Pada 2019, Louvre Museum Paris menjala 9,6 juta tamu, 75% di antaranya berpaspor asing. (Foto: Olivier Ouadah/Louvre Museum)

Walau jumlah pengunjungnya susut pada 2019, Louvre Museum Paris masih memegang gelar museum terlaris di dunia. Sepanjang tahun lalu, museum ikonis ini menjala 9,6 juta tamu, 75% di antaranya berasal dari luar Prancis. Jumlah tamu asing Louvre setara jumlah turis asing di Yogyakarta.

Pesaing terdekat Musée du Louvre ialah National Museum of China di Beijing yang mencatatkan 7,3 juta tamu. Podium ketiga dihuni Vatican Museums, sementara posisi berikutnya diduduki The Met New York dan British Museum London.

Great Court di British Museum, peringkat kelima dalam hal jumlah pengunjung di 2019. (Foto: British Museum)

Statistik museum terlaris itu dirangkum dalam TEA/AECOM Museum Index 2019 yang dilansir ke publik bulan lalu. TEA (Themed Entertainment Association) didirikan pada 1991 dan menaungi 1.600 anggota. Sementara AECOM adalah perusahaan kontraktor yang pernah terlibat di banyak proyek mercusuar, contohnya One World Trade Center, Mercedes-Benz Stadium, serta Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

TEA/AECOM Museum Index dirintis delapan tahun silam. Berdasarkan kawasannya, Eropa dan Amerika Serikat konsisten mendominasi klasemen global hingga 2019. Keduanya dihuni total 14 museum dengan penjualan tiket masing-masing menembus tiga juta lembar per tahun.

Baca Juga: Museum Terlaris di Turki Diubah Jadi Masjid

Kendati begitu, Asia memperlihatkan progres paling menjanjikan. Setidaknya 20 museum top di kawasan ini membukukan 28 juta pengunjung, meningkat dari 25 juta di tahun sebelumnya. Dibandingkan kawasan lain, Asia mencatatkan pertumbuhan terbesar.

Untuk saat ini, Tiongkok terus menjadi motor Asia. Dalam daftar 25 museum terlaris, lima beralamat di sini, termasuk sang pendatang baru Shanghai Science & Technology Museum. Di luar Tiongkok, museum yang mampu menjual lebih dari 2,5 juta tiket ialah National Palace Museum Taipei, National Museum of Korea, National Taiwan Science Education Center, serta Tokyo Metropolitan Art Museum.

Khusus kawasan Timur Tengah, proyek-proyek museum mahal belum menuai buah investasinya. Ambil contoh Louvre Abu Dhabi. Sejak dibuka pada 2017, museum waralaba ini mendulang rata-rata hanya sejuta pengunjung per tahun—sebuah sinyalemen Louvre tanpa Mona Lisa mungkin sulit berjaya.

Eksterior Louvre Abu Dhabi, museum yang mendulang rata-rata sejuta tamu per tahun. (Foto: Mohamed Somji/Louvre Abu Dhabi)

Selain statistik pengunjung, TEA/AECOM Museum Index memberikan sejumlah analisis tren, misalnya tentang peran pameran kolosal sebagai magnet museum. “Sejarah memperlihatkan, pergeseran jumlah pengunjung di museum-museum top dunia terutama didorong oleh ada atau tidaknya pameran blockbuster,” jelas Linda Cheu, Vice President AECOM, dalam siaran persnya.

Tahun lalu, beberapa museum memang sukses menorehkan rekor pengunjung berkat pameran blockbuster, contohnya pameran manga di British Museum, 350 tahun kematian Rembrandt di Rijksmuseum, serta Christian Dior: Designer of Dreams di V&A Museum.

Lumen Museum of Mountain Photography memanfaatkan teknologi visual mutakhir di ruang pamernya. (Foto: Paolo Riolzi/Lumen Museum)

Khusus museum muda, investasi di bidang desain dan pengalaman pameran turut menggairahkan demam ke museum. Lumen Museum of Mountain Photography dan teamLab Borderless Shanghai menyuguhkan pengalaman immersive. K11 Musea Hong Kong berpadu dengan mal, sementara National Children’s Museum di Amerika Serikat menawarkan augmented reality SpongeBob SquarePants.

Baca Juga: 6 Museum Buatan Merek Busana

Tahun ini, grafik pengunjung museum terancam oleh pandemi Covid-19. Semester pertama 2020, ratusan museum ditutup, sementara beberapa yang sudah dibuka masih kesulitan memikat tamu. “Penurunan jumlah tamu di 2020 tak terhindarkan, dan proses pemulihannya perlu waktu,” tambah Linda Cheu. Cristian Rahadiansyah