The Whale. (The Whale. Dorte Mandrup A/S. Renderings by MIR. Desain oleh RAA and Tamschick Media + Space)
Arts

Mengapa The Whale Museum Ramai Diperbincangkan?

Seni selalu jadi topik yang seru diperbincangkan. Mungkin karena konsep atau lokasi yang unik, atau karena bentuk konstruksinya yang menarik perhatian. Salah satu museum yang tengah ramai dibahas adalah The Whale, sebuah pusat pengetahuan dan pengalaman bertema paus yang sedang dibangun di Andenes, Norwegia.

Apa Itu The Whale Museum?

Jika selama ini museum identik dengan ruangan tertutup dan koleksi yang dipajang monoton, The Whale menawarkan pendekatan yang sedikit berbeda. Di sini, arsitektur, sains, seni, dan lanskap Norwegia dibungkus dalam satu bangunan, dengan paus sebagai pintu masuk untuk mengenal lebih jauh dunia laut.

Gagasan mengenai The Whale museum sebenarnya sudah muncul sejak 2014. Saat itu, sekelompok pegiat wisata dan pemerhati paus lokal di Andenes mulai mengembangkan ide untuk menghadirkan sebuah destinasi yang mengangkat kekayaan laut dan kehidupan paus di kawasan tersebut. Proyek ini kemudian secara resmi dibentuk pada 2016.

The Whale. (The Whale. Dorte Mandrup A/S. Renderings by MIR. Desain oleh RAA and Tamschick Media + Space)

Setelah Dorte Mandrup terpilih melalui kompetisi arsitektur pada 2019, proyek ini perlahan memasuki tahap pengembangan. Kontraktor HENT ditunjuk pada 2024, sementara tim Ralph Appelbaum Associates dan Tamschick Media + Space dipercaya mengembangkan konsep pameran dan pengalaman pengunjung.

Pembangunan The Whale sendiri dimulai pada Juni 2025. Kini, bangunan tersebut masih dalam proses pengerjaan dan ditargetkan dibuka untuk publik pada 4 Juni 2027, dengan grand opening sehari sebelumnya, pada 3 Juni.

Dengan luas sekitar 3.750 meter persegi, The Whale nantinya memiliki sekitar 1.800 meter persegi area pameran, ditambah fasilitas pendukung seperti kafe dan toko.

Ketika selesai, The Whale diharapkan bukan hanya menjadi tempat untuk mengenal paus, tetapi juga ruang untuk memahami hubungan yang lebih besar antara manusia, laut, dan alam. Apalagi, pengalaman tersebut akan berlangsung di tempat di mana paus bukan sekadar objek pameran, melainkan habitat yang kemudian dapat disaksikan langsung di luar ruangan.

Dibangun di Andenes, Salah Satu Lokasi Terbaik untuk Melihat Paus

Pemilihan Andenes sebagai lokasi The Whale bukan tanpa alasan.

Terletak di ujung utara Pulau Andøya, sekitar 300 kilometer di utara Lingkar Arktik, Andenes berada di antara Lofoten dan Tromsø. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu lokasi terbaik di dunia untuk melihat paus sepanjang tahun.

Di lepas pantainya terdapat Bleiksdjupa, sebuah ngarai laut dalam yang membantu menciptakan kondisi ideal bagi berbagai jenis paus untuk mencari makan. Posisi tersebut membuat paus dapat ditemukan di perairan sekitar Andenes dala berbagai musim.

Karena itu, The Whale nantinya tidak hanya menawarkan pengalaman di dalam bangunan. Kehadiran paus di habitat asliny menjadi bagian penting dari alasan tempat ini dibangun.

Arsitektur dan Bangunan yang Menyerupai Paus

Jika dilihat dari kejauhan, The Whale tampak seperti sebuah bukit dengan atap melengkung yang perlahan menyentuh permukaan tanah. Dari sudut tertentu, bentuknya juga mengingatkan pada punggung atau ekor paus yang sedang menyelam ke laut.

Bangunan ini dirancang oleh Dorte Mandrup, arsitek asal Denmark yang terpilih melalui kompetisi arsitektur internasional pada 2019.

“Bentuk The Whale yang mulus tampak seolah-olah seorang raksasa dengan pisau yang sangat tajam telah mengelupas lapisan tipis kerak Bumi dan mengukir rongga di bawahnya untuk menyingkap dunia lain,” demikian gambaran Dorte Mandrup, dikutip dari laman resmi The Whale.

Atap melengkung menjadi salah satu elemen utama bangunan. Struktur berupa cangkang beton parabola ini bertumpu pada tiga titik sehingga menciptakan ruang interior yang luas tanpa banyak kolom. Bentuk tersebut juga bukan sekadar untuk estetika. Desainnya membantu mengurangi penggunaan material, sekaligus menyesuaikan bangunan dengan kondisi pesisir utara Norwegia yang memiliki angin kencang dan salju.

Permukaan atap nantinya akan dilapisi batu alam dari kawasan setempat dan dapat dilalui pengunjung. Dari atasnya, pengunjung bisa menikmati pemandangan kepulauan, laut, serta fenomena alam khas kawasan utara seperti matahari tengah malam dan aurora borealis.

Sementara itu, jendela-jendela besar pada bagian bangunan akan membuka pandangan langsung ke laut dan lingkungan di sekitarnya.

Bukan Hanya Melihat Paus

Menariknya, pengalaman di The Whale Museum nantinya tidak hanya berupa deretan informasi atau artefak yang dipajang di balik kaca. Area pamerannya dirancang oleh Ralph Appelbaum Associates bersama Tamschick Media + Space, dengan pendekatan yang menggabungkan sains, seni, storytelling, suara, dan teknologi.

Salah satu area yang akan hadir adalah Species Gallery, yang memperkenalkan sekitar 90 spesies paus yang masih hidup saat ini melalui instalasi seni yang dinamis. Pengunjung juga akan diajak melihat bagaimana nenek moyang paus beradaptasi dengan kehidupan di laut sejak sekitar 50 juta tahun lalu.

Ada pula A Killer Whale Family, instalasi yang menampilkan lima patung orca seukuran aslinya. Patung tersebut dibuat dari kayu dan merepresentasikan individu yang diketahui hidup di perairan Norwegia.

Di ruang Under the Skin, pengunjung akan diajak melihat sisi anatomi paus secara lebih dekat. Koleksinya mencakup tulang, tengkorak, baleen, hingga ratusan wadah berisi darah dari seekor paus. Pengalaman tersebut kemudian dilengkapi dengan suara detak jantung paus yang sedang menyelam.

Bagi yang ingin merasakan seperti berada di bawah laut, ada pula Below the Surface. Area ini dirancang sebagai pengalaman imersif yang membawa pengunjung ke dunia bawah laut, termasuk melihat bagaimana paus mencari makan, menyelam, menyusui, hingga menjadi bagian dari siklus kehidupan di dasar laut.

Sementara itu, Soundscape akan membawa pengunjung lebih dekat dengan dunia suara paus. Ruangan multisensori ini menggunakan suara, cahaya, dan frekuensi panggilan paus untuk menciptakan pengalaman yang berbeda. Beberapa suara paus memiliki frekuensi sangat rendah sehingga dapat dirasakan tubuh, bukan hanya didengar telinga.