Artjog Rasa Baru

Tahun ini, Artjog memosisikan dirinya sebagai festival seni rupa, bukan lagi bursa karya. 

Instalasi Daun Khatulistiwa karya Teguh Ostenrik.

Oleh Cristian Rahadiansyah

“Saya berharap film saya tidak berhenti di bioskop atau festival, tapi bisa berkembang melalui beragam medium, termasuk seni,” jelas Riri Riza, sutradara kenamaan Indonesia, tentang alasannya terlibat dalam Artjog untuk kali pertama.

Karya Riri, Humba Dreams (Un)Exposed, ditempatkan di salah satu ruangan di Museum Nasional Jogja, venue utama Artjog. Instalasi ini digarap lewat kolaborasi dengan Studio Batu. Pada layar melingkar di dinding, Riri memutar film animasi bertema tradisi Marapu Sumba. Di tengah ruangan, teronggok tiga benda menyerupai rudal yang terinspirasi mumi orang Sumba. Lewat celah di bagian kepala mumi itu, pengunjung bisa mengintip adegan-adegan residu dari film terbaru Riri yang berjudul Humba Dreams.

Humba Dreams (Un)Exposed merupakan salah satu karya dalam Special Project, program baru Artjog yang dilansir pada 2019. Menggantikan Commissioned Work yang melibatkan hanya satu-dua seniman, Special Project menampilkan lima karya ciptaan lima seniman dan kolektif. Selain Riri, ada Handiwirman Saputra, Teguh Ostenrik, Sunaryo, serta kolektif anyar Piramida Gerilya.

Instalasi Whirlwind of Time karya Andrita Yuniza Orbandi.

Seluruh karya dalam Special Project berukuran besar, memakai beragam media, dengan dua di antaranya diciptakan di lokasi dengan merespons kondisi bangunan. Untuk Taman Organik Oh Plastik, Handiwirman menghabiskan sekitar dua bulan untuk menggali lubang berdiameter enam meter di pelataran Museum Nasional Jogja. Sementara untuk Bubu Waktu, Sunaryo merakit lorong bambu di sisi belakang museum untuk mengantarkan pengunjung meninggalkan area pameran sembari berkontemplasi tentang waktu. 

Artjog 2019 bergulir dari 25 Juli-25 Agustus. Hajatan ini dibuka melalui seremoni meriah yang menampilkan antara lain pidato dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, peragaan busana oleh perancang Lulu Lutfi Labibi, serta aksi gitaris kondang Dewa Budjana. Untuk edisi ke-12 ini, Artjog mengusung tema Common Space dengan niat mengkritisi konsep ruang dari beragam perspektif dan tafsir kiwari.

Total ada enam program utama dalam Artjog 2019. Pameran seninya diikuti oleh 39 seniman yang diseleksi lewat jalur undangan terbuka dan undangan khusus oleh duet kurator Agung Hujatnika dan Ignatia Nilu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, panitia juga menghadirkan Jogja Art Weeks, semacam “fringe event” yang berisi kegiatan-kegiatan garapan puluhan lembaga seni.

Instalasi Humba Dreams (Un)Exposed karya Riri Riza.

Tahun ini, Artjog mengampanyekan dirinya sebagai “festival seni rupa internasional.” Pergeseran ini bertolak dari kenyataan bahwa dalam tiga tahun terakhir, persisnya semenjak pergelaran ini direlokasi dari Taman Budaya ke Museum Nasional Jogja, format dan presentasinya memang lebih menyerupai sebuah festival. Perayaan dan kemeriahan seni menjadi esensinya. Bursa karya hanyalah salah satu aktivitasnya. “Fokus Artjog tidak lagi hanya jualan karya,” jelas Amelberga Astri, Manajer Publikasi Artjog. “Tiap program dikemas sama besarnya, dan mereka sama pentingnya, termasuk edukasi dan pementasan.”

Ibarat Java Jazz, program-program dalam Artjog dikemas layaknya taburan panggung yang bergerak mandiri dengan suguhan yang variatif. Untuk program Daily Performance misalnya, panggung di sisi belakang museum menghadirkan 59 bintang tamu dari dalam dan luar negeri, di antaranya Niskala (Yogyakarta), Tristan (Belanda), Bottlesmoker (Bandung), dan Jessica Ekomane (Jerman). 

