Rencana kontroversial pemerintah Turki akhirnya terwujud. Hagia Sophia, ikon wisata sekaligus simbol sekularisasi Turki, resmi berpredikat “mualaf”: beralih fungsi dari museum menjadi masjid.

Presiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan keputusan itu pada 10 Juli lewat pidato yang disiarkan televisi nasional TRT World. “Seperti semua masjid di Turki,” ujarnya, “Hagia Sophia akan terbuka bagi semua orang, baik tamu lokal maupun asing, Muslim dan non-Muslim.” Dia juga menambahkan, berhubung berstatus masjid, Hagia Sophia tak akan lagi menjual tiket.  

Bersamaan dengan keputusan itu, Erdogan mengumumkan salat perdana di Hagia Sophia akan digelar pada Jumat, 24 Juli. Jadwal ini bergeser dari rencana awal 15 Juli yang merupakan momen politis yang penting bagi sang presiden. Pada tanggal inilah Erdogan mengenang empat tahun kegagalan kudeta terhadap dirinya.  

Hagia Sophia, yang juga dikenal dengan nama Ayasofya, berlokasi di Istanbul. Bangunan ini dikonstruksi pada 537 sebagai gereja oleh Kekaisaran Byzantium. Hampir satu milenium berselang, Kesultanan Ottoman menaklukkan Istanbul dan mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi masjid. Kemudian, saat Turki diperintah Kemal Ataturk, struktur agung ini dialihfungsikan menjadi museum pada 1934.

Awalnya aset sejarah, Hagia Sophia lalu berperan ganda sebagai aset wisata. Pada 2019, merujuk statistik pemerintah, bangunan ini memikat 3,7 juta pengunjung—menjadikannya museum terlaris di seantero Turki. Bersama kawasan kota tua Istanbul, Hagia Sophia juga telah dinobatkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada 1985.

Interior Hagia Sophia, gereja yang beralih fungsi menjadi masjid, museum, lalu kembali menjadi masjid. (Foto: Abdullah Ogu/Unsplash)

Menimbang hikayat dan perannya, tak heran keputusan mengubah status Hagia Sophia menuai sorotan global. Jauh sebelum palu diketuk, penolakan dilontarkan oleh sejumlah pejabat dan pemimpin agama di Yunani dan Rusia—dua negara yang dihuni banyak penganut Kristen Ortodoks.  

Senada dengan itu, tekanan datang dari Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menganjurkan Erdogan mengurungkan niatnya. Lewat Twitter pada 25 Juni, Sam Brownback, Duta AS untuk Kebebasan Beragama Internasional, meminta Turki mempertahankan status museum Hagia Sophia demi menjaga “aksesibilitasnya bagi semua.”  

Baca Juga: Panduan Wisata di Kota Sufi

Upaya mengubah status Hagia Sophia sebenarnya sudah berulang kali dilakukan, tapi selalu gagal. Umat Islam Turki telah bertahun-tahun menggelar salat di sekitar Hagia Sophia, walau Blue Mosque sebenarnya terpisah hanya 300 meter. Lewat ibadah ini, mereka menuntut agar Hagia Sophia dikonversi jadi masjid.  

Tekanan mereka lalu mendapat angin pada 2011, ketika sebuah bangunan bekas gereja di Iznik diubah menjadi masjid. Dua tahun berselang, momentum berlanjut saat sebuah museum di Trabzon mengalami hal serupa. Terakhir, pada 2019, Dewan Negara memerintahkan gereja bersejarah Chora diubah menjadi masjid. Rangkaian preseden inilah yang dirujuk pemerintah Turki dalam kasus Hagia Sophia.

Hagia Sophia terpisah 300 meter dari Sultan Ahmet Mosque alias ‘Blue Mosque.’ (Foto: Engin Yapici/Unsplash)

Walau rezim Erdogan berargumen Hagia Sophia adalah otoritas domestik Turki, tekanan internasional belum berhenti mengalir. Dalam pernyataannya, Josep Borrell, Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, menyayangkan perubahan status Hagia Sophia. Pernyataan senada datang dari Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO, yang menilai keputusan Turki diambil “tanpa didasari dialog.”

Di tingkat domestik, langkah kontroversial pemerintah juga mengundang spekulasi tentang permainan kartu politik Erdogan. Tahun lalu, partai penguasa AKP kalah dalam Pilkada di Istanbul dan Ankara. Kini, lewat kebijakan populis, mereka berupaya memenangkan hati kubu Muslim konservatif.  

Baca Juga: Kisah Unik Keluarga Penyelamat Karya Seni

Kendati begitu, tak semua pihak sepakat dengan tudingan itu. Juni silam, lembaga MetroPoll mengadakan survei seputar motif pemerintah Turki mengubah status Hagia Sophia. Dari 1.300 responden, 44 persen di antaranya menilai pemerintah sebenarnya sedang berusaha mengalihkan isu dari krisis ekonomi.

Tafsir sejarah memang ditentukan oleh penguasa. Dari gereja menjadi masjid, lalu museum, lalu masjid—sepanjang hayatnya, Hagia Sophia sudah berulang kali bersalin fungsi. Satu hal yang tak berubah darinya ialah keindahan arsitekturnya. Cristian Rahadiansyah