Tulang raksasa lautan teronggok di pantai berbatu Kenafatang di Desa Lamalera.

Oleh Fatris MF
Foto oleh Oscar Siagian

Lima tahun silam, di Larantuka, seorang perempuan membentangkan sehelai tenun ikat ke hadapan saya. Sehelai tenunan dengan cerita yang membeku pada motif. “Perhatikan motifnya,” katanya, “mereka berburu raksasa hanya dengan sampan kecil!”

Hari ini, saya melawat ke tempat para pemburu raksasa itu hidup, ke tempat di mana kisah mereka dirajut pada kain layaknya sebuah dongeng yang ditulis di atas kertas. Tapi saya datang saat tenun ikat bukan lagi sekadar kain yang bercerita. Tenun ikat telah memiliki makna lain yang dibentuk oleh mode dan dipertukarkan oleh pasar. Kain ini menjadi tren fesyen; dipakai gadis-gadis peraga yang melenggak-lenggok di atas lantai adibusana; memicu kagum perancang busana sekelas Oscar Lawalata. Kain ini juga terpajang di etalase butik-butik mewah dalam beragam potongan, dengan harga yang digelembungkan oleh kata-kata dan persepsi. Satu kemeja saja bisa dibanderol jutaan rupiah. Apa yang membuat tenun ikat begitu mahal? Bagaimanakah kehidupan orang-orang di tanah kelahiran tenun ikat ini?

Kiri-kanan: Sejumlah wanita yang berbalut kain tenun ikat khas Lamalera sedang menuruni tangga gereja usai mengikuti misa; seorang wanita tengah menenun.

Hampir seluruh pulau di Nusa Tenggara Timur menghasilkan tenun ikat. Termasuk di Lembata, pulau tujuan saya hari ini. Pulau yang lebih dekat ke Darwin ketimbang Jakarta. Pesawat berbaling-baling bising mendaratkan saya di Labuan Bajo. Selanjutnya, saya meniti jalan panjang yang mengocok perut: sempit, menanjak dan menurun mendadak, berlubang, berbelok-belok seperti ular yang membelah sabana yang melapisi bukit-bukit di sini. Jarak tempuh riil kendaraan bisa berlipat-lipat dari jarak di atas peta.

Kadang, saya bermalam di jalan, menanti para pekerja memindahkan longsoran yang mengubur aspal. “Kakak sopir, kenapa pelan sekali?” tanya saya saat mobil meniti jalan sempit. “Ei adik. Ti lihat kah itu jurang di samping? Ih, kalau mobil ini jatuh, 15 kali lagu Indonesia Raya belum sampai kita di dasarnya.”

“Jurang apa itu, kok dalam sekali dasarnya?” tanya saya lagi. “Ti ada dasarnya, adik! Langsung sampai neraka sudah!”

Tiba di Larantuka di pojok timur Flores, saya menaiki kapal kayu yang berangkat pagi hari menuju Lewoleba, Ibu Kota Kabupaten Lembata. Musim kering tengah melanda dan memoles bukit-bukit dalam warna cokelat. Mendarat di Kota Lewoleba, jalan-jalan rusak parah. Berjam-jam saya terguncang di atas jok, melewati desa-desa yang terserak di lereng perbukitan berkarang, sejak siang hingga sore hari. Uber atau GrabTaxi belum sampai di sini. Hanya ada truk beroda enam dengan bak yang diisi tempat duduk. “Taksi” saya tiba di sebuah gapura bergambar raksasa lautan, lengkap dengan serakan tulang-belulangnya.

Bagai memasuki tanah kanibal, hidung saya disengat amis darah. Perempuan-perempuan menjunjung bakul penuh air di atas kepala, tersenyum menyeringai, memperlihatkan gigi yang merah setengah hitam. Rumah-rumah beralaskan tanah dan papan, berdinding anyaman bambu, berhiaskan jaring dan pukat. Di sekeliling rumah, daging raksasa dijemur di atas bilah-bilah bambu yang melintang panjang. Di sini, bau amis mendatangkan aroma wangi kehidupan.

