54 Rekomendasi Tempat Makan di Bali

Untuk menciptakan sebuah panduan yang cukup kredibel, kami mewawancarai lima koki dengan rekam jejak yang panjang serta reputasi cemerlang, yang diakui bahkan oleh para pesaingnya. Panduan ini menampilkan 54 rekomendasi tempat makan. Bentuknya beragam, mulai dari warung pinggir jalan yang dikelola keluarga secara turun-temurun, hingga restoran premium yang menerapkan aturan berpakaian. Guna memudahkan pembaca, kami menyusun tempat-tempat tersebut dalam urutan siklus santap harian. Pembaca bisa menemukan 13 tempat sarapan, enam tempat brunch, 15 tempat makan siang, 12 tempat makan malam, dan delapan tempat late supper.

—NARASUMBER
Kelima koki di Bali yang kami wawancarai dengan jujur memberikan rekomendasi restoran-restoran favorit mereka, meski harus menyebutkan nama pesaing.

1. Degan Septoadji Suprijadi

Pria kelahiran 11 September 1967 ini memulai ekspedisinya di dunia kuliner sebagai staf magang di Hotel zur Pfalz, Jerman. Bakat kemudian melesatkannya ke banyak jabatan bergengsi, di antaranya Executive Sous Chef Grand Hyatt Bali, Executive Chef Meliá Bali, dan Senior Executive Sous Chef Atlantis Royal Towers di Bahamas. Degan juga pernah mendesain seluruh menu yang disajikan Banyan Tree di penjuru bumi saat menjabat Group Manager of Culinary Development Banyan Tree. Pada 2010, dia mendirikan Café Degan, restoran yang menyuguhkan masakan Indonesia dan Thailand.

Di sela kesibukannya, nominator Best Asian Chef 2012 ini memandu para kontestan MasterChef Indonesia, ajang yang dirancang untuk melahirkan koki-koki berbakat dan mempromosikan menu Nusantara. “Promosi kita kurang. Rempah-rempah Indonesia terkenal. Pala dan kayu manis dulu lebih berharga dibandingkan emas. Tapi, sedihnya, kuliner Indonesia sekarang kurang dikenal,” jelasnya.

2. Henry Alexie Bloem

Henry pernah memasak bagi sejumlah figur dunia, mulai dari George Bush hingga Xanana Gusmão. Dia merintis karirnya pada 1989 di Bali Mandira Resort. Lebih dari 15 tahun mengabdi di dapur, pria asal Denpasar ini pernah bekerja di 13 properti, termasuk Bali Dynasty Resort dan Melia Panorama Batam, serta mengantongi sejumlah penghargaan, salah satunya Indonesian Chef of the Year 2003.

Kini, Henry Bloem bekerja sebagai Director Food and Beverage dan Executive Chef di Patra Jasa Bali Resort & Spa. Di luar karir profesionalnya, bapak tiga anak ini menjabat President Indonesian Chef Association. Sosoknya juga mulai bersinar sebagai selebriti. Setelah diundang sebagai juri tamu dalam ajang MasterChef Indonesia, Henry Bloem kini menjadi salah satu juri Top Chef Indonesia.

3. Nicolas Tourneville

Pria asal Prancis ini mengaku sangat menyukai rasa pedas, preferensi yang sepertinya lahir dari kebiasaan. Saat bermigrasi ke Indonesia 20 tahun silam, lidahnya sulit beradaptasi dengan rasa pedas.

Setelah lama bermukim di Bali dan beristrikan wanita Indonesia, dia kini justru tak bisa hidup tanpa sambal. Pria yang akrab disapa Doudou ini memulai petualangan profesionalnya di Bali dengan mendirikan Kafe Warisan. Sukses dengan eksperimen pertama, dia membuka Métis, restoran yang menjanjikan pengalaman sensory dining.

Menurutnya, bisnis restoran di Bali sangat kompetitif. Tapi, di tengah iklim tersebut, solidaritas justru terjalin intim. Bersama koki lain seperti Chris Salans dan Will Meyrick, Nicolas kerap menggelar pertemuan dan menjalin kolaborasi. “Kita sering berkumpul untuk saling memberi informasi dan memikirkan strategi pasar,” ujarnya.

4. Chris Salans

Pria berdarah Prancis dan Amerika ini berjasa melambungkan pamor Bali dalam peta kuliner internasional. Mozaic, restorannya di Ubud, berhasil menembus daftar Les Grandes Tables du Monde, bersanding dengan gerai-gerai yang ditukangi Ferran Adrià dan Thomas Keller. Chris Salans mengasah kemampuan memasaknya di Cordon Bleu. Setelah itu, pria kelahiran 1970 ini bekerja di sejumlah restoran ternama, seperti Lucas Carton dan Bouchon.

Bermodal portofolio impresif, Chris hijrah ke Bali dan kini mengelola dua gerai: Mozaic Restaurant dan Mozaic Beach Club. Pendekatan fusion dan molekuler yang ditekuninya tak cuma bersumber dari pengalaman bekerja dengan koki-koki tersohor, tapi juga sekolah kedokteran. Sebelum menjadi koki, Chris empat tahun belajar memahami benda secara ilmiah. “Dengan memahami esensi bahan,” jelas Chris, “saya seperti pengacara andal yang mengerti cara ‘bermain’ untuk memanipulasi sistem.”

5. Will Meyrick

Sarong, Mama San, dan E&O dicirikan dengan ruangan elegan dan presentasi menu berkelas. Uniknya, koki yang memimpin ketiga restoran tersebut justru dijuluki “street food chef.” Will hobi mengeksplorasi kuliner autentik di banyak daerah di Indonesia.

Dia percaya, masakan warung mengandung banyak inspirasi, sebab diciptakan dari resep leluhur dan dijaga oleh rasa cinta pada tradisi lokal. Will pernah singgah di Sop Empal Bu Haryoko di Yogya, menikmati kue pancong di Bukittinggi, dan mencicipi kue khas Makassar di Mama Bakery. Karirnya dirintis di L’Oranger yang dikelola Gordon Ramsay dan Marcus Wareing. Sejak 1998, Will menemukan tambatan hatinya: masakan Asia. Menu favoritnya di Bali: bebek betutu dan lawar.

Berikut rekomendasi mereka untuk sarapan, brunch, makan siang, makan malam, dan late supper: >>>

Share this Article


Comments

Related Posts

526646 Views

Book your hotel

Book your flight