48 Jam di Sawahlunto

Sempat merana pasca-susutnya bisnis batu bara, Sawahlunto kini justru bersinar setelah salah satu bekas tambangnya dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia.

Sepiring Pecel Bu Surya yang menggugah selera.

Oleh Atikah Zata Amani
Foto oleh Muhammad Fadli

SABTU

08:00 Pecel Bu Surya
Pada 1970-an, seorang wanita asal Yogyakarta merintis sebuah warung pecel yang kemudian menjadi ikon kuliner Sawahlunto. Nama resminya Pecel Bu Surya (Jl. Abdul Rahman Hakim), tapi lantaran lokasinya di sebelah Museum Lubang Mbah Soero, banyak orang lebih mengenalnya sebagai Pecel Mbah Soero. Harga pecelnya ramah kantong, hanya Rp10.000 per porsi berisi potongan sayuran segar dengan kuah kacang yang diracik langsung di cobek.  

Lorong batu bara yang kini diubah menjadi obyek wisata Museum Lubang Mbah Soero.

10:00 Museum Lubang Mbah Soero
Ini mungkin satu-satunya museum yang memakai nama seorang mandor. Bekas tambang batu bara warisan Belanda, Museum Lubang Mbah Soero (Jl. Abdul Rahman Hakim) menawarkan kesempatan memahami sejarah Sawahlunto sebagai lumbung “emas hitam.” Wujud aslinya dipertahankan, walau beberapa bagiannya disangga beton atas alasan keamanan. Atraksi utama di sini ialah menelusuri jalur lori, melacak bongkahan batu bara yang tertanam di dinding, dan, jika beruntung, membawa oleh-oleh serpihan batu yang kebetulan rontok. (Ini juga satu-satunya museum di mana “benda koleksinya” boleh dibawa pulang.)

Bangunan Museum Goedang Ransoem dilihat dari atas.

11:30 Museum Goedang Ransoem
Pada 1918, pemerintah Belanda mendirikan Gudang Ransum yang berfungsi sebagai dapur umum untuk memasok perut ribuan pekerja tambang, pasien rumah sakit, hingga pejabat kolonial beserta keluarga. Kompleks ini terdiri dari 10 bangunan dan mengolah 3,9 ton nasi saban harinya, dan Museum Goedang Ransoem (Jl. Abdul Rahman Hakim) menyajikan memorabilia yang tersisa dari era itu. Di sini tersimpan misalnya periuk berukuran raksasa, serta beragam peralatan makan yang dibedakan berdasarkan strata sosial pemakainya. Menambah daya tarik museum, pengelola menyelipkan Galeri Etnografi, Galeri Malaka, serta Iptek Center.

Seorang pramusaji tampak sedang menyiapkan berpiring-piring dendeng di Rumah Makan Dendeng Batokok.

13:30 Rumah Makan Dendeng Batokok
Tipikal daerah perlintasan di Jalan Lintas Sumatera, Muaro Kalaban mengoleksi banyak restoran. Tapi ada satu restoran di sini yang sudah beroperasi bahkan saat Jalan Lintas Sumatera baru dicetuskan oleh Presiden Soekarno pada 1965: Rumah Makan Dendeng Batokok (Jl. Lintas Muaro Kalaban). Menu andalannya dijelaskan oleh namanya: dendeng batokok, yakni daging berbumbu yang dibakar di atas bara kelapa lalu di-tokok (di-geprek) dan disiram minyak kelapa. Kecuali sangat lapar, sebaiknya jangan datang sendiri. Satu porsi dendeng batokok berisi hingga enam potong daging.

Arsitektur Gereja St. Barbara yang masih terawat dengan baik.

15:00 Tur Arsitektur
Berbeda dari kota lain di Sumatera Barat, Sawahlunto menyimpan banyak bangunan kolonial yang masih lestari, sebagian berstatus cagar budaya. Cukup berjalan kaki, Anda bisa mengunjungi beberapa di antaranya. Gedung Societeit (Jl. Ahmad Yani 279), bekas ruang pesta pejabat Belanda, dialihfungsikan menjadi Gedung Pusat Kebudayaan. Di depannya, ada gedung renta Hotel Ombilin (Jl. Ahmad Yani). Masih di lokasi yang sama, berdiri Kantoor Ombilin Mijnen (Jl. Lubang Panjang) yang dihuni kantor PT. Bukit Asam, serta Gereja St. Barbara (Jl. Yos Sudarso No.45).

Lapangan Segitiga jadi tempat kongko favorit warga lokal.

17:00 Lapangan Segitiga
Warga lokal menyebutnya Lapseg, akronim dari Lapangan Segitiga (Saringan, Barangin). Ibarat Piazza San Marco versi Sawahlunto, tempat ini adalah sentra keramaian sekaligus pusat hiburan warga. Ada panggung terbuka yang menampilkan kesenian rakyat seperti kuda kepang (kuda lumping) dan wayang kulit. Ada pula jaringan internet gratis yang bisa diakses umum. Sembari duduk di bangku taman yang nyaman, nikmati jajanan mi ayam dan sate Padang.

Comments