Abra (kapal tradisional) bersandar di Dubai Creek.

Teks dan foto oleh Adithya Pratama

Cerita 1001 Malam sering menggambarkan sebuah oase dengan segala keindahannya di tengah gurun pasir yang tandus. Di milenium kedua ini, mungkin oase tersebut tergantikan oleh Dubai. Sebagai kota dengan perkembangan paling pesat di Uni Emirat Arab, Dubai menjadi salah satu destinasi wisata utama serta menjadi pusat bisnis. Pusat-pusat perbelanjaan mewah bertebaran. Gedung tertinggi di dunia berdiri kokoh di tengah kota. Salah satu yang menarik—dan mungkin sering dilupakan oleh para turis—adalah pasar tradisional khas Timur Tengah atau souq.

Dubai dengan lebih dari dua juta penduduk dibagi menjadi dua kawasan: Downtown Dubai dan Bur Dubai—dikenal pula sebagai Old Dubai. Masing-masing dari area ini memiliki eksotisme dan daya tarik tersendiri. Bagi mereka pemuja hal-hal modern, Downton Dubai akan memuaskan hasrat mereka dengan kehadiran mal-mal ekstra besar seperti Dubai Mall dan Mall of Emirates yang terletak tidak jauh dari Jumeirah; rumah bagi hotel bintang tujuh Burj Al-Arab. Di kawasan ini terdapat juga Souk Madinat Jumeirah, pasar modern yang merupakan salah satu titik turisme di Dubai. Di sini, turis bisa belanja suvenir seperti pakaian atau kain Arab serta aksesori rumah ala Maroko.

Kiri-kanan: Suasana Pasar Modern Madinat Jumeirah; Old Market Dubai yang bersih dan nyaman.

Souq aslinya adalah pasar tradisional dengan area terbuka. Menurut catatan sejarah, pasar ini biasanya didirikan di luar kota. Dulu, souq menampung pedagang-pedagang luar kota yang datang dengan gerobaknya. Karena isinya pedagang musiman, jadwal buka souq pun tak tentu. Di masa lalu, souq tak hanya sebuah pasar, mereka juga kerap menggelar festival budaya. Namun, karena perkembangan zaman sekarang souq dibuka permanen di satu wilayah.

Di sisi utara area modern perkotaan tersebut, Bur Dubai seolah menjadi kawasan konservasi dengan nuansa khas Timur Tengah. Bertolak belakang dengan area pusat kota yang modern. Pasar seperti Gold Souk dan Spice Souk menjadi primadona dengan beragam bumbu khas Arab sebagai barang dagangan. Selain dua pasar tersebut, Pasar Lama Dubai dan Pasar Ikan Dubai juga seakan mengajak turis untuk lebih membumi di kota gemerlap tersebut. Di sini Anda bisa juga menjajal Abra, alat transportasi umum berupa perahu bermotor kecil yang membawa Anda ke Deira menelusuri Dubai Creek.

Suasana pasar ikan di Dubai.

Pasar Ikan Dubai menjadi tujuan pertama saya. Begitu menginjakkan kaki di sini, saya disambut oleh pedagang-pedagang lokal. Aroma amis selayaknya pasar ikan di penjuru dunia menyeruak menusuk hidung. Terdengar ramai kicau burung camar di sisi luar. Di kanan kiri saya terdapat bertumpuk-tumpuk ikan tuna, rajungan, bayi gurita, sampai udang lobster dan tilapia siap untuk dibeli. Saya langsung teringat pasar ikan di Muara Angke, namun dengan kondisi jauh lebih bersih.

Tak hanya berbelanja, di sini para pembeli juga bisa memproses ikannya secara langsung di ruang khusus. Terlihat beberapa orang sibuk membersihkan sisik dan isi perut ikan belanjaannya. Di sekitarnya beberapa penjual tampak menjajakan telur ikan dan teripang. Seperti pasar ikan lainnya, hasil laut yang telah dikeringkan juga diperdagangkan. Tak seperti di Indonesia, di pasar ikan Dubai ini tidak hanya jambal atau udang yang saya temukan, tetapi ikan salem kering diasinkan serta kulit ikan kudu-kudu. Malah beberapa ikan eksotis yang seharusnya dilindungi seperti hiu dan manta ray juga diperjualbelikan di sini. Sayang sekali.

Kiri-kanan: Fasad Souk Madinat Jumeirah; daging ikan salmon yang dikeringkan dan diasinkan.

