Penerbangan dari Jakarta ke Singapura menghasilkan 80 kilogram CO2. Untuk Jakarta-Bali, angkanya lebih tinggi—90 kilogram. Sementara untuk Jakarta-Tokyo mencapai 324 kilogram.

Itu jumlah emisi per penumpang, bukan per pesawat. Fakta yang meresahkan tentu saja. Tak peduli niat perjalanan Anda, selama masih naik pesawat bertenaga avtur, setiap penumpang berkontribusi pada pemanasan global. Dan tahun lalu ada 4,5 miliar orang bepergian naik pesawat!

Industri aviasi adalah salah satu kontributor terbesar emisi. Menurut Air Transport Action Group (ATAG), perusahaan penerbangan mengembuskan 915 ton CO2 pada 2019. Angkanya susut sedikit dari 2018, antara lain disebabkan oleh perbaikan pada mesin jet modern. Banyak armada kini lebih efisien, karena itu tingkat emisi bisa ditekan walau jumlah penumpang meningkat.   

Dalam kategori alat transportasi, pesawat mewakili sekitar 12 persen total emisi moda global. Proporsinya jauh lebih kecil dibandingkan kendaraan darat yang menyemprotkan 74 persen emisi. Kendati begitu, 12 persen tetaplah monumental bagi bumi yang terus memanas. Itulah sebabnya banyak maskapai berkomitmen untuk lebih ramah lingkungan.

Ada banyak inisiatif yang ditempuh operator penerbangan untuk menekan dampak bisnis pada alam. Selain membeli armada yang lebih hemat bahan bakar, sebagian maskapai telah melarang alat makan plastik, memakai amenity kit dari bahan daur ulang, serta menyarankan penumpang memesan makanan sebelum terbang demi mengurangi kemubaziran. Khusus problem emisi, satu solusi yang paling populer ialah carbon offset.

Proyek penanaman pohon di Raleigh-Durham, Amerika Serikat, yang didukung dana carbon offset Delta. (Foto: Delta Air Lines)

Definisi Carbon Offset?
Dalam terjemahan teknisnya, carbon offset ialah tindakan mengompensasi pengeluaran emisi dengan cara mendukung aktivitas yang mengurangi emisi. Dalam analogi bebasnya: setelah Anda berbuat “dosa,” Anda membayar orang lain untuk meraih “pahala.”

Contoh klasik carbon offset ialah menanam pohon. Perusahaan yang menghasilkan polusi mengompensasi kerusakan lewat aksi penghijauan. Belakangan, fokus aktivitasnya lebih variatif. Air New Zealand misalnya, mengompensasi emisi lewat pengadaan kompor tenaga surya di Tiongkok. Sementara Lufthansa terlibat dalam proyek restorasi bakau di Myanmar.

Dana carbon offset berasal dari dua sumber. Pertama, disisihkan dari pendapatan operasional maskapai. Kedua, dijaring dari donasi penumpang—dan inilah yang membedakannya dari inisiatif “hijau” lain: publik bisa turut terlibat.

Lewat kampanye urun dana, sejumlah maskapai menawarkan penumpang menyetor uang untuk mengompensasi emisi pribadi. Nominalnya variatif, tergantung pilihan maskapai dan jenis kursinya. Untuk penerbangan kelas ekonomi Jakarta-Hong Kong misalnya, nilainya antara Rp11.000 hingga 280.000 per penumpang.  

Baca Juga: Cara Menghitung Emisi Penerbangan Anda

Membuka sejarah, carbon offset dicetuskan pada 1970-an. Menyadari bumi kian genting, skema ini lalu dibakukan dalam Protokol Kyoto pada 1997 dan dipertegas oleh Persetujuan Paris 2015. Intinya, negara-negara diminta menetapkan target dan metode pengurangan emisi. Misi besarnya ialah menjaga peningkatan suhu bumi maksimum hanya 1,5 derajat pada 2030.

Khusus dunia penerbangan, carbon offset mulai diterapkan pada awal 2000-an. NatureAir adalah salah satu yang melakukannya pada 2004. Maskapai asal Kosta Rika ini membeli carbon credit dari pemerintah, di mana dananya dipakai untuk proteksi hutan. Tiga tahun berselang, Delta meluncurkan program carbon offset

Sejak 1 Januari 2020, British Airways mengompensasi emisi semua penerbangan di Inggris. (Foto: Nick Morrish/British Airways)

Benarkah Carbon Offset Bermanfaat?
Bagi pihak maskapai, target utama carbon offset ialah mencapai carbon neutral. Artinya, jumlah emisi yang dihasilkan setara dengan jumlah emisi yang dikurangi. Jika sebuah penerbangan menghasilkan satu ton CO2, maka jumlah emisi yang dikurangi juga senilai satu ton CO2. Impas.

