Yialos Taverna Menteng
Dine In

Review 5 Restoran di Jakarta, dari Yialos hingga 7 Paintings di Sea Grain

Bulan ini, ada 5 restoran Jakarta yang menarik perhatian, masing-masing hadir dengan pendekatan yang berbeda. Yialos Taverna membawa masakan Yunani ke Menteng dengan filosofi xenia dan interpretasi yang lebih dekat dengan lidah Jakarta. Rozelle bermain dengan masakan Eropa modern dan proses yang membutuhkan waktu.

Di kelompok steik, Pantja Izakaya bertemu Westholme Wagyu dalam sebuah kolaborasi yang mengeksplorasi berbagai potongan Wagyu yang dikembangkan di Australia. Sementara AB Steak di Senayan City hadir dengan pendekatan dan konsep baru yang lebih segar. Di kawasan Menteng, Sea Grain menghadirkan pengalaman bersantap imersif bersama 7 Paintings.

Review 5 Restoran Jakarta yang Kami Coba

1. Hidangan Yunani di Yialos Taverna Menteng

Ada satu kata yang terus muncul dalam The Odyssey, film terbaru Christopher Nolan yang mengangkat kisah perjalanan Odysseus: xenia, atau yang disebut dalam film sebagai “Zeus’ Law”. Singkatnya, ini adalah aturan tentang bagaimana seorang tuan rumah menjamu tamu dengan makanan, tempat berteduh, dan perlakuan yang baik.

Konsep itulah yang terlintas ketika Bobby Handoko menjelaskan Yialos Taverna di Menteng. “Pokoknya setiap tamu yang di sini harus dijamu dengan baik,” katanya, mengacu pada xenia yang menjadi salah satu filosofi restoran ini.

Baca Juga: Wajah Baru Presidential Suite The St. Regis Singapore

Fasad Yialos Taverna Menteng. (Foto: Yialos Taverna Menteng)

Bobby punya alasan personal untuk membawa masakan Yunani ke Jakarta. Ketertarikannya bermula ketika ia mencicipi masakan Yunani semasa kuliah di Melbourne, kemudian ia mencoba memasaknya sendiri, yang kemudian menjadi awal berdirinya Yialos Grill & Souvlaki di Senopati. Tahun 2026 ini, Bobby membawa Yialos ke Menteng.

Yialos Taverna menempati rumah bersejarah di Jalan Pasuruan yang dulunya merupakan kediaman Alexander Papadimitriou, serta dikenal sebagai The Jakarta Salon–tempat berkumpulnya para seniman modern Indonesia. Lahan yang tersisa digunakan untuk membangun ruang makan berdinding kaca, smoking area, serta dapur, sementara bangunan lamanya tetap utuh dan menjadi bagian dari restoran.

Saya datang dengan bayangan yang cukup sederhana tentang masakan Yunani: hidangan Mediterania yang segar, olive oil, dan mungkin rasa yang tidak terlalu agresif di lidah. Ternyata perkiraan itu tidak sepenuhnya berlaku di sini.

Watermelon salad, misalnya. Semangka yang manis dipertemukan dengan keju, sementara grilled octopus datang dengan chimichurri yang membuat rasanya lebih flavourful. Halloumi saganaki, keju yang dipan-sear hingga kecokelatan, juga tidak datang dengan rasa yang flat. Begitu pula marides tiganites, ikan teri kecil yang digoreng renyah.

Bobby memang mengesampingkan idealisme akan cita rasa dan autentisitas. Ia ingin masakan Yunani bisa dinikmati seluruh kalangan. Karena itu, sejumlah hidangan diberi permainan bumbu yang lebih kompleks dan rasa yang lebih berani.

Setelah beberapa piring pembuka, Bobby datang membawa salt-baked barramundi. Ikan dipanggang dalam balutan garam laut lalu disajikan dengan fried capers dan olive oil. Rasanya gurih, tetapi tetap memberi ruang untuk rasa asli ikan. Kami merekomendasikan Indonesian Horta sebagai side dish, yaitu kangkung yang dimasak dengan feta cheese. Perpaduan keduanya ternyata cukup kawin.

Baca Juga: 3 Destinasi Wajib Saat Berlibur ke Swedia

Untuk yang baru pertama kali datang, Bobby merekomendasikan meat platter. Alasannya sederhana: daripada bingung memilih, lebih baik mencoba beberapa sekaligus. Ada lamb gyros, lamb chop, lamb kofta, dan chicken skewer, lengkap dengan saus.

Ada beberapa hidangan lain yang kami coba, termasuk harissa prawn dan Yialos fragrant rice. Namun rangkaian santap malam itu akhirnya ditutup oleh tiga dessert.

