Ketika mendirikan Nakula Hospitality pada 2012, Christian Sunjoto—CEO Nakula Hospitality memiliki satu visi: menghadirkan pengalaman menginap di vila yang bukan sekadar soal kemewahan, melainkan tentang hubungan manusia di dalamnya.
Berawal dari beberapa properti kecil di Bali, Nakula kini mengelola lebih dari 70 vila dan delapan hotel butik yang mempekerjakan lebih dari 600 orang. Di balik pertumbuhannya, Christian menekankan pentingnya koneksi antarmanusia, baik di antara tamu maupun timnya sendiri. Dalam perbincangan bersama DestinAsian Indonesia, Christian berbagi pandangannya tentang makna perjalanan, filosofi di balik bisnis perhotelan, hingga pergeseran peran vila dalam industri hospitality masa kini.
Beberapa waktu lalu, tepatnya di bulan Juni 2025, tim DestinAsian Indonesia berbincang singkat dengan Christian Sunjoto mengenai bagaimana Nakula dapat hadir sebagai medium untuk para tamu dapat saling terbuka.

DestinAsian Indonesia (DAI): Banyak orang melihat perjalanan sebagai bentuk pelarian atau perayaan. Menurut Anda secara pribadi, apa makna perjalanan yang sesungguhnya?
Christian Sunjoto (CS): Saya selalu melihat perjalanan sebagai ruang untuk berinteraksi secara lebih manusiawi. Saat bepergian, saya berharap bisa pulang dengan pola pikir baru, entah menjadi lebih bersyukur, atau lebih memahami sesuatu yang sebelumnya saya anggap sepele.
Idealnya, setiap liburan bukan sekadar untuk berpose di hotel keren, tapi untuk membangun koneksi antarmanusia yang nyata. Sering kali, kita lupa bertanya hal-hal sederhana pada orang terdekat: “Are you happy?” atau “Is everything okay?”. Padahal, pertanyaan-pertanyaan seperti itu penting sekali, terutama di zaman ketika koneksi sosial terasa semakin dangkal karena tekanan digital dan citra sukses yang tidak realistis.
DAI: Istilah ‘healing’ tengah menjadi tren dalam dunia wisata. Dari sudut pandang Anda, apa esensi ‘healing‘ dalam konteks hospitality?
CS: Healing itu tidak selalu datang dari spa atau pemandangan indah. Di Bali, kadang justru staf housekeeping-lah yang memberi ruang bagi tamu untuk ‘sembuh,’ baik dari sapaan sederhana, atau dengan menawarkan bantuan kecil. Healing sering kali muncul dari interaksi manusia yang tulus, bukan dari tempatnya.
Itulah ironi sekaligus keindahan hospitality di Asia, terutama di Indonesia. Kita punya tradisi keramahtamahan yang sangat personal. Di banyak tempat lain, hubungan antara tamu dan staf terasa lebih transaksional. Tapi di sini, ada perhatian yang genuine, bahkan ketika pertanyaannya sederhana: “Tidurnya nyenyak, Pak?”

DAI: Apakah pernah ada momen dari tamu yang sangat berkesan bagi Anda atau tim Nakula?
CS: Pernah. Suatu kali ada keluarga dari Australia yang menginap untuk merayakan kesembuhan sang ibu setelah menjalani kemoterapi. Mereka bilang, “This is the first time we feel truly cared for.” Itu momen yang sangat menyentuh. Saya selalu ingatkan tim bahwa setiap tamu datang dengan cerita, ada yang merayakan sesuatu, ada juga yang berduka. Jadi tugas kami bukan hanya memberi layanan, tapi menjadi bagian kecil dari perjalanan hidup mereka.
Kadang tamu datang setelah kehilangan pasangan, atau sedang mencari ketenangan. Mereka menemukan kedamaian lewat interaksi sederhana dengan staf, misalnya seorang staf menyapa atau menanyakan kabar, itu membuat mereka merasa diperhatikan. Di situ saya merasa, hospitality yang sesungguhnya tidak hanya soal kemewahan, tapi soal empati.
DAI: Mengapa Anda merasa vila memiliki peran yang berbeda dibanding hotel?
CS: Vila pada dasarnya adalah rumah. Ia memberikan ruang untuk berkumpul, yaitu sesuatu yang semakin langka dalam kehidupan modern. Di hotel, interaksi sering kali terbatas pada kamar atau lobi. Di vila, keluarga bisa sarapan di meja panjang, menonton anak-anak berlari ke sana-ke mari, atau duduk santai di teras sambil mengobrol.
