Indonesia bukan eksportir turis terbesar di dunia. Namun, kontribusinya bagi devisa pariwisata dunia sangat besar. Saat liburan di luar negeri, WNI tergolong paling boros, bahkan lebih boros dibandingkan turis dari banyak negara kaya.

Pada 2018 misalnya, wisatawan Jerman menghabiskan $94 miliar, peringkat empat terbesar di dunia. Tapi ini angka kolektif. Jika dihitung rata-rata per turisnya, nilainya hanya $866.

Bandingkan dengan turis Indonesia. Di tahun yang sama, sekitar 9,4 juta WNI yang berlibur ke luar negeri menggelontorkan total $10,3 miliar, atau rata-rata $1.089 per kepala.

Dan WNI ternyata bukan cuma lebih royal dari turis Jerman. Merujuk data, mereka juga mengalahkan Inggris, Rusia, dan Italia dalam hal pengeluaran rata-rata per orangnya.

Belum ada data soal daftar belanja WNI, begitu pula survei yang mengukur pengaruh tradisi jastip. Tapi setidaknya kita bisa paham mengapa mereka umumnya disambut semringah oleh staf butik-butik di Eropa.

Apalagi, pengeluaran mereka relatif meningkat tiap tahunnya. Dalam 12 tahun terakhir, lompatan monumental terjadi pada 2018 sebesar 24%. Penurunan hanya tercatat tiga kali, yakni pada 2009, 2011, dan 2015.

Akibat pandemi, tentu saja, tren itu terhenti. Walau di sisi lain, peluang baru terbuka bagi industri pariwisata domestik. Devisa yang sebelumnya mengalir ke negeri orang kini bisa ditarik ke dalam negeri. Inilah yang coba dilakukan oleh, misalnya, Tiket.com lewat kampanye “liburan dekat rumah” atau Marriott lewat promo “Di Indonesia Aja.”Cristian Rahadiansyah