Resor 18 tahun ini sekarang terlihat lebih bugar usai renovasi pada ruang-ruang publik dan 353 kamarnya. (Foto: Conrad Bali)

Oleh James Louie

Senin sore, saya menyusuri pantai sepi berpasir keemasan, menuju kapel Infinity yang menatap laut, untuk melakoni sesi sound healing bersama matahari terbenam. Sepanjang jalan, masih sulit dipercaya bahwa tadi pagi saya terbangun di tengah ingar- bingar Jakarta.

Obor-obor menerangi jalan setapak yang membelah kolam. Pramutamu menuang teh herbal ke cangkir mungil. Di dalam kapel yang diterangi lilin, rangoli cerah yang melambangkan tujuh chakra ditata di sekitar matras-matras cokelat.

Kevin Girard, General Manager asal Toronto, duduk di sebelah saya. “Janji ya, pukul saya jika saya mendengkur,” bisiknya. Beberapa menit berselang, saat pelatihan pernapasan belum separuh jalan, dia sudah terlelap pulas.

Saya punya beberapa pengalaman dengan Tibetan singing bowls, tapi sesi kali ini terasa berbeda. Healer asal Bali menanggapi aura kolektif kami, lalu berimprovisasi dengan berbagai instrumen musik. Hasilnya ialah konser buta yang menyisakan ruang untuk imajinasi.

Untuk tipe kamar Lagoon Access Suite diperluas menghadap kolam. (Foto: Conrad Bali)

Sejam berikutnya, kapel ini dipenuhi irama seruling bambu, handpan perunggu, gong, bel, serta hingga perkusi kayu yang mengeluarkan suara kicauan burung. Pada satu momen, sayup-sayup terdengar irama didgeridoo. Lalu, muncul petikan sitar dan doumbek yang bernuansa Timur Tengah, disusul alunan guzheng khas Tiongkok. Akhirnya, saat healer meniup trompet kerang, kami diminta membuka mata dan ritual ini pun ditutup.

Sesi bernama “The Art of Sound Therapy” ini hanyalah salah satu pengalaman baru tamu di Conrad Bali. Resor 18 tahun ini sekarang terlihat lebih bugar usai renovasi pada ruang-ruang publik dan 353 kamarnya. Tamu akan menemukan akomodasi yang lebih cerah, dengan sentuhan biru dan hijau yang terinspirasi laut. Tipe Lagoon Access Suite diperluas ke arah kolam. Produk kamar mandi Mojave Ghost dari Byredo dalam botol biodegradable kini digunakan di seluruh properti Conrad di dunia.

Resor ini juga mempromosikan lebih banyak cita rasa lokal. Ada es krim kelapa yang digabungkan dengan arak lokal; serta koktail berbahan gin lokal buatan Spice Islands Distilling Co. yang bermarkas di dekat Pantai Keramas. Koktail gimlet dan gin and tonic cocok untuk menyiram lidah usai menyantap berbagai lokal seperti ayam betutu, sate, dan rujak. Semua hidangan ini tersaji dalam Barefoot Beach Barbecue, di mana tamu duduk di tikar anyaman bambu di atas pasir.

Lokakarya bersama L’Atelier Parfums & Créations berdurasi 90 menit dan bermarkas di Seminyak. (Foto: Conrad Bali)

Hari berikutnya, usai sarapan, saya mengikuti Olfactory Experience berdurasi 90 menit bersama di L’Atelier Parfums & Créations. Operator yang bermarkas di Seminyak ini telah menggelar lokakarya membuat parfum sejak 2009. Nora Gasparini, pendirinya yang lahir di Martinique, hadir hari ini. “Beberapa tamu kami mendapati banyak bahan dasar parfum favorit mereka berasal dari Indonesia, karena itu meracik parfum di Bali sangat berarti bagi mereka,” ungkapnya.

Di depan kami terkumpul 43 botol kecil, masing-masingnya berisi aroma berbeda. Saya mengisi kuesioner seputar kepribadian dan gaya hidup, dan merujuk info personal ini dipilih dua set opsi bahan. Saya menghirup aroma pandan, tembakau, juga feses luwak. Katanya, kreasi pertama saya—aroma kayu dan kulit, dengan sentuhan daun rosemary—hampir menyerupai aroma kolonye komersial.

Tawaran baru lain Conrad Bali ialah Purnama Rituals di Pura Sari Sedana, sisi utara resor. Sesi ini dicetuskan di masa pandemi, dalam rangka meningkatkan moral dan solidaritas di antara staf. Kini, upacara tradisional bulanan ini ditawarkan juga kepada para tamu. Dalam ritual ini, tamu diajak tenggelam dalam spiritual Bali, di mana sesi doa biasanya dibuka dengan kelas membuat canang.

Selain sesi spiritual yang khidmat, ada Purnama Celebration Dinner di serambi Eight Degrees South, restoran seafood tepi pantai. Resto ini belum lama meluncurkan menu-menu baru kreasi chef de cuisine Arief Wibowo. Hidangannya merefleksikan kemajemukan kuliner Indonesia. Contohnya kroket ubi berisi rendang, lobster dengan saus merah yang terinspirasi sambal balado, serta mackerel khas Spanyol dengan bumbu woku dan acar sayur.

Dalam ritual ini, tamu diajak tenggelam dalam spiritual Bali, di mana sesi doa biasanya dibuka dengan kelas membuat canang. (Foto: Conrad Bali)

Sebelum menutup sesi makan malam, tamu diberikan pena dan post-it, lalu diminta menuliskan semua hal negatif yang ingin dilepaskan, untuk kemudian dibakar dalam api unggun di tepi pantai. Salah seorang staf resor menjelaskan bahwa makna purnama dalam budaya Bali adalah sebuah awal baru bagi kehidupan seseorang. Saat post-it dilempar ke api unggun, seorang pendeta Bali memimpin ritus melukat dengan memercikkan air suci.

Saat purnama masih terpampang jelas di langit selatan, kami menyusuri Jalan Tol Bali Mandara menaiki jip kuno buatan 1960-an. Saat mentari muncul perlahan di atas puncak Gunung Agung, kami memasuki kawasan Bedugul. Agenda hari ini diberi judul Forest Bathing and Speakeasy Foraging. Disebut“speakeasy” lantaran kami memasuki zona yang biasanya tidak dibuka untuk turis. Katanya, akses ini didapat berkat kemitraan dengan operator tur lokal dan jagawana lingkungan setempat.

Di tepi dermaga Danau Berantan, kami bertemu Audria Evelinn, pendiri kebun organik Little Spoon Farm, serta Ramidin (alias Ram), aktivis lingkungan asal Bedugul yang sangat paham seluk-beluk kawasan ini. Menaiki jukung, kami mengarungi Danau Beratan. Sembari mendayung, saya belajar banyak dari Ram tentang ekosistem lokal, juga upayanya untuk memperluas pertanian organik. Katanya, pestisida dan bahan kimia yang mengalir ke danau pasti akan mencemari sawah di hilir.

Tiba di daratan, Ram mengeluarkan parang tajam. Dia memahami panggilan merpati yang bersembunyi di antara pohon rasamala, juga memperhatikan banyak hal yang tak diperhatikan orang lain, dari anggrek nervilia punctata di lantai hutan hingga situs megalitik.

Kiri: Ramidin (Ram) aktivis lingkungan asal Bedugul. Kanan: Air terjun suci yang bersemayam dekat Pura Tirta Mampeh. (Foto: Conrad Bali)

Ram memetik buah bundar, membelahnya, lalu memperlihatkan getahnya: cairan putih encer yang berubah kenyal mirip karet usai beberapa menit terpapar udara. Di samping sekumpulan pohon rotan, dia mengernyitkan dahinya dan terdiam sejenak. “Populasinya menurun karena banyak orang mengambilnya untuk bahan kerajinan tangan di Ubud,” katanya.

Kami lalu melewati pakis naga yang tumbang, dan mengetahui bahwa tanaman berdaun cantik ini sebenarnya beracun. Ram menusuknya dengan tongkat dan memberi peringatan akan rasa gatal yang diakibatkan daunnya. “Jika disentuh, akan sulit tidur tiga hari.”

Dituntun Ram, kami melacak kayu manis liar, mencicipi lada Jawa, serta daun begonia. Ram juga memperlihatkan keterampilan bertahan hidup di hutan dengan penuh rasa bangga. Dia membelah satu akar liana muda, lalu meminum airnya menggunakan daun yang diikat tanaman rambat. “Ini,” katanya, “lebih baik dari air dalam botol Aqua.”

Tur hutan ini ditutup dengan piknik makan siang di padang rumput di pelataran Pura Tirta Mampeh, suaka terbuka di dekat air terjun suci. Little Spoon Farm telah menyediakan berbagai makanan dalam tabung bambu. Ada tempe goreng, lawar dengan nangka muda, tumis sayur, juga nasi putih dengan ayam suwir.

Empat hidangan makan malam yang disajikan oleh Eight Degrees South. (Foto: Conrad Bali)

Di etape penutup, kami kembali ke jip dengan meniti rute jalan setapak yang lazim dipakai peziarah. Tiga jam berselang, saat kami mendarat di Conrad, lumpur yang melapisi sepatu saya telah mengeras dan rambut saya sangat berantakan. Saya pun bergegas pergi ke kamar untuk mandi dengan air panas.

Malam harinya, kami kembali ke restoran Eight Degrees South untuk menyantap paket hidangan berisi empat menu. Roti-roti yang baru keluar dari oven disajikan di meja. Setelahnya, hadir trio starter mini yang terdiri dari ikan tuna segar, tiram, dan capit kepiting. Lalu, muncul dua jenis sup ikan dalam mangkuk kaca, disusul menu utama sea bass dengan mussel.

Untuk hidangan penutup, ada kelapa yang disajikan dengan tiga metode: sebagai panna cotta yang lezat; diiris tipis dan dipanggang hingga renyah; serta dicampur kaffir lime untuk membuat sorbet yang menyegarkan. Wine terus mengalir selama pembicaraan. Usai pengalaman tiga hari di sini, kembali ke belantara kemacetan Jakarta tak terasa terlalu menakutkan.

Conrad Bali, Jl. Pratama No.168, Tanjung Benoa, Bali; 0361/778-788; hilton.com