Satu kilometer dari pasar ikan tersebut, saya sampai di tujuan selanjutnya yakni Spice Market. Rempah-rempah kering menggunung. Para pedagang menawarkan bumbu dan ramuan segar. Mulai dari kayu manis hingga kuntum bunga mawar dan Arabic gum yang banyak dipakai sebagai pelapis luar permen karet dan cokelat. Di sebelah pasar yang ramai itu berdiri Gold Market yang mirip dengan Pasar Cikini atau Pasar Baru di Jakarta. Pasar ini khusus menjual emas yang konon harganya sangat murah di Dubai. Sayang karena hari Jumat, pasar tersebut tutup. Urung mengunjungi Gold Market, saya memutuskan untuk mencoba sesuatu yang lebih modern.

Senja di Dubai. Terlihat bangunan ikonis Burj Al Arab.

Puas dengan belanja di pasar tradisional, saya mengarahkan kaki saya ke kompleks The Dubai Mall yang bersarang di dalam gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa. Bangunan seluas 50 hektare ini menaungi lebih dari 1.200 toko yang tersebar di enam lantai. Selain itu wahana hiburan seperti arena seluncur es dan Dubai Aquarium pun terdapat di dalamnya. Saking besarnya, Anda bisa melakukan aktivitas menyelam di akuarium raksasa itu.

Belanja barang bermerek bisa dijadikan agenda utama di sini. Merek-merek department store internasional seperti  Galeries Lafayette, Debenhams, Bloomingdale’s, Waitrose, dan Marks & Spencer berlomba menarik pembeli di mal yang berdiri pada 4 November 2008 ini. Butik-butik tunggal seperti Louis Vuitton, Burbery,  Gucci, dan masih banyak lagi juga membuka cabangnya mal mewah tersebut. Namun bukan itu yang menggoda saya. Saya lebih tertarik dengan hadirnya restoran-restoran asal Amerika Serikat dan Eropa yang membuka gerainya di sini. Seperti Hummingbird Bakery dari London, Pierre Herme & Laduree dari Paris, hingga Magnolia Bakery dari Bleecker Street, New York. Di toko terakhir, saya menikmati puding pisang khas Magnolia Bakery yang tersohor dan mendunia.

Kiri-kanan: Kholas Pecan Pie di Cafe Bateel; dapur Magnolia Bakery dengan kaca tembus pandang.

Restoran lokal yang saya sempat jajal makanannya adalah Café Bateel. Ini merupakan salah satu toko pastry paling populer di Dubai. Café Bateel menjual beraneka kurma dikemas dalam bungkus menarik yang bisa dijadikan oleh-oleh. Namun di sini yang wajib dicoba adalah menu-menu kuenya. Saya mencicipi Kholas Pecan Pie berisi irisan kacang pecan dan kurma. Roti menteganya yang renyah namun lembut di dalam ditutup dengan campuran kacang pecan, kurma Kholas yang kenyal serta kurma dhibs. Semua berpadu sempurna. Tak heran kue ini menjadi kue terlaris di Bateel. Hidangan kedua yang saya coba adalah Pear & Date Temptation. Potongan buah pir segar dipadu dengan mousse pir dan vanila serta dilapisi kurma karamel terasa nikmat hingga suapan terakhir. Tak heran apabila toko ini cukup disukai banyak orang di Dubai. Jelas saya akan meninggalkan Dubai dengan kenangan manis.

Kain-kain khas Arab.

Sejatinya, belanja—baik di mal maupun pasar tradisional—membawa sensasi tersendiri. Bagi saya, pasar tradisional bisa memberikan kesempatan lebih untuk mengenal budaya lokal serta mengamati kebiasaan-kebiasaan yang tentunya berbeda di setiap negara.

DETAIL
Dubai

Rute
Penerbangan dari Jakarta ke Dubai dilayani hampir setiap hari oleh Emirates (emirates.com) dan Qatar Airways (qatarairways.com).

Penginapan
Jika uang bukan masalah bagi Anda, tak ada salahnya menjajal hotel termewah di dunia, Jumeirah Burj Al Arab (971-4/301-7777; jumeirah.com; doubles mulai dari $1.271). Pilihan lainnya adalah hotel yang pernah dijadikan tempat syuting film Mission Impossible: Ghost Protocol, Hotel Armani (Burj Khalifa; 971-4/888-3888; dubai.armanihotels.com; doubles mulai dari $517)

Aktivitas
Mumpung di Dubai, mungkin ini kesempatan untuk mencicipi makanan kreasi koki dunia Gary Rhodes dan Gordon Ramsay. Restoran milik Rhodes bisa ditemukan di Hotel Grosvenor House, sedangkan restoran milik Ramsay berlokasi di Hilton Dubai Creek. Keduanya menawarkan sajian kelas atas berbintang Michelin. Pergi ke pantai juga menjadi opsi liburan di Dubai. Pantai Al Mamzar menawarkan pasir putih dan unta yang bisa disewa menelusuri pantai. Sementara itu, tur lainnya yang tak boleh dilewatkan adalah menjelajah padang pasir dengan menggunakan kendaraan jip.