung sepi, lengang dengan rumah-rumah beratap kusam, sebagian besar berdinding papan, terselip di antara kakao, kelapa, sawit, dan karet.
Dalam Histoire de Barus: Le Site de Lobu Tua, Guillot menjelaskan kamper sudah dikenal sejak abad ke-6, mulai dari Tiongkok hingga kawasan Laut Tengah, tapi kisah tentang produsennya, Barus, terus dirundung ide-ide yang kabur. Di awal Masehi, kota ini telah dicatat dalam berbagai bahasa, seperti Yunani, Arab, Tionghoa, Tamil, Jawa, dan Armenia.

Saya menjejakkan kaki di Lobu Tua. Melihat saya yang kebingungan, setelah mengintip beberapa kali, seorang gadis melongok dari balik pintu, lalu menggiring saya ke belakang rumahnya untuk melihat lubang-lubang bekas galian. Seorang ahli linguistik, Van der Tuuk, pernah dikirim oleh Bijbelgenootschap (Perkumpulan Ahli Kitab Belanda) ke Lobu Tua untuk membeli benda kuno seperti koin emas, belasan cincin, serta prasasti dalam aksara Nagari dan Kawi.
“[Lubang-lubang] ini dulu ada orang Barat yang datang menggali. Banyak ditemukan barang antik di sini. Harganya mahal itu,” Ira Galingging mulai bercerita, lantas bertanya apakah saya juga ingin mencari barang antik.
Ira kembali mengajak saya menyusuri jalan licin. “Belum lama ini,” katanya lagi, “ada orang di Lombok yang bermimpi untuk membangun pelindung makam ini. Dan dia datang ke sini.” Ira menerangkan mausoleum Syekh Tombang di depan kami. Kuburannya dinaungi rumah beratap ijuk. Banyak hal-ihwal di Barus memang terpaut dengan mimpi, alam gaib, hal-hal ganjil yang sulit diterima akal.
Sejengkal dari makam sang syekh, lubang-lubang bekas galian ternganga. Saya membayangkan Guillot datang ke kota kuno ini pada 1995 dan mulai menggali. Ira masih seorang gadis kecil saat itu. Lobu Tua, tulis Guillot lagi,adalah kota kaya yang kini telah tenggelam. Ya, tenggelam, bukan karena dilahap Gergasi, tetapi dibenamkan oleh sawit. Siapa yang mengira kota kaya itu sekarang telah menjadi kampung yang terpinggirkan?
Pagi buta, ketika penduduk Barus masih terlelap, saya diam-diam mendaki ratusan anak tangga di lereng Bukit Papan Tinggi. Di puncaknya, saya mendapati sebuah kuburan sepanjang tujuh meter. Kata Ira kemarin senja, ini makam Syekh Mahmud. Sebelumnya, kata Pasaribu, ini makam keramat yang menyimpan rahasia sejarah Barus. Sejarah kamper? Ataukah sejarah penyebaran Islam?

Saya tidak mau lagi bertanya. Sejarah di sini toh bagai tuak penuh ragi. Di bawah sana, nun di Kuala Barus, saya membayangkan layar kapal Arab yang membawa Syekh Mahmud berkibar-kibar ditiup angin ribut pantai barat Sumatera. Di sebuah tanjung, Ira melambai, entah pada siapa.
PANDUAN
Rute
Barus terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Bandara terdekat adalah Bandara Dr. Ferdinand Lumban Tobing (Sibolga) yang telah dilayani oleh Garuda Indonesia (garudaindonesia.com) dan Lion Air (lionair.co.id) untuk menjelajahi Barus, sebaiknya sewa mobil di Sibolga, sebab Barus hanyalah sebuah kota kecamatan terpencil di mana rental kendaraan belum tersedia. Tapi setidaknya jaringan 4G telah tersedia di sini. Menggunakan peta digital, Anda bisa melacak objek-objek wisata religi seperti Makam Mahligai, Papan Tinggi, Lobu Tua, dan Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Nusantara.
Penginapan
Industri pariwisata belum berkembang di Barus. Di sini tidak ada resor atau hotel berbintang. Pilihannya hanyalah Hotel Fansuri, Hotel Borneo, dan hotel Sultan Haflah Pangeran 3 yang telah memiliki restoran. Kamar yang dilengkapi AC rata-rata dibanderol Rp150.000-400.000.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Maret 2018 (“Babad Bancuh Barus”).