Program lainnya, Merchandise Project, semacam bazar produk kreatif, diikuti oleh 52 organisasi dan individu. Ditempatkan di bangunan terpisah, Merchandise Project menjajakan beragam aksesori, busana, pernak-pernik, hingga benda artistik berharga terjangkau buatan seniman atau kolektif, contohnya suvenir dari Afdruk 56 dan foto-foto neon box buatan artis visual Angki Purbandono.

Aktivitas yang juga menonjol dalam Artjog 2019 ialah edukasi. Selain dua acara lawas Curatorial Tour dan Meet the Artists, panitia tahun ini meluncurkan LeksiKon, rangkaian kelas yang diasuh oleh para seniman. Selain menyimak ceramah, peserta diajak menonton pertunjukan dan dokumentasi karya. Dari 10 seniman yang terlibat, ada nama-nama tenar sekaliber Agan Harahap, Handiwirman Saputra, dan Riri Riza. 

Tumpuk Lapis Tampak Isi: Laras 5 karya Fika Ria Santika.

Masih bagian dari program edukasinya, Artjog mendukung pengembangan seniman muda di bawah 35 tahun melalui Young Artist Awards yang tahun ini diberikan kepada Andrita Orbandi, Enka Komariah, dan Natasha Tontey. Mereka dipilih oleh tiga juri dari tiga lembaga seni bergengsi, yakni Fumio Nanjo, Direktur Mori Art Museum; Aaron Seeto, Direktur Museum Macan; serta Natasha Sidharta, Direktur IndoArtNow. 

Pergeseran positioning Artjog dari bursa karya menjadi festival tak lepas dari kemampuan ajang ini untuk kian otonom secara finansial. Panitia berhasil menjaring pemasukan yang signifikan dari publik, sponsor, serta aktivitas komersial. Dengan itu pula, mereka bisa lebih luwes menjaga keseimbangan antara keinginan menyenangkan kolektor dan memuaskan pengunjung.

Kondisi itu terlihat misalnya dalam program pameran karya. Di luar figur terpandang semacam Agan Harahap dan Ugo Untoro, tak banyak nama blockbuster yang memamerkan karyanya. Para artis yang karyanya senantiasa laris di bursa seni—umpamanya Heri Dono, Djoko Pekik, dan Nyoman Masriadi—absen tahun ini. Alih-alih, pengunjung disuguhi banyak karya buatan seniman muda dan seniman yang berada di luar radar kolektor.

Tampak seorang pengunjung yang asyik menikmati karya yang dipamerkan di Artjog 2019.

Juga mengejutkan, Artjog 2019 memamerkan banyak karya fotografi dan multimedia—dua medium yang belum menjadi favorit kolektor. Dua contoh di kategori ini ialah Octora Chan, artis visual asal Bandung, yang mempertanyakan konsep kedaulatan tubuh; serta fotografer legendaris Nico Dharmajungen yang memajang foto-foto bunga evokatif dalam Flores Vitae. “Senang juga melihat ada lebih banyak karya fotografi tahun ini,” jelas Nico, yang baru kali pertama terlibat dalam Artjog.

Menurut Bambang ‘Toko’ Witjaksono, anggota Dewan Kuratorial Artjog, absennya banyak nama laris merupakan buah dari proses seleksi yang lebih ketat dari tim kurator. “Walau karya dari seniman besar, tapi tidak sesuai dengan tema kuratorial, tidak bisa ikut,” jelasnya.

Baca juga: Ibu Kota Gamelan Dunia; Sekolah Seni Baru di Jakarta

Beberapa karya Robet & Olga di ArtJog 2019.

Kendati begitu, Bambang mengakui independensi kurator turut didukung oleh kemampuan Artjog dalam mengurangi ketergantungan finansialnya dari komisi. Dalam tiga tahun terakhir, katanya, tiket pengunjung kian mumpuni sebagai sumber pemasukan. Pada 2018, dengan tiket seharga Rp50.000, Artjog berhasil memikat 65.000 pengunjung, meningkat dari 35.000 pada tahun sebelumnya. “Uang komisi hasil penjualan karya jadi semacam bonus,” tambah Bambang.

Informasi selengkapnya, kunjungi Artjog.

Tags : artjogculture
Comments