Tur Emas ke Perut Bendigo

Rongga-rongga di perut Bendigo terus ditelusuri manusia, walau kali ini bukan untuk memburu logam mulia, melainkan melacak sejarah kejayaan kota.

Saya turun hingga level dua. Penyuka tantangan bisa turun hingga ke level sembilan. Nama tur ini membuat bulu merinding: Nine Levels of Darkness.

Central Deborah Gold Mine adalah tambang emas yang terakhir ditutup. Beroperasi selama 15 tahun, dari 1939 hingga 1954, tempat ini memproduksi sekitar 900 kilogram emas. Ide cemerlang lalu timbul untuk menyulapnya menjadi museum. Bendigo tak lagi memikat pemburu logam, tapi setidaknya ia memiliki aset sejarah untuk menggoda turis. Pada 1986, museum dibuka dengan tawaran blasak-blusuk terowongan.

Tapi ide itu tidak mudah untuk dieksekusi. Lorong-lorong bawah tanah bukan tempat jalan-jalan yang ideal bagi turis. Infrastruktur tambahan mesti dipersiapkan dan emas tak lagi tersedia untuk membiayai itu semua. “Kami butuh setidaknya seratus ribu dolar per tahun untuk memompa air dan mengurus segalanya,” ujar Darryl. “Jika tidak, air akan memenuhi tambang, sehingga eksplorasi mustahil dilakukan.” Saat ini tambang hanya bisa diakses hingga level sembilan. Lebih dalam dari itu hanya ada kolam raksasa. Dan saat pompa berhenti beroperasi, kolam itu menggenangi level-level di atasnya.

Joss House of Bendigo, salah satu kuil Cina yang masih beroperasi hingga sekarang.

Jika catatan gemilang dari masa lalunya dilucuti, Bendigo hanyalah sebuah permukiman yang sederhana. Dengan populasi sekitar 100 ribu jiwa, dengan jalan-jalan yang saban hari nyaris kosong, “kota praja” ini terasa begitu sunyi. Melihat sepintas, sulit dipercaya Bendigo pernah menjadi tanah harapan.

Tapi jejak demam emas masih bisa ditemui di penjuru kota, antara lain berupa ikon-ikon budaya yang lahir dari gairah tambang itu sendiri. Beberapa tahun setelah penemuan emas, Bendigo disatroni banyak pekerja impor. Tidak hanya dari daratan Eropa, tapi juga sekitar 5.000 pekerja tambang asal Cina. Artefak yang mereka tinggalkan antara lain Golden Dragon Museum yang menyimpan barongsai super panjang, serta kelenteng sepuh Joss House.

Joss House berbeda dari kelenteng lain yang pernah saya datangi. Fisiknya mungil. Dua patung naga menyambut tamu di pekarangan. Tadinya kompleks ini menampung enam bangunan. Tapi cuma satu yang bertahan.

Kiri-kanan: Trem yang digunakan sebagai transportasi publik di Bendigo; suasana sore hari di Central Bendigo.

Potret kejayaan masa lampau juga bisa disaksikan dalam wujud koleksi bangunan Victorian yang melimpah. View Street, salah satu jalan utama di pusat kota, adalah lokasi terbaik untuk menyaksikannya. Awalnya dibangun untuk melayani transportasi antara Bendigo dengan Eaglehawk di akhir 1880-an, kawasan ini bertransformasi menjadi pusat perbelanjaan elite empat dekade kemudian. Banyak bangunan di View Street telah beralih fungsi, tapi fasad aslinya tetap dipertahankan. Contohnya kantor pemadam kebakaran yang kini menjadi bagian kompleks teater, atau bangunan English, Scottish, & Australian Bank yang dihuni restoran. The Sandhurst Club adalah pengecualian. Sejak didirikan pada 1893, tampilan dan fungsi kelab khusus pria ini tak berubah. Bahkan aturan untuk menolak wanita sebagai anggota masih berlaku.

Masih di kawasan yang sama, ada Bendigo Art Gallery, salah satu galeri seni tertua di Negara Bagian Victoria. Mayoritas lukisan uzur di sini mendo-kumentasikan momen-momen penting dalam periode demam emas dan babad awal Australia. Kodrat Bendigo sebagai kawasan tambang turut menyuntikkan kreativitas ke benak para seniman.

Saya datang saat Bendigo Art Gallery memamerkan foto-foto stereografis langka karya John H. Jones. Di sekeliling ruangan terpajang setidaknya 50 foto yang kebanyakan belum pernah dipubli-kasikan sejak dibuat 150 tahun silam. Beberapa di antaranya merupakan foto lanskap dan kota-kota kecil di rute antara Melbourne dan Bendigo. Kini, dengan bantuan teknologi tiga dimensi, publik bisa menyaksikan adegan-adegan yang dulu disaksikan Jones. Dari balik kaca-mata 3D, saya terlempar ke masa lampau.

Kiri-kanan: Galeri seni Bendigo. Salah satu galeri terbesar di negara bagian Victoria dengan koleksi beragam mulai dari lukisan Abad ke-19 hingga kesenian kontemporer; trem kuno di Museum Bendigo Tramways.

Hanya selemparan batu dari View Street, kawasan hijau Rosalind Park menampung orang-orang yang menggelar piknik. Di hadapan taman, patung George Lansell berdiri jemawa dengan tangan kiri menggenggam sedimen yang mengandung emas. Mengelola hampir 40 tambang, pria asal Inggris itu kerap dijuluki Australia’s Quartz-King. Tapi bukan kekayaan yang membesarkan namanya. Pada 1880-an, George, yang saat itu sudah mudik ke London, diminta kembali oleh warga Bendigo untuk memulihkan industri tambang yang sedang terjun bebas. George juga memiliki yayasan untuk membantu mereka yang menjadi tumbal tambang emas: para janda dan yatim. Di hari terakhir hidupnya, semua gereja di Bendigo memanjatkan doa dan bendera-bendera dikibarkan setengah tiang.

Comments