Saya selalu bilang, deep down, setiap orang merindukan kebersamaan itu. Dulu kita tumbuh dengan tradisi makan malam keluarga. Sekarang, bahkan untuk duduk bersama saja sulit sekali. Jadi ketika orang memilih vila, sebenarnya mereka sedang mencari human connection.
Saya tidak pernah melihat vila sebagai sekadar space. Ruang itu hanya platform; yang lebih penting adalah apa yang terjadi di dalamnya.
Seperti sekolah, kamu tidak membayar untuk gedungnya, tapi untuk ilmu yang kamu dapatkan. Di Nakula, kami ingin memberikan ruang bagi keluarga untuk berbicara, berdamai, atau sekadar saling mendengarkan.
DAI: Dari sisi bisnis, bagaimana Nakula membangun sistem pemesanan dan pendekatan terhadap tamu?
CS: Kami membagi dua jenis pemesanan: instant booking dan inquiry booking. Yang pertama biasanya dilakukan lewat situs seperti booking.com, di sini biasanya tamu sudah tahu apa yang mereka mau. Tapi untuk inquiry, tamu bisa bertanya mengenai detail kebutuhan. Dari situ tim kami akan memberi rekomendasi vila yang paling sesuai. Tugas kami juga memastikan pengalaman mereka efisien dan nyaman.
DAI: Bagaimana Anda melihat arah perkembangan vila di Bali ke depan?
CS: Tantangannya sekarang adalah kejenuhan pasar. Dulu desain vila putih minimalis terasa baru, sekarang sudah ribuan yang serupa. Jadi perbedaannya bukan lagi di tampilan, tapi di pengalaman. Kami ingin mengembalikan esensi vila: tempat untuk bersama.
Visi kami adalah menyediakan space and activities that bring families together.
Misalnya makan bersama di satu meja panjang, atau aktivitas ringan seperti manicure session bersama, yang menciptakan ruang obrolan hangat. Semua program itu kami rancang agar tamu bisa berbagi momen bermakna.
DAI: Dalam percakapan Anda tadi, muncul banyak refleksi tentang keluarga dan komunikasi. Apakah pengalaman pribadi turut membentuk pandangan ini?
CS: Saya rasa iya. Saya tumbuh di keluarga yang tidak selalu mudah dalam berkomunikasi. Untuk bicara hal-hal personal dengan orang tua, suasananya harus pas dulu. Karena itu, saya ingin generasi berikutnya lebih terbuka. Pertanyaan sederhana seperti “Are you okay?” kadang bisa membuka percakapan yang sangat dalam.
Kadang kita justru lebih jujur dengan orang asing dibanding dengan keluarga sendiri. Padahal percakapan semacam itu penting dan kadang hanya bisa terjadi dalam momen yang natural, misalnya saat lihat sunset bersama. Tidak harus saling tatap mata, cukup hadir bersama. Alam sering kali jadi mediator terbaik untuk bicara dari hati ke hati.
DAI: Bagaimana Anda melihat dampak digitalisasi terhadap hubungan manusia di era sekarang?
CS: Menurut saya, media sosial adalah salah satu penyebab kita kehilangan koneksi nyata. Orang sibuk mencari validasi lewat foto, bukan pengalaman. Kita ikut antre demi satu foto, tapi lupa menikmati momen itu sendiri. Pertanyaannya jadi: whose approval are you really seeking?
Saya percaya, di masa depan, perjalanan yang paling dicari adalah yang memungkinkan koneksi manusia. Bukan lagi sekadar wellness retreat atau kemewahan, tapi kesempatan untuk reconnect, baik dengan diri sendiri dan orang lain.
DAI: Apakah Anda melihat arah industri hospitality akan bergerak ke sana juga?
CS: Saya yakin. Saat ini, hotel dirancang untuk tidur dengan nyaman, ada eye mask, bantal terbaik, fasilitas lengkap. Tapi ke depan, akan ada lebih banyak properti yang menawarkan sesuatu yang berbeda: ruang untuk terhubung.
Kita semua menua. Dan ketika usia bertambah, kita mulai mencari makna di balik perjalanan. Bukan lagi soal kemewahan, tapi tentang kedekatan dan kebersamaan. Memasak atau manicure bersama, atau sekadar duduk berbagi cerita, aktivitas sederhana itu bisa sangat berarti. Saya berharap Bali bisa menjadi ruang untuk hal-hal seperti ini, bukan hanya tentang pesta atau klub malam, tapi juga tentang human connection yang lebih dalam.