Saya kini memasuki Kampung Lamalera. Kampung bertanah kering yang disusun dari karang dan batu, di mana rumah-rumah tertancap di lereng dan menghadap Laut Sawu. Menanam padi adalah mimpi yang tak pernah terwujud, sebab tanah di sini hanya sudi menumbuhkan ketela dan jagung.

Kaum pria mengasah mata tempuling. Perempuan-perempuan tua menyilangkan benang. Pukul enam sore, gelap menyergap dan lampu-lampu menyala. “Dulu listrik menyala dari siang hingga malam. Tapi, kami tidak mau,” tukas lelaki berbadan legam sembari mengasah tempuling. “Kalau listrik menyala panjang, ei, itu mama-mama tak akan banyak kerja. Kerja mereka akan menonton TV saja. Itu sinetron Jakarta, aih, demi Tuhan, aihh, Bapa Yesus.”

Clara, perempuan yang sedari tadi terdiam, sekarang bekerja merapikan tenunan. Motif-motif raksasa lautan yang dirajutnya belum tuntas. “Seminggu lagi selesai sudah,” katanya. “Di sini perempuan tidak pernah pergi berburu. Dilarang. Kita hanya menggambarnya dalam tenunan. Dan laki-laki tidak boleh memakai tenunan bergambar ini,” sambung Evi Bediona, putri Clara.

Di rumah Clara tempat saya menginap, beberapa perabotan terbuat dari tulang-belulang raksasa. Suaminya, Eliyas Bediona, adalah seorang lemafa, juru tikam raksasa lautan. Raksasa yang terpatri dalam motif tenun; raksasa yang saban tahun melewati Laut Sawu di depan kampungnya.

Motif tenun ikat ikonis Lamalera menampilkan paus dan pledang, yakni perahu tradisional yang lazim digunakan dalam berburu.

Eliyas berumur 70-an tahun, tapi jangan tanya kehebatannya dalam menaklukkan raksasa. Saksikan bagaimana tubuhnya yang kurus melompat dari ujung perahu sembari menggenggam bambu sepanjang 10 meter yang dipersenjatai tempuling. Evi, seorang guru SD, memasak beragam jenis ikan dan sayur. Sayur, beras, jagung, dan bawang didapat dari pasar. Tapi bukan pasar yang lazim, sebab uang tidak berlaku. Pasar barter, begitu dunia menyebutnya. Satu ekor ikan terbang selebar tiga jari dapat ditukar dengan tiga tunggul jagung atau seikat besar sayur. Lima ekor ikan terbang setara satu botol moke, cairan bening memabukkan yang disuling dari buah lontar. Daging raksasa harganya lebih tinggi dan bisa dibarter dengan tembakau.

Sekali seminggu orang-orang dari pegunungan datang membawa sayur dan “komoditas orang daratan” lainnya. Pertukaran komoditas “alam bawah” dan “alam atas” ini berlangsung tanpa terpengaruh kebijakan suku bunga, dan mungkin akan terus berlangsung andaikan rupiah dan dolar tidak lagi dicetak. Semua pihak puas. Orang gunung mendapatkan ikan, orang pantai merasa mujur bisa makan sayur. Impas.

Pagi hari, lima laki-laki yang berselimut sarung berjalan tanpa alas kaki menuju sebuah bukit sakral. Mereka datang dengan tempuling dan dedaunan. Iegereng adalah ritual untuk memanggil segala arwah nenek moyang, termasuk arwah segala raksasa yang bersemayam di rahim lautan. Mereka hendak menemui Tuhan lewat ajaran lama.

Usai meninggalkan batu sakral yang teronggok di atas bukit, mereka berkeliling kampung, lalu berkumpul di pantai berpasir hitam yang menghadap ke selatan, ke Laut Sawu. Mereka merapal mantra, menitipkan kalimat-kalimat purba pada gelombang yang bergulung.

