Prestasi Gemilang Indonesia Convention Exhibition

Di usianya yang masih sangat muda, Indonesia Convention Exhibition berhasil menjadi salah satu tempat pagelaran MICE terbaik di Indonesia.

ICE BSD, indonesia convention exhibitionDesain ICE dirancang oleh firma yang kerap menangani pembangunan fasilitas MICE dunia.

Indonesia Convention Exhibition atau kerap disebut ICE mulai beroperasi sejak Agustus 2015. Di usianya yang masih sangat muda, arena pameran, konvensi, dan rapat ini telah berhasil menorehkan prestasi gemilang di belantika industri MICE di Indonesia sebagai salah satu yang terbaik.

Hanya dalam kurun waktu empat tahun, ICE yang terletak di kawasan BSD City, Tangerang tersebut telah sukses menggelar acara-acara besar berskala nasional dan internasional, seperti GAIKINDO International Auto Show (GIIAS) yang berlangsung berkala setiap tahun hingga konser-konser musisi dunia seperti Katy Perry dan Westlife.

Kami berbincang dengan Ryan Adrian, Presiden Direktur PT Indonesia International Expo tentang perjalanan ICE sebagai salah satu tempat penyelenggara pameran populer di kawasan Jabodetabek dan juga rencana pengembangan ICE ke depan.

ICE BSD, indonesia convention exhibition
Ryan Adrian, Presiden Direktur PT Indonesia International Expo, perusahaan yang membawahi ICE.

Memasuki tahun kelima, apa kontribusi terpenting ICE bagi dunia MICE Indonesia? Kami memberikan suplai fasilitas tempat MICE yang sangat memadai bagi Indonesia. Karena tanpa fasilitas tempat yang memadai, Indonesia tak bisa berkompetisi dengan negara-negara lain sebagai destinasi MICE. Kedua, kami menunjang dan menstimulasi sektor MICE, khususnya secara nasional. Kami juga menggerakkan perekonomian lokal lewat acara-acara yang berlangsung di ICE. Contohnya, jika ada acara besar di ICE, maka imbasnya juga terasa di perekonomian sekitar, mulai dari membanjirnya pengunjung di tempat-tempat makan hingga mendongkrak tingkat hunian hotel di sekitar dan juga penerimaan pajak daerah.

ICE merupakan kompleks pameran dan konvensi terbesar di Indonesia. Apa saja keunggulannya dalam hal fasilitas, layanan, dan sumber daya manusia? ICE didesain secara komprehensif sebagai tempat MICE oleh arsitek dan firma desain yang biasa membangun arena pameran dan konvensi kelas dunia. Dengan demikian, secara desain ICE telah teruji kualitasnya. Dari sisi pengunjung, kami juga senantiasa memberikan kenyamanan yang prima, umpamanya lewat ketersediaan toilet yang banyak, area parkir luas, serta infrastruktur sinyal ponsel dan internet yang memadai. Dari sisi sumber daya manusia, kami juga terus mengembangkan kemampuan para staf agar dapat mendukung kebutuhan penyelenggara dan pengunjung, termasuk menyediakan Client Service Officer yang memastikan kebutuhan klien saat menggelar acara di ICE terpenuhi.

Untuk meyakinkan penyelenggara konvensi dan pameran agar mau membawa acara mereka ke ICE, sebutkan tiga nilai jual ICE yang akan Anda tawarkan? Tata ruang di ICE sangat nyaman untuk acara dengan beragam skala. Partisi antar hall bisa dibuka guna menciptakan area pameran yang luas. Untuk acara yang masif seperti pameran otomotif, 10 hall yang tersedia bisa terkoneksi dengan area konvensi. Dengan luas total area pameran mencapai 50.000 meter persegi, ICE dapat menampung 60 ribu orang sekaligus. Kemudian, sistem loading barang yang memang dirancang fleksibel. Pintunya cukup lebar. Pesawat taktis juga bisa masuk. Dengan keunggulan ini kami membuka kesempatan bagi penyelenggara untuk bertindak sekreatif mungkin dalam membuat acara yang kolosal. Sebagai contoh, kami akan menghadirkan ICE Fest akhir tahun ini dengan tema Journey to The Winter Village lengkap dengan area salju. Kami ingin membuktikan bahwa kami bisa membantu mewujudkan ide kreatif klien atau penyelenggara acara. Faktor penunjang lain yang kami tawarkan adalah akses ke lokasi yang cukup mudah dan keamanan yang solid.

ICE BSD, indonesia convention exhibition
Lobi Nusantara Hall, salah satu ruang konvensi di ICE.

Berapa jumlah acara dan pengunjung di ICE dari Agustus 2015 hingga Agustus 2019? Kami telah memfasilitasi lebih dari 1.000 acara dari berbagai skala. Dengan jumlah tersebut, kami merekam jumlah pengunjung lebih dari 10 juta orang.

