Seorang tamu di kolam renang Alila Seminyak. Pada 2020, Bali mencatatkan tingkat okupansi hotel terendah. (Foto: Putu Sayoga)

Kepulauan Riau telah lama menjadi surga pelarian warga Singapura. Tiap akhir pekan, ratusan warga negara tetangga itu datang menaiki feri untuk menginap di Lagoi, Batam, dan Anambas. Inilah juga sebabnya Kepri masuk daftar destinasi terlaris di Indonesia. 

Celakanya, akibat pandemi, arus wisman menyusut drastis. Singapura menutup nyaris semua lalu lintas manusia di perbatasannya. Alhasil, pada 2020, hanya 22% kamar hotel di Kepri yang terisi, drop dari 52% pada tahun sebelumnya. 

Namun begitu, Kepri bukanlah yang terparah. Bali, provinsi dengan hotel terbanyak, menderita pukulan yang lebih telak. Membaca rapor pariwisata Bali 2020, jumlah turis di sini hanya 5,6 juta, turun drastis dari 16,8 juta pada 2019. Akibatnya, okupansi hotel di sini pun hanya di kisaran 15%. Analoginya, untuk tiap hotel berisi 100 kamar, hanya 15 kamar yang terisi. 

Tingkat okupansi di Bali bahkan jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 32%. Salah satu penyebab utamanya ialah absennya “pasar lokal.” Hotel di Jakarta atau Jawa Barat misalnya, bisa menjaring tamu lokal lewat paket staycation. Di Bali, nyaris semua tamu datang naik pesawat, lebih dari sepertiganya membawa paspor.  

Panorama selatan Bali dilihat dari Suarga Padang Padang. Bali adalah provinsi dengan hotel terbanyak di Indonesia. (Foto: Putu Sayoga)

Kontras dari Bali, Kalimantan Timur menikmati okupansi hotel tertinggi di Indonesia. Di 2020, rata-rata 44% kamar hotel di sini terisi. Dibandingkan 2019, penyusutannya tidak terlampau signifikan. Selain Kaltim, provinsi dengan okupansi tertinggi di 2020 ialah Lampung, Sumatera Selatan, serta Jakarta.

Tentu saja, okupansi yang tinggi di kala pandemi sulit dimaknai sebagai “pencapaian.” Banyak hotel dipakai sebagai lokasi karantina. Beberapa provinsi dengan okupansi tertinggi, misalnya Kaltim dan Jakarta, masuk daftar provinsi dengan tingkat kasus Covid-19 terbanyak. Cristian Rahadiansyah