Pagoto Kunafa Pistachio, menjadi semacam palate cleanser. Es krim yogurt disajikan dengan kunafa yang diberi sentuhan kelapa. Lalu ada Sticky Date Pudding dengan saus butterscotch yang datang hangat. Penutupnya adalah Portokalopita, orange cake khas Yunani dengan tekstur yang bagi saya mengingatkan pada bika ambon, tetapi dengan aroma jeruk yang lebih kuat.

Yialos berhasil membuat masakan Yunani terasa lebih akrab di lidah saya, tanpa membuatnya kehilangan karakter. Tiap-tiap hidangan meninggalkan kesan tersendiri. Saya datang dengan rasa penasaran, lalu pulang sambil memikirkan kapan bisa kembali.

Yialos Taverna buka setiap hari, Minggu hingga Kamis pukul 08.00-22.00, sementara Jumat dan Sabtu buka hingga pukul 23.00. Restoran ini berlokasi di Jl. Pasuruan No. 1 & 3, Menteng, Jakarta Pusat.

2. Hidangan Eropa Modern di Rozelle, Menteng

Satu lagi review restoran Jakarta hadir di kawasan Menteng: Rozelle. Didirikan oleh Chef Noorsetyo Utomo, Chef Marion Charbonnier, dan Tyas Suryaningrum, kakak Tyo, restoran ini membawa konsep modern European bistro dengan satu filosofi: crafted with time. Marion, yang punya latar belakang kuliner Italia, membawa teknik dan craftsmanship Eropa yang kemudian bertemu dengan teknik Tyo serta pemahamannya akan cita rasa lokal.

Filosofi tersebut terasa dari dapurnya. Rozelle membuat sendiri naturally fermented focaccia, house-cured bresaola and chorizo, fresh stracciatella, hingga handmade cheeses. Fermentasi, curing, aging, dan resting bukan sekadar proses, tetapi bagian dari karakter hidangan yang mereka sajikan.

Jika berkunjung, mulailah dari The Rozelle Board yang berisi house charcuterie, fresh and ripened cheeses, focaccia, dan seasonal accompaniments. Kemudian, coba Beef Tartare dari wagyu tenderloin dengan potato crisps, serta Seared Tiger Prawns dengan corn velouté, olive tapenade, dan pancetta.

Di hidangan utama, Rosemary Fried Chicken dengan nduja butter menjadi salah satu yang patut dicoba. Charcoal-Grilled Salmon disajikan dengan risoni dan beurre blanc, sementara Wagyu Braised Ribs datang dengan Asian-spiced broth, rice noodles, dan coriander. Menu-menu ini mempertemukan teknik Eropa dengan rasa yang terasa lebih dekat dengan lidah Asia.

Untuk penutup, Mango Pavlova dengan mango sorbet, passion fruit curd, dan whipped cream terasa ringan dan menyegarkan. Coffee & Dark Chocolate Tart dengan dulce de leche dan mascarpone lebih rich.

Rozelle kini telah resmi dibuka untuk publik di kawasan Menteng. Selama periode soft opening hingga 30 September 2026, pengunjung dapat menikmati bottomless house mocktails dengan minimum spend Rp150.000.

Baca Juga: Daftar 47 Hotel dan Resor di Indonesia yang Raih MICHELIN Keys 2026

3. Kolaborasi Pantja Izakaya dan Westholme Wagyu

Review restoran Jakarta selanjutnya adalah Pantja Izakaya. Restoran ini dikenal dengan pendekatannya terhadap bahan-bahan, seperti teknik Jepang, binchotan, robata, dan yakitori digunakan untuk membiarkan karakter bahan tetap menonjol. Menu mereka pun banyak bergerak mengikuti bahan yang sedang tersedia dalam kondisi terbaik.

Sementara itu, Westholme merupakan produsen Australian Wagyu yang mengembangkan genetics dari bloodline Jepang dalam kondisi Australia. Sapi-sapinya menghabiskan masa awal dengan grazing dan kemudian melalui proses grain finishing, menghasilkan daging dengan marbling, tenderness, dan karakter beef yang khas.

Keduanya kemudian bertemu dalam sebuah kolaborasi yang menerjemahkan Westholme Wagyu lewat cara memasak Pantja. Ada Korean Short Rib yang dimasak perlahan bersama daikon, shiitake, dan kimchi; Gyutan yang disajikan yakiniku-style dengan kuro shichimi dan lemon; serta Gyukatsu Sando dari rib eye dengan shokupan dan tonkatsu sauce. Untuk menikmati wagyu dengan cara yang lebih straightforward, pesan Rib Eye Yakiniku yang dimasak cepat di atas binchotan, atau Striploin yang dipanggang di robata dengan kayu rambutan untuk memberikan aroma smoky.

Eksperimen ini bahkan dibawa ke dessert dan bar. Beef Fat Caramel hadir bersama vanilla ice cream, sobacha, dan smoked sea salt, sementara Beef Tallow Godfather memadukan bourbon, beef tallow, Laphroaig, koji, dan bitters.

