Melawan Penurunan Populasi Lewat Seni

Populasi penduduk di Jepang terus menyusut. Menyewa arsitek dan perupa ternama, sebuah kota kecil di utara negeri mencoba mengerem tren itu melalui pendekatan yang unik: seni dan desain.

Dua turis cilik bermain di kaki patung berjudul Flower Horse buatan seniman Korea Choi Jeong Hwa di pelataran Towada Art Center.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Fransisca Angela

Sesosok demit mengintip dari atap toilet umum. Sekujur tubuhnya laksana timah yang meleleh, sementara kepalanya melekat pada kaca dalam posisi terbalik. Saya tidak tahu apakah seniman Inges Idee berniat menebar horor atau tawa, tapi yang jelas patung buatannya membuat saya ingin lekas buang hajat.

Terpisah beberapa langkah dari hantu tukang intip itu, Yayoi Kusama mendirikan sebuah instalasi jenaka yang menyerupai area bermain Taman Kanak-Kanak. Isinya: seonggok labu kuning, tiga batang jamur tiram, seorang gadis yang tengah bermain dengan anjing-anjingnya. Khas Yayoi, semua objek itu ditaburi motif polkadot.

Mencermati ragam suguhannya, Towada Art Square adalah taman rekreasi yang mungkin diimpikan oleh banyak kota. Namun tempat ini sebenarnya tidak didesain semata untuk menghibur ataupun membuai mata. Di balik keindahannya, Towada Art Square memiliki peran vital sebagai siasat untuk bertahan hidup. Towada, kota kecil di utara Jepang, terus kehilangan penduduknya, dan melalui inovasi-inovasi kreatif ia berharap bisa mengatasinya.

Towada Art Center, kompleks yang diresmikan pada 2008 dan mengoleksi 38 benda seni buatan 33 seniman.

Tiap kali saya mengutarakan rencana trip ke Towada, teman dan keluarga selalu memberi reaksi senada: “Di negara mana? Untuk apa ke sana?” Luput dari orbit turis, Towada memang kata yang masih asing di telinga banyak orang. Jangankan mengetahui lokasinya, mendengar namanya pun mungkin belum pernah.

Saya sendiri mengenalnya pertama kali lewat selembar foto. Awal 2017, seorang kenalan mengirimkan foto seekor kuda jingkrak dengan tubuh yang dilapisi aneka bunga. Usai menggali informasi lebih dalam, saya mendapati patung itu ternyata menyimpan kisah unik tentang perjuangan sebuah kota kecil dalam menjawab problem kependudukan. Sebuah problem yang sebenarnya juga melanda seantero Jepang, tapi selama ini tersembunyi dari mata turis.

Towada, bagian dari Prefektur Aomori, bersemayam di belahan utara Pulau Honshu. Dari Tokyo, saya menjangkaunya dengan menaiki Shinkansen. Layaknya mobil F1, kereta peluru ini melahap jarak 680 kilometer—setara jarak Medan-Pekanbaru—dalam durasi cuma tiga jam. Tatkala bertemu gunung, Shinkansen  tidak menghindar, melainkan menerobosnya. Kadang saya merasa takjub sekaligus takut dibuatnya. Gunung, yang menurut agama diibaratkan pasak bumi, kini terlihat seperti gabus yang gampang ditembus.

Kiri-kanan: City Library, perpustakaan umum yang dilansir pada 2015 dan dirancang oleh arsitek kondang Tadao Ando; Nana dan Kenjiro, dua turis asal Kobe, sekitar 1.200 kilometer di selatan Towada.

Jumat malam—malam pertama saya di Towada—saya menyusuri pusat pertokoan Inaoicho di jantung kota. Jalanan gelap dan senyap. Lampu-lampu telah dipadamkan. Padahal ini baru pukul delapan malam. Ketika Tokyo masih riuh oleh jutaan manusia yang berseliweran mencari makan dan hiburan, Towada justru sudah meringkuk di balik selimut. Ini memang tipikal kota kecil Jepang di mana hari ditutup lebih cepat. Khas kota kecil pula, tim sepak bolanya belum berlaga di liga utama J League; sebagian besar hotelnya tidak memiliki situs reservasi berbahasa Inggris; dan mesin-mesin ATM setempat hanya melayani kartu debit keluaran bank lokal.

Hari kian larut dan perut saya kian keroncongan. Setelah lama berjalan, saya akhirnya menemukan satu tempat yang masih terjaga, restoran Tonton Tonkatsu. Duduk di kursi kayu, saya memesan sepiring kari katsu yang hadir dalam porsi jumbo. “Orang dari Studio Tonton [firma arsitektur di Indonesia] sudah empat kali datang ke sini,” ujar sang koki dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, usai mengetahui saya berasal dari Indonesia. Restorannya sepi. Hanya ada dua tamu: saya dan fotografer saya. Belakangan saya sadar sang koki bekerja solo, merangkap sebagai pramusaji, pencuci piring, juga pemilik restoran. Wajahnya terpajang pada logo di muka bangunan. Rasanya seperti makan di restoran Mbok Berek dan dilayani langsung oleh Mbok Berek.

