Terbius Keheningan Koh Kood

Koh Kood, pulau terbesar keempat di Thailand, berhasil menjaga karismanya sebagai destinasi yang menawarkan keheningan yang cantik dan kecantikan yang hening. Buah dari upaya warga dan pelaku wisata dalam menjaga lingkungan.

Tamu resor Soneva Kiri mendarat di dermaga usai menaiki pesawat privat selama 90 menit dari Bangkok.

Oleh Gabrielle Lipton
Foto oleh Christopher Wise

Es krim dan pemandangan. Setiap orang memiliki definisinya sendiri tentang surga, dan berikut versi saya: mencopot sepatu, berkelana di tempat cantik yang terpencil, menjilati lapisan-lapisan dingin yang kenyal dan manis. Meskipun sederhana, permintaan saya tak selalu bisa dipenuhi. Itulah sebabnya ketika hendak sejenak berlibur di Thailand, Soneva Kiri menjadi pilihan ideal. Resor ramah lingkungan ini bersemayam di pulau sepi Koh Kood, menerapkan aturan “copot sepatu” dan memiliki “sebidang dinding” berisi es krim homemade dengan 60 varian rasa.

Tentu saja, es krim bukanlah tujuan mayoritas orang. Pelancong umumnya memilih Soneva Kiri karena dua alasan. Pertama, keindahan. Resor yang menganut filosofi “slow life” ini bersemayam di Koh Kood, satu dari 52 pulau di Provinsi Trat, sisi timur Thailand. Alasan kedua, Soneva Kiri sangat ramah lingkungan. Menurut World Tourism Organization, ekowisata adalah sektor dengan pertumbuhan tercepat di industri pariwisata. Beragam survei yang digelar di penjuru bumi mendapati sekitar seperlima turis sudi membayar lebih untuk perusahaan yang ramah terhadap lingkungan sosial dan alamnya.

Berdasarkan pengalaman saya, setidaknya ada dua jenis “green hotel.” Pertama, hotel yang menolak tegas fitur-fitur modern, misalnya listrik, seperti yang pernah saya temukan di sebuah kabin sederhana di Nikaragua. Kedua, hotel-hotel bermerek yang selalu menyelipkan notifikasi “handuk diganti sesuai permintaan” atau “tolong padamkan lampu” di dalam kamar. Saya penasaran di kutub mana Soneva Kiri berada.

Lapangan sepak bola pantai di Soneva Kiri.

Perjalanan saya dimulai dengan menaiki pesawat Cessna milik resor dari Bandara Don Mueang di Bangkok. Setelah sekitar sejam melongok pulau-pulau yang berkelebat seperti rombongan penyu di permukaan laut, saya mendarat di dermaga yang menjulur di samping pantai bulan sabit, lalu berjalan-jalan tanpa alas kaki. Di hutan yang menjulang di belakang resor, atap-atap vila menyembul anggun.

Malam baru dimulai. Langit bermandikan cahaya jingga kemerahan layaknya kulit persik. “Mundurkan waktu di arloji Anda satu jam,” saran seorang staf resor. “Zona waktu Soneva berlaku di sini.” Memperlambat waktu. Memisahkan diri dari dunia. Mungkinkah ini yang dimaksud dengan filosofi “slow life” dari Soneva Kiri?

Pagi-pagi sekali, usai sarapan, saya berjalan ke “dinding” es krim untuk menumpuk energi, kemudian berkelana menaiki golf cart. Semua bangunan di kompleks seluas 41 hektare ini dirangkai dari bambu dan kayu. Satu-satunya struktur beton adalah asrama karyawan.

Golf cart menembus kebun kelapa dan mendaki perbukitan. Lanskap begitu indah hingga saya sengaja menghindari jalan pintas agar bisa berlama-lama menikmati pemandangan. Saya juga melewati pantai yang membujur panjang di mana sekelompok pria asal Inggris menggelar pertandingan sepak bola. Saya bertanya kepada Friday (sapaan butler di sini, dipinjam dari karakter dalam novel Robinson Crusoe) perihal praktik ramah lingkungan di Soneva Kiri, misalnya tentang pasokan bahan dapur dan sumber air untuk menyiram lahan.