Sore hari, pantai yang dianggap gerbang laut ini ramai. Seisi kampung datang. Lelaki dan perempuan, anak-anak dan kakek-nenek, semua orang berkumpul. Misa Arwah, begitu upacara ini disebut, adalah ritual tua yang disublimasi dengan ajaran Katolik yang merasuk tiga abad silam. Warga memberi penghormatan pada laut, juga pada roh yang bersemayam di lautan: roh para penikam raksasa yang menemui ajal saat berburu. Sebagian korban dikubur di kampung; sebagian hilang ditelan laut. Tapi tidak ada yang menyebut mereka “hilang,” melainkan “diselamatkan” oleh laut.

Tradisi hari berikutnya dinamai Misa Leva. Leva berarti musim turun ke laut, musim perburuan raksasa. Di mimbar, kor mengalun dari bibir-bibir merah perempuan tua pengunyah sirih dan laki-laki berkulit legam. Penduduk satu kampung du duk di atas pasir, berkelompok-kelompok, dipisahkan berdasarkan jenis kelamin layaknya jemaah di masjid. Romo, mereka menyebutnya imam, membaca sederetan nama yang akan di-“misa”-kan, yakni nama para lelaki yang gugur di laut. Daftarnya panjang, dimulai dari mereka yang mangkat pada tahun-tahun sebelum kemerdekaan hingga beberapa tahun silam.

Kiri-kanan: Sanga, seorang lemafa atau juru tikam raksasa lautan-“Kapten Ahab” dari timur; seorang wanita Lamalera, mereka yang bertugas mengabadikan perburuan paus melalui lembar tenun.

Setelah para almarhum didoakan, para yatim berdiri. Lelaki atau perempuan yang bapaknya “diselamatkan” lautan, membawa lilin dan sebuah perahu kecil, kemudian melepas lilin-lilin ke lautan. Entah kenapa lilin tetap saja menyala di tengah embusan angin.

“Saya tidak pernah bertemu saya punya bapa. Bapa meninggal saat saya berumur delapan bulan dalam kandungan saya punya mama,” kata Marcelinus Ratu, salah seorang yatim. Ayahnya berpulang 40 tahun silam usai dihantam raksasa. Ayahnya seorang lemafa, sang penikam yang juga bernama Marcelinus Ratu. Selain mewarisi nama sang ayah, Marcelinus Ratu kini menggantikan posisinya sebagai penikam raksasa.

Kain tenun menjadi pakaian sehari-hari para wanita Lamalera.

Pada 1995, lanjut Marcelinus, ada pledang (perahu) yang diseret raksasa hingga ke pesisir Australia. Tidak sedikit yang ditarik hingga ke dasar laut, karena tempuling yang tertancap di tubuh raksasa terikat ke pledang. Tidak sedikit pula kejadian di luar logika, misalnya tentang seorang pria yang raib ditarik raksasa, lalu muncul kembali setelah tiga jam tenggelam!

Lamalera menganut kosmologi yang unik. Sulit menemukan pria yang tidak minum arak. Namun, ketika musim berburu tiba, seorang lemafa mesti puasa arak dan melakoni selibat. Berburu adalah sebuah laku suci. Aturannya berlapis dan mengikat. Seorang penombak akan mendapatkan bagian dari hasil buruannya, lalu melimpahkan bagiannya itu kepada ibunya. Ia tidak boleh memakan sepotong pun daging hasil kerja kerasnya. Bila sang ibu menukarkannya dengan jagung misalnya, ia juga tidak boleh menyantap jagung tersebut. Sesuatu yang telah diberikan tidak dapat ditarik kembali. Tabu.

Lemafa berguguran, tapi lemafa baru terus diangkat, seperti Yose yang baru berumur 22 tahun. Apa kriteria memilih mereka? “Dinilai dari kecakapannya di tengah laut, kehebatannya menghunjamkan tempuling. Tapi, yang paling penting, harus tabah,” Dion menjawab pertanyaan saya sembari mengunyah daging rebus.

