Skotlandia di Simpang Jalan

Dua warga di tepian teluk yang menghubungkan desa Ullapool dan kota Thurso di sisi utara negeri.

Selepas Brexit, keinginan Skotlandia untuk bercerai dari Britania Raya kembali bergema. Referendum ulang rencananya bakal digelar pada 2019. Tapi banyak orang percaya, jawaban bagi masa depan negeri ini sejatinya tidak terletak di bilik suara, melainkan pada keunikan alam dan budayanya.

Oleh Sergio Ramazzotti

Foto oleh Andrea Roversi

Freeedooom!

Teriakan yang menggetarkan itu keluar dari mulut William Wallace. Teriakan yang menjadi kata terakhirnya sebelum digantung, sekaligus pesan terakhirnya bagi saudara-saudara setanah airnya.

Kita ingat, semua itu hanya adegan klimaks dalam Braveheart, film kolosal keluaran 1995 yang disutradarai sekaligus dibintangi oleh Mel Gibson. Tapi Wallace bukan tokoh rekaan belaka. Dia benar-benar hidup dalam sejarah. Pada akhir abad ke-13, Wallace gigih bertempur melawan pasukan Edward I, Raja Inggris yang dijuluki “Hammer of the Scots.”

Seorang pemuda di kota pelabuhan Aberdeen mengenakan highland dress, kostum tradisional Skotlandia.

Benar-tidaknya Wallace memekikkan merdeka di ujung napasnya, para sejarawan masih berdebat. Tapi yang jelas perjuangannya membuahkan hasil usai perang selama enam dekade, Skotlandia sukses menyabet kemerdekaan, setidaknya hingga 1603. Berkat jasa-jasanya, Wallace, yang tewas dieksekusi pada 23 Agustus 1305, ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Sosoknya hidup dalam keabadian.

Seekor domba di Kepulauan Skye.

Hari-hari ini, kisah Wallace menarik disinggung kembali karena masih relevan dalam konteks kontemporer. Api kemerdekaan yang disulutnya belum benar-benar padam. Pada 2014, Skotlandia mengenang 700 tahun kemenangan Battle of Bannockburn melawan tentara Edward II, sebuah peristiwa monumental yang berbuntut pada kemerdekaan temporer Skotlandia. Pada 2014 pula, negara ini menggelar referendum untuk menentukan apakah mereka akan bercerai atau bertahan dalam pangkuan ibu pertiwi Britania Raya.

Upaya menyabet kemerdekaan itu memang kandas. Sekitar 55 persen partisipan tak menghendaki perubahan. Tapi harapan akan Skotlandia yang berdaulat sejatinya masih bergaung. Apalagi kaum nasionalis kini memiliki amunisi baru untuk mengegolkan agendanya. Pada 2016, Britania menggelar referendum untuk menentukan status keanggotaannya di Uni Eropa. Secara nasional, suara mayoritas memilih Brexit. Tapi jika kita hanya menyoroti hasil perhitungan di Skotlandia, 62 persen partisipan ternyata berharap sebaliknya.

Seorang musisi muda di kota Oban yang menekuni instrumen ikonis agpipe.

Pepohonan di tepi jalan di Ullapool, desa dataran tinggi yang terkenal berkat festival musiknya.

Sejak itu, politik dalam negeri Skotlandia kian ruwet. Sebagian politisinya mengupayakan referendum ulang pada 2019—keputusan yang ditentang oleh London. Tapi andaipun Skotlandia nanti sepakat memilih opsi merdeka, mereka tak otomatis bisa bergabung dengan Uni Eropa, sebab Skotlandia masih dipandang bagian sah dari Britania. Mungkin menyadari fakta itu, gagasan untuk memisahkan diri mengendur. Tak lama setelah Brexit, Skotlandia menggelar pemilu reguler di mana Scottish National Party, partai pengusung agenda kemerdekaan, justru kehilangan lebih dari 13 persen suara.

Tiga remaja di kota Oban menggelar pentas musik di alun-alun dengan mengenakan rok tradisional yang disebut kilt.

Apa yang kira-kira dipikirkan Wallace jika melihat benang kusut politik itu? Bagaimana sang kesatria menyikapi sikap terbelah saudara-saudaranya? Ketika Britania dan Uni Eropa sudah pisah ranjang, Skotlandia masih kukuh ingin bergabung dengan keduanya, walau di saat yang sama sebagian warganya bergerilya untuk memisahkan diri dari Britania. Pertanyaan yang lebih mendasar, bagaimana kita memahami tabiat orang Skotlandia?

Menengok sejarah, hubungan diplomatik Skotlandia dan Inggris memang senantiasa diwarnai gejolak. “Musuh dari musuh saja adalah sahabat saya,” pameo ini berlaku untuk politik luar negeri Skotlandia di masa lalu. Negara ini dianggap sekutu oleh musuh Kerajaan Inggris. Di saat bersamaan, Skotlandia berupaya mencari bantuan dari Spanyol dan Prancis guna menggerogoti kekuasaan Inggris.

Dua turis di tubir salah satu tebing di tepian Pulau Hoy, bagian dari kepulauan Orkney yang bersemayam di utara Skotlandia.

Perang yang melibatkan aktor asing sempat pecah. Usai Ratu Mary dari Skotlandia dihukum mati pada 1587 atas titah Ratu Elizabeth I, Spanyol mengutus armada perangnya guna menggulingkan penguasa Tudor. Tapi Inggris tidak lantas tumbang. Sepeninggal Elizabeth I, singgasana justru diwariskan ke putra Ratu Mary, James, yang kemudian menyatukan mahkota pada 1603 sekaligus mengakhiri independensi Skotlandia.

Di bawah persatuan baru itu terdapat dua singgasana dan dua parlemen—sistem yang diberlakukan selama seabad, hingga akhirnya pada 1707 Skotlandia sepenuhnya menginduk pada Britania. Ada dua pemicunya: London merasa cemas dan belum 100 persen percaya pada tetangganya, dan di sisi lain, Skotlandia sangat membutuhkan dukungan ekonomi. Keduanya bersatu untuk mengatasi problem.



Comments

Related Posts

3180 Views

Book your hotel

Book your flight