Panorama Alam Surgawi Patagonia

  • Taman Nasional Torres del Paine juga dilengkapi dengan danau.

    Taman Nasional Torres del Paine juga dilengkapi dengan danau.

  • Taman Nasional Torres del Paine di Patagonia, Chile.

    Taman Nasional Torres del Paine di Patagonia, Chile.

  • Seorang koboi Chile tengah menatap lanskap sublim lembah-lembah di Rio Baguales.

    Seorang koboi Chile tengah menatap lanskap sublim lembah-lembah di Rio Baguales.

  • Guanaco, binatang lokal khas Patagonia.

    Guanaco, binatang lokal khas Patagonia.

  • Seorang koboi mengendarai kuda di Torres del Paine.

    Seorang koboi mengendarai kuda di Torres del Paine.

  • Seorang pengembala domba di dalam peternakan.

    Seorang pengembala domba di dalam peternakan.

  • Dua tamu sedang menikmati eksterior Tierra Patagonia.

    Dua tamu sedang menikmati eksterior Tierra Patagonia.

  • Kegiatan safari menjadi aktivitas utama di Patagonia.

    Kegiatan safari menjadi aktivitas utama di Patagonia.

  • Kolam renang di Tierra Patagonia dengan pemandangan panorama indah.

    Kolam renang di Tierra Patagonia dengan pemandangan panorama indah.

  • Lanskap sublim memanjakan para turis.

    Lanskap sublim memanjakan para turis.

  • Padang rumput dengan latar belakang pegunungan bercaping es.

    Padang rumput dengan latar belakang pegunungan bercaping es.

Click image to view full size

Penjelajahan di Patagonia sangat menguras energi dan waktu, tapi ganjarannya—sebut saja ngarai mistis, gletser yang berkilauan, serta puncak-puncak agung yang menusuk langit—lebih dari sepadan.
Oleh Joe Yogerst
Foto oleh Macduff Everton

Puluhan tahun silam, dari sebuah majalah yang tak bisa saya ingat namanya, saya mengenal Taman Nasional Torres del Paine, kawasan berisi pegunungan yang menjulang dramatis di tengah padang rumput. Melihat puncak-puncaknya yang runcing, saya kira Torres del Paine berarti “Towers of Pain.”

Tiga puluhan tahun kemudian, hari ini, saya mendarat di Santiago. Kota ini saya kunjungi terakhir kali pada 1999, saat melakukan riset untuk buku bertema Pan-American Highway. Di jeda antara kedua kunjungan itu, wajah Ibu Kota Chile ini telah berubah total hingga nyaris sulit dikenali. Dulu, Santiago tak sanggup menyaingi pamor Rio atau Buenos Aires. Kota ini sekadar titik transit dalam perjalanan ke lokasi-lokasi menarik lain di Chile, seperti Gurun Atacama atau belantara Patagonia. “Di ujung dunia,” begitu penulis Isabel Allende menggambarkan kota masa mudanya itu.

Seorang koboi mengendarai kuda di Torres del Paine.

Tapi masa itu telah lewat. Santiago kini tampil pongah dan canggih. Metropolis berpopulasi enam juta jiwa ini berlagak bak pusat semesta. Operasi permak wajahnya dimulai pada 1990, tepatnya di akhir masa kekuasaan rezim Pinochet. Setelah itu, usai satu dekade berjuang keluar dari zaman kegelapan, kota ini tak mau lagi menengok masa lalunya yang kelam.

Dengan 48 jam tersisa sebelum bertolak ke selatan Chile, saya menjelajahi Santiago dengan kaki dan sepeda. Hampir di setiap sudut terpampang sesuatu yang baru, sebut saja Gran Torre Santiago, gedung terjangkung di Amerika Latin, yang berlokasi di kompleks pencakar langit yang dijuluki “Sanhattan” oleh warga setempat. Bagian-bagian kota lainnya juga telah berubah. Struktur raksasa milik junta militer Pinochet telah disulap menjadi Centro Cultural Gabriela Mistral. Namanya diambil dari nama orang Chile pertama yang menyabet Nobel. Rumah-rumah Art Nouveau di distrik kota tua yang selama ini diabaikan, sedang dirombak untuk menampung restoran trendi, bar jazz, klub salsa, dan galeri seni. Bahkan bangunan bobrok Mercado Central sudah diubah menjadi oasis bagi pemburu kuliner favorit warga—seafood.

Dari Santiago, saya mengambil penerbangan pagi menuju Puerto Montt di Lake District, wilayah berisi puncak-puncak salju Andes dan danau-danau biru yang memagari tepian utara Patagonia. Didirikan di abad ke-19 oleh pemukim asal Jerman, kantong-kantong uzur di kota pesisir ini masih memancarkan atmosfer Eropa masa lampau. Rumah-rumah bergaya gingerbread bertengger di atas pelabuhan yang dijejali kapal nelayan. Saya menyewa mobil pikap kecil, lalu membawanya ke perut kapal feri yang melayani jurusan Chiloé, pulau terbesar di gugusan selatan Chile.>>

Share this Article


Comments

Related Posts

6008 Views

Book your hotel

Book your flight