Di atas peta, Towada lebih luas dari Jakarta, tapi populasinya lebih sedikit dari kapasitas Gelora Bung Karno. Fakta ini sebenarnya terbilang lumrah untuk kota-kota sekunder di Jepang. Yang mengkhawatirkan, jumlah penduduknya terus melorot akibat eksodus kaum muda dan rendahnya tingkat kelahiran. Jika pada 2000 Towada dihuni 69.000 jiwa, jumlahnya kini 62.000 jiwa.

Kiri-kanan: Unknown Mass, patung demit karya Inges Idee, yang seolah sedang mengintip dari atas toilet umum; ukiran kuda pada penutup gorong-gorong.

Bagi saya, yang lahir dan menetap di Jakarta, berkelana di sini bagaikan melonggarkan ikat pinggang: lega dan leluasa. Macet adalah kata yang tak dikenal. Antrean manusia pemandangan yang langka. Akan tetapi, bagi Towada, tren penyusutan populasi sejatinya menghadirkan ancaman yang serius. Tenaga kerja produktif menyusut, sementara ongkos perawatan manula membengkak. Bagaimana proyek-proyek kreatif bisa menjawab problem pelik itu?

Saya datang ke Towada di pertengahan Juli, saat matahari sedang semangat bersinar. Hampir saban hari suhu menembus 32 derajat. Celakanya, kota ini praktis hanya bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. Taksi sangat jarang. Uber absen. Bus lewat hanya dua-tiga jam sekali.

Suatu siang, saya mengarungi sudut-sudut kota di bawah guyuran terik. Jika pada malam hari Towada terasa angker layaknya tempat Sadako bergentayangan, pada siang hari suasananya lebih menyerupai permukiman guyub tempat Nobita dibesarkan. Rumah-rumah di sini dicetak rendah hati dengan langgam yang senada. Semua orang berpenampilan sederhana. Di jalan-jalan, mayoritas mobil sepertinya berusia lebih dari 20 tahun.

Kiri-kanan: Komukai Mitsunori dan Yuki, pasangan pemilik restoran Garuda; dua turis bersantai di tepi Danau Towada.

Salah satu bangunan di sini yang jauh dari kesan bersahaja adalah Civic Center Plaza (CCP). Tubuhnya seperti hanggar. Atapnya mirip detak jantung manusia pada monitor di rumah sakit. Bangunan ini menampung aula, ruang pamer, zona bermain anak, serta klub khusus manula. Istilah gampangnya: gedung serbaguna.

Di banyak kota, fasilitas semacam CCP terbilang jamak. Yang membuatnya jadi pergunjingan di sejumlah media desain adalah perancangnya: Kengo Kuma. Kengo, arsitek prolific asal Jepang, pernah menggarap proyek-proyek mercusuar semacam Suntory Museum of Art di Tokyo dan Besancon Art Center di Prancis. Cukup mengherankan bisa mendapati kreasinya di kota pelosok semacam Towada.

Dalam catatan di situs pribadinya, Kengo berniat menjadikan CCP ruang bersama yang memudahkan warga beraktivitas. Dia menyebut konsepnya michi-no hiroba (“plaza of streets”). Di sini, warga bisa menggelar kelas menari, sesi yoga, juga kursus memasak. Semua ruangan bisa dipakai gratis. Pengguna hanya perlu membayar uang listrik dengan tarif diskon 50 persen.

CCP merupakan contoh inisiatif Towada untuk mengerem laju penurunan populasi. Fasilitas bernilai nyaris satu miliar yen ini didirikan untuk membuat warga kian nyaman dan kerasan. Harapannya, mereka sudi terus menetap, beranak-pinak, melahirkan komunitas yang langgeng. Harapan yang sederhana sebenarnya, tapi krusial untuk sebuah kota yang terancam problem kelangkaan manusia.

Kiri-kanan: Yoshida, salah seorang pegawai City Library; logo resmi Towada yang menampilkan kuda, ikon yang merefleksikan sejarah kota ini sebagai sentra pengembangbiakan kuda.

Turis asing adalah sosok yang langka di Towada. Kota ini memang tak menawarkan magnet yang menggiurkan bagi pelancong. Aeon, mal satu-satunya, lebih mirip supermarket. Butik merek global raib sepenuhnya, sementara objek wisata andalannya hanyalah sebuah danau vulkanis yang berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota.

Itu juga mungkin sebabnya banyak orang terkejut mendapati kehadiran saya di sini, barangkali sama terkejutnya dengan saya jika menemukan turis Jepang berlibur di, sebut saja, Ciamis. Suatu kali, seorang guru SMP memancarkan ekspresi terperanjat usai mengetahui saya berasal dari Indonesia. Di waktu yang lain, seorang pramusaji bertanya apakah saya warga Amerika. Barangkali dia mengira saya serdadu dari pangkalan militer di Misawa, kota tetangga di sisi timur.

“Susah menjalankan bisnis. Kota ini sepi. Tak banyak yang bisa dinikmati,” keluh Komukai Mitsunori, pemilik restoran Garuda. Dia pernah bekerja di Indonesia. Restorannya, yang memakai logo Garuda Pancasila, menjual hidangan khas Nusantara seperti gado-gado dan sate. “Di Towada hanya ada manula,” timpal Yuki, istri Komukai, “sebab banyak anak muda lebih suka minggat ke kota besar setelah lulus kuliah.”

Comments