Tiap sore, pantai ramai oleh perempuan. Laki-laki saling berbincang membelakangi laut, duduk-duduk, menenggak tuak dan moke. Mereka bersantai seperti sultan di atas permadani. Anak-anak saling berkejaran, sesekali kena tempeleng akibat melangkahi makanan. “Kalau romo, suster, atau pendeta yang lewat di depan kami, tentu akan kami hormati. Tapi, bila paus yang lewat? Ei, jangan biarkan! Kita tikam itu paus,” kata seorang lelaki seraya menenggak moke.

Lamalera hanyalah sebuah desa tempat orang-orang menggantungkan hidup pada gelombang, menyambung hidup pada asinnya lautan. Lamalera tak lebih dari sebuah desa kaum nelayan. Tapi, kondisinya berbeda musim ini. Dari Mei hingga Agustus raksasa-raksasa melewati kampung. Salah satunya seguni. Tubuhnya hitam-putih seperti panda, tapi keganasannya mirip serigala. Paus pembunuh ini berada di puncak rantai makanan. Kawanan seguni bahkan sanggup mempermainkan hiu sebelum kemudian membunuhnya.

Lemafa juga memburu koteklema (paus sperma), manta, lumba-lumba, dan hiu macan. Aturan-aturan perlindungan dari LSM tidak berlaku di sini. Berburu adalah kebutuhan hidup, juga bagian dari tradisi. Tapi bukan berarti perburuan sepenuhnya brutal. Lemafa misalnya, dilarang membunuh anak paus. Pelanggaran atas kaidah ini bisa berbuah larangan melaut.

Kiri-kanan: Nelayan yang berlabuh di pesisir Lamalera; para Romo memimpin ritual misa pembukaan musim melaut.

Semua raksasa lautan mereka taklukkan bermodalkan sampan kayu, bambu, dan tempuling. Ditikam di tengah lautan, seekor raksasa tentu tidak begitu saja pasrah. Hampir saban tahun, korban manusia berjatuhan. Musim Leva adalah momen pertaruhan nyawa di tengah Laut Sawu.

Orang Lamalera jarang yang meninggal karena sakit. Kalau tidak mati diterjang paus dan pari, berarti ia mati karena berolok-olok—begitu lelucon setempat mengolok-olok kematian. Di musim berburu, hari-hari dilewati dengan siaga. Warga senantiasa bersiap seandainya para raksasa lautan melewati selat yang menyerong di hadapan kampung mereka. Hanya dengan seruan “baleo,” suasana akan buncah. Kampung kecil yang berpenduduk kira-kira seribuan orang ini akan dipenuhi laki-laki yang berteriak dan berlarian, menghela pledang, mengembangkan layar, mendayung, menghunus tempuling.

Pertarungan di tengah lautan, sekali lagi, adalah pertaruhan hidup dan mati. Di Lamalera, tidak susah menemukan lelaki dengan satu kaki, satu tangan, atau tubuh dengan luka sayatan. Dibutuhkan beberapa lemafa untuk menumbangkan seekor paus. Dibutuhkan puluhan pendayung untuk mengejar paus. Dibutuhkan berjam-jam untuk menunggu paus merelakan tubuh besarnya diseret. Dan saat sang raksasa akhirnya menyerah, dibutuhkan 12 anak tangga untuk mendaki punggungnya dan memotong-motong tubuhnya.

Setelah itu, para perempuan datang dengan bakul besar guna menampung hasil buruan. Dari daging pari, hiu, hingga paus yang dibagi dengan cara yang rumit itu, ribuan kepala menyandarkan harapan, ribuan anak menggantungkan masa depan, ribuan pasang bibir menuntut sirih, ribuan kerongkongan menagih moke. Di pasar, mereka akan mencari jagung, beras, dan arak yang diangkut warga dari dataran tinggi, kemudian membarter semua itu dengan hasil buruan. Kehidupan diputar para raksasa. Kematian ditentukan para raksasa.

Pada koteklema, pada seguni, Lamalera menggantungkan hidup. Tanah di sini tidak menjanjikan banyak harapan. Pada tiap lapis daging hasil buruan, ada jatah janda-janda, lelaki-lelaki uzur yang kehilangan anggota tubuh, anak-anak yang ditinggal mati bapaknya. Di Lamalera, tidak ada kepemilikan privat dalam pengertian modern. Semua orang dapat bagian, semua dapat jatah. Konsep distribusi sosial yang membuat saya berpikir ulang dari tanah mana Marxisme sebenarnya dilahirkan.