Mengevaluasi statistik acara dan pengunjung itu, ICE masih punya potensi untuk diperluas? Secara fisik, saat ini kami masih dalam fase satu. Kami belum berencana memasuki fase kedua dalam waktu dekat. Pekerjaan rumah kami adalah memaksimalkan fasilitas yang ada saat ini dan memastikan bahwa seluruh ruang yang ada terisi secara reguler. Jika misi tersebut sudah tercapai, kami mungkin akan masuk ke pengembangan tahap kedua. Namun, tahun ini kami telah menambahkan produk hybrid yang merupakan perpaduan antara exhibition hall dan convention hall bernama Sriwijaya Hall untuk merespons permintaan konvensi dengan peserta ribuan.

Bagaimana ICE merespons perkembangan teknologi? Perkembangan teknologi digital tidak bisa dihindari. Kami juga berusaha untuk mengikuti perkembangan. Namun kami tak ingin latah dan gegabah memasang teknologi terkini. Kami cermati apa yang dibutuhkan, lalu mengaplikasikannya. Saat ini sudah menggunakan sistem Gigabit Passive Optical Network yang terintegrasi dengan sistem AV, internet, paging system, dan CCTV. Selain itu, kami juga memaksimalkan penggunaan media sosial untuk menyampaikan informasi yang akurat dan cepat. Tak ketinggalan, situs informasi yang mudah diakses dan informatif.

Terkait isu lingkungan (sustainability), inisiatif atau praktik apa yang ditempuh ICE untuk mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon? Pada 2017 ICE menerima penghargaan World Gold Winner dari FIABCI atau federasi real estate internasional dalam kategori Purpose to Build. Salah satu faktor penilaiannya adalah desain yang tepat dengan penggunaan serta pemakaian freon yang ramah lingkungan. Desain atap ICE sendiri mampu memaksimalkan penetrasi cahaya natural sehingga dapat mengurangi penggunaan lampu. Kami juga memiliki sistem pengolahan sampah serta daur ulang air yang digunakan kembali untuk menyiram taman dan suplai air toilet.

Acara di ICE sangat variatif, mulai dari bursa buku, konser, hingga pameran otomotif. Dalam rencana kerja tahun berikutnya, apakah ICE akan fokus pada segmen acara atau sektor industri tertentu? Secara teknis, ruang pameran kita lebih luas dibanding konvensi dan meeting. Namun secara jumlah, ruang meeting kita juga banyak. Belum lagi area konvensi hybrid yang baru kami luncurkan. Melihat data fasilitas yang tersedia, pameran tetap jadi fokus utama kami, akan tetapi kami tak segan mengundang para penyelenggara menggelar berbagai macam acara, mulai dari rapat, wisuda, hingga mungkin kampanye politik di ICE mengingat kami memiliki fasilitas yang bersifat fleksibel.

Apakah akan membuka restoran baru, mengingat kini hanya ada satu restoran? Dalam waktu dekat kami akan mengembangkan konsep food and beverage baru. Cendana Lounge di lantai Mezzanine akan diubah menjadi sebuah kafe sementara lounge-nya akan digeser ke lokasi lain. Lounge tersebut dapat digunakan untuk meeting, bersantai, main biliar di antara jeda acara pameran atau konvensi. Selain itu, kami juga tengah menjajaki rencana untuk bermitra dengan pihak ketiga dalam membuat restoran. Untuk saat ini, ketika ada acara besar berlangsung di ICE, kami juga rajin membuat restoran temporer yang digarap oleh tim kami guna mengakomodasi kebutuhan perut penyelenggara acara maupun pengunjung.

ICE BSD, indonesia convention exhibition
Interior Nusantara Hall, ruang konvensi yang sanggup mengakomodasi sekitar 3.000 delegasi.

Merujuk ICCA Statistics Report 2018, Indonesia berada di posisi 36, kembali berada di bawah Thailand, Malaysia, dan Singapura. Adakah agenda dari ICE untuk meningkatkan peringkat Indonesia? Sebagai salah satu penyedia fasilitas MICE, kami juga menggandeng pihak-pihak lain untuk menarik lebih banyak penyelenggara acara ke ICE. Baru-baru ini kami resmi bermitra dengan Kementerian Pariwisata sebagai penyedia salah satu tempat pameran dan konvensi internasional yang dibawa oleh kementerian. Langkah lain yang kami tempuh adalah rajin mengikuti trade show di luar negeri untuk menggaet klien-klien internasional baru.

Informasi lebih lanjut, kunjungi Indonesia Convention Exhibition

Artikel ini merupakan kerja sama dengan Indonesia Convention Exhibition.

Tags : interview
Comments