Kiri-kanan: Kamar di Soneva Kiri yang bangunannya terbuat dari bambu dan kayu; Area bersantai di pantai di depan Soneva Kiri, resor termewah dan terbesar di Koh Kood.

Untuk mencari jawabannya, Friday meminta saya mampir ke Eco-Centro di sudut lapangan tenis. Di sini, Khem, seorang mantan petani, meluncurkan banyak jurus untuk menjaga resor tetap hijau. Dia, misalnya, menciptakan siklus yang mengubah sampah jadi berkah. Minyak goreng sisa diolah menjadi biodiesel, yang kemudian dipakai sebagai bahan bakar mesin pencacah kayu, yang hasilnya kemudian disebar sebagai pupuk di kebun yang menanam bahan masak di restoran. Khem meminta saya menggosok serai di lengan guna menangkal serangga. Semua yang tumbuh di sini, ujarnya, bersifat organik—disemprot dengan insektisida alami hasil campuran lengkuas dan mikroorganisme. Khem menunjukkan contoh lain dari praktik hijau resor. Kebun-kebun di sini dihubungkan oleh sistem pengairan yang dikendalikan oleh empat kolam. Masing-masing kolam ditutup bunga-bunga lili yang bertugas menyaring air hujan dan limbah. Air filter dari sinilah yang dipakai untuk membasahi seantero resor. Di sudut yang lain, empat sumur bertugas memasok kebutuhan air minum.

Menangani sampah, tentu saja, juga menjadi tugas Khem. Soneva Kiri memiliki empat ruangan untuk menampung plastik, botol, logam, dan kertas. Saban bulan, semuanya diangkut ke Bangkok untuk dijual. Uangnya mungkin tak seberapa. Mengintip interior ruang penampungan terlihat betapa sampah sangat minim, dan saya pun menyadari alasannya: Soneva Kiri mereduksi penggunaan benda-benda disposable. Selain tisu dan bungkus sikat gigi, tak banyak barang yang bisa dibuang.

Dengan berkiblat pada ekowisata, Koh Kood mengirimkan pesan kuat kepada pemerintah tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara daya dukung lingkungan dan pasokan turis. Pulau ini tak ingin bernasib seperti kantong-kantong padat turis di Thailand, terutama Koh Chang, pulau yang ditimpa longsor parah pada 2010 akibat erosi tanah dan maraknya pendirian resor.

Momen pertama dan satu-satunya untuk memakai sepatu adalah saat saya hendak menjelajahi pulau. Kendati berstatus pulau terbesar keempat di Thailand, sebagian besar kawasan Koh Kood relatif senyap. Populasinya 2.500 jiwa. Mayoritas warga bermukim di desa-desa nelayan kecil. Tidak ada bank ataupun ATM. Kabel listrik dari daratan utama baru akan dibentangkan pada akhir 2015. Hingga kini, Koh Kood menyandarkan pasokan energinya pada panel-panel surya dan generator.

Kiri-kanan: Menikmati sajian dengan pemandangan menarik; cellar tanah liat yang menyimpan sekitar 500 label wine.

Pemandu saya hari ini, Kae, dibesarkan di Koh Kood. Sempat merantau ke Bangkok untuk studi, dia mudik karena orang tuanya kian sepuh dan membutuhkan perhatian ekstra. Pertama-tama, Kae mengantarkan saya ke sebuah kuil di desa nelayan Ao Salat. “Tadinya saya sedih saat meninggalkan Bangkok. Tak banyak yang bisa dilakukan di Koh Kood. Di sini tidak ada kehidupan malam, tidak ada hiburan, dan semua orang saling mengenal,” ujarnya saat kami berdiri di atap menara lonceng. “Tapi sekarang saya sangat bahagia. Saya tidak akan pernah pergi lagi. Hidup bergulir alamiah di sini.”

Comments