Kiri-kanan: Warga Lamalera mengikuti prosesi misa pembukaan musim melaut; para penduduk tengah melakukan Misa Leva, yakni tradisi melarung lilin ke laut untuk mengenang para pemburu paus yang gugur.

Saya bertemu Kotaro Kojima, antropolog Jepang yang telah lebih dari dua dekade meneliti tradisi perburuan di Lamalera. Dia tengah menenggak moke. “Tidak ada yang lebih panas dari moke. Sake bukan tandingannya,” ia berkelakar. Menurut Kotaro, 2005 dan 2006 adalah momen kelam, karena tak seekor paus pun bermigrasi di jalur buruan. Penyebabnya, merujuk alam berpikir warga, sederhana saja: ritual tidak sempurna dan terlalu banyak cekcok di kampung. Introspeksi diri itu berbuah. Pada 2007, lanjut Kotaro, mereka berhasil menangkap 51 ekor paus—tangkapan terbanyak dalam 20 tahun terakhir.

Pada malam hari, saya menghabiskan waktu di pantai, bercakap-cakap dengan pria yang menenggak tuak dan moke. Malam ini, purnama menyirami lautan dengan cahaya. Dalam keadaan begini terang, ikan susah didapat. Orang-orang berpaling dari laut dan memilih menghabiskan hari dengan bersenda gurau. Kecuali saat turis berdatangan.

Dua kali dalam sebulan, kapal-kapal pinisi berlabuh di perairan Lamalera. Pelancong menjejakkan kaki mereka di sini, sementara Clara dan para penenun lain menggelar tenun ikat. Tenun yang menceritakan tradisi perburuan Kapten Ahab dari timur Indonesia.

Arus turis memberikan alternatif pendapatan. Motif-motif purba berubah menjadi suvenir yang mendatangkan uang. Tapi uang membawa konsekuensi. Uang membawa aspirasi dan mimpi: menciptakan kebutuhan yang sebelumnya tidak eksis. Dari berdagang tenun ikat, kantong ibu-ibu akan berisi uang dan gadis-gadis remaja Lamalera akan membeli celana jin, daster, krim pemutih, lipstik. Karena sinyal seluler makin bagus di Lamalera, warga juga akan membeli telepon genggam, perangkat yang memungkinkan mereka memotret perburuan layaknya tenun merekam kehidupan.

PANDUAN
Rute
Tradisi perburuan paus berlangsung di Lamakera di Pulau Solor dan Lamalera di sisi selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai Lamalera, Anda harus terbang dulu ke Kupang dengan menaiki antara lain Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) dan Batik Air (batikair.com), kemudian meneruskan perjalanan dengan TransNusa (transnusa.co.id) atau Susi Air (fly.susiair.com) menuju Lewoleba. Dari sini, Anda bisa menyewa mobil menuju Lamalera.

Penginapan
Bisnis hotel belum tumbuh di Lamalera. Salah satu penginapan “resmi” yang bisa dicoba adalah Ben Guru Guest House (0813-3905-8831; mulai dari Rp200.000). Tapi Anda sebenarnya juga bisa menginap di rumah warga dengan tarif sukarela. Jangan berharap ada restoran di kampung melarat yang berbahagia ini. Bila menginap di guest house atau rumah warga, Anda akan disuguhi makan tiga kali per hari dengan menu seafood yang tak lazim, misalnya pari, paus, hingga hiu. Perburuan paus dimulai dari awal Mei hingga September. Tenun ikat bisa dibeli langsung dari perajinnya, dan Anda bisa melihat proses pembuatannya. Hampir tiap rumah memproduksi tenun ikat. Harganya beragam, mulai dari Rp500.000-3.000.000 per helai, tergantung kerumitan motif dan jenis benangnya.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2016 (“Serat-Serat Sawu”).