Menu kolaborasi Westholme Wagyu ini tersedia dalam waktu dan jumlah terbatas, menyesuaikan stok yang tersedia di Pantja Izakaya.

4. Babak baru AB Steak by Chef Akira Back

AB Steak by Chef Akira Back memasuki babak baru. Lewat “The New Chapter & Flavours of AB Steak”, restoran yang selama ini dikenal sebagai premium modern Korean steakhouse ini memperluas menunya dengan seafood, sayuran, hidangan mentah, serta interpretasi baru dari cita rasa Korea dan Asia. Steak tetap menjadi andalannya, tetapi kini ada lebih banyak yang bisa dipesan di meja.

Perubahannya terasa sejak hidangan pembuka. Dry Aged Kanpachi Carpaccio menyajikan kanpachi yang melalui proses dry-aging, kemudian dipadukan dengan san bai zu, apple, watermelon radish, kimchi salt, macadamia, dan herb oil. Karakter segarnya tetap terasa, tetapi hadir bersama elemen yang lebih gurih dan kompleks. Untuk pilihan yang lebih indulgent, ada Wagyu & Foie Carpaccio, yang mempertemukan wagyu tenderloin dan foie gras torchon dengan salsa verde dan chojang.

Pengalaman di meja juga hadir lewat Smoked Salmon Nigiri. Beetroot-cured salmon dipadukan dengan crispy potato dan wasabi mayo, sebelum hidangan tersebut diselesaikan dengan smoking presentation di hadapan tamu. Sementara itu, Wagyu Foie Gras Bibim membawa Australian Wagyu flank, seared foie gras, crispy egg, sayuran, dan bap sauce ke dalam sajian yang terasa lebih dekat dengan akar Korea-Asia AB Steak.

Di kelompok steak, The Prime Selection berisi tiga potongan pilihan chef, masing-masing 170 gram. Ada pula The Grand Selection dengan lima potongan dalam bobot yang sama, cocok untuk mereka yang ingin membandingkan karakter beberapa cut dalam satu hidangan. Pilihan lain seperti Jumbo Tiger Prawn, Crispy Seabass, Grilled Mushroom, Roasted Broccolini, dan AB’s Caesar membuat menu kali ini tidak hanya bergantung pada daging.

Meski arahnya semakin luas, identitas AB Steak tetap bertumpu pada dua hal yang sudah menjadi bagian dari pengalamannya: premium beef dan pengaruh Korea. Proses dry-aging dilakukan di dalam restoran, sementara tableside grilling masih menjadi bagian dari cara steak disajikan. Bedanya, kini ada lebih banyak cara untuk menikmati AB Steak, baik untuk kembali menikmati steak yang menjadi cirinya maupun menjelajah hidangan lain di daftar menu.

5. 7 Paintings di Sea Grain, DoubleTree by Hilton Jakarta Diponegoro

DoubleTree by Hilton Jakarta – Diponegoro bersama 7 Paintings menghadirkan pengalaman bersantap imersif yang memadukan seni, teknologi, dan kuliner di Sea Grain Restaurant & Bar. Berlangsung selama 2,5 jam, pengalaman ini menggabungkan tujuh hidangan dengan proyeksi visual 3D, musik, serta elemen interaktif yang melibatkan para tamu dalam perjalanan artistik.

Setiap hidangan terinspirasi oleh seniman dan aliran seni berbeda. Perjalanan dimulai dengan Tomato Praline dalam sesame tart shell, terinspirasi Michelangelo, dilanjutkan Beef Tonnato dengan tuna dan caper sauce yang merujuk pada Banksy, serta Baked Salmon dengan lemon beurre blanc dan potato fondant yang terinspirasi Pablo Picasso. Kreasi berikutnya mencakup Vegetable Painting dengan spinach, coconut, dan beetroot purée ala Jackson Pollock, serta Braised Beef Cheeks dengan sweet potato purée dan glazed sugar snap peas yang terinspirasi Andy Warhol.

Dua hidangan penutup melengkapi perjalanan ini, yakni Crème Catalana dalam potato tart dengan mint, berries, dan salted caramel ice cream, terinspirasi Salvador Dalí, serta Chocolate Painting di atas chocolate cake dengan tiga saus yang terinspirasi Vincent van Gogh. Tersedia pula menu vegetarian dengan rangkaian artistik tersendiri.

7 Paintings berlangsung setiap Jumat dan Sabtu pukul 19.00, mulai 23 Oktober 2026, dengan harga Rp1.500.000 net per orang untuk Classic Menu, Rp1.300.000 untuk Vegetarian Menu, dan Rp750.000 untuk Kids Menu. Reservasi dapat dilakukan melalui 7paintings.com/en/jakarta. (chs)