Tak semua orang sepakat dengan logika itu. Kubu idealis mengatakan, harusnya maskapai fokus mengurangi emisi, bukan mengompensasinya. Jika hanya mencapai titik impas, temperatur bumi tak akan bisa diturunkan.

Menanggapi kritik, perusahaan penerbangan berargumen: carbon offset tetap lebih baik ketimbang tidak melakukan apa pun. “Tidak ada alternatif,” tulis International Air Transport Association (IATA), asosiasi beranggotakan 290 maskapai, dalam laman tentang carbon offset di situsnya. “Kompensasi karbon bisa dilihat sebagai cara cepat, langsung, dan pragmatis untuk mendorong tindakan membatasi dampak perubahan iklim, setidaknya untuk jangka pendek.”

Finnair memakai dana carbon offset di Mozambik untuk pengadaan kompor modern. (Carbonsink/Finnair)

Jaminan Carbon Offset Tepat Sasaran?
Maskapai umumnya menjalin kemitraan dengan pihak ketiga dalam pengelolaan dana carbon offset. Pemain di ceruk ini cukup marak, termasuk LSM, balai taman nasional, pemerintah daerah, hingga perusahaan-perusahaan khusus proyek carbon offset. Yang terakhir ini kerap dijuluki “carbon offset provider.” Contohnya Atmosfair, Climate Care, Carbon Fund, serta Clear Sky.

Para provider menanam dana pada beragam proyek di beragam lokasi, umpamanya pembangkit listrik tenaga angin di Nikaragua, konservasi satwa di Tasmania, serta instalasi air minum di Malawi. Melihat tren, banyak penyedia proyek beralih dari aksi penanaman pohon ke investasi energi ramah lingkungan.

Baca Juga: Bandara dengan Penurunan Turis Terparah  

Isunya kemudian, bagaimana memastikan proyek itu benar-benar dijalankan, juga benar-benar bermanfaat? Pertanyaan yang lebih krusial: adakah jaminan proyek tidak justru menciptakan kerusakan baru? Proyek bendungan pembangkit listrik misalnya, kadang justru disertai penggusuran rumah warga.

Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh sistem sertifikasi. Salah satu lembaga penerbitnya ialah Gold Standard. Institusi yang bermarkas di Swiss ini dibidani oleh beberapa LSM, termasuk WWF. Contoh lembaga sertifikasi lain ialah Verra, Plan Vivo, SCS Global Services, dan Ecologica Institute. Mereka melakukan verifikasi dan mengukur efektivitas tiap proyek.

PBB juga terlibat dalam sertifikasi dan audit proyek carbon offset. Melalui United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), PBB menawarkan puluhan proyek kompensasi emisi di empat kawasan. Khusus Asia, total ada 27 proyek di tujuh negara, termasuk Kamboja, Pakistan, dan Thailand.

Maraknya proyek, apalagi yang sudah bersertifikasi, memberi lebih banyak opsi donasi bagi publik. Terlebih, proyek-proyek tersebut juga terbuka bagi siapa saja, baik organisasi maupun individu, termasuk mereka yang tidak bepergian naik pesawat. Toh, emisi juga dihasilkan dari jalan-jalan ke mal. 

Qantas mengklaim telah mengompensasi sekitar tiga juta ton emisi karbon sejak 2007 lewat program Future Planet. (Foto: Qantas)

Cara Penumpang Mengompensasi Emisi?
Khusus dunia penerbangan, prospek carbon offset masihlah suram. Program ini, menurut IATA, hanya ditawarkan oleh sekitar 30 maskapai. Carbon offset memang masih tergantung pada kepedulian tiap maskapai, walau kondisinya kelak berubah. Merujuk Carbon Offsetting & Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA), maskapai internasional dianjurkan memulai carbon offset pada 2021. Mulai 2027, mayoritas negara diwajibkan menerapkannya pada seluruh maskapainya.

Itu problem dari sisi maskapai. Dari sisi penumpang, problem terbesar carbon offset adalah minimnya minat. Menurut estimasi IATA, hanya satu hingga tiga persen penumpang yang sudi mengompensasi emisi mereka secara sukarela. Pangkal masalahnya mungkin bukan sikap abai atau skeptis, tapi karena banyak maskapai memang belum menawarkan cara praktis untuk beramal. 

Baca Juga: Panduan Terbang di Masa Pandemi

Hingga kini, maskapai belum mengintegrasikan metode donasi carbon offset dalam proses pembelian tiket. Anda mesti mencari laman khusus carbon offset untuk melakukannya. Di banyak situs maskapai, lebih mudah menemukan rekomendasi hotel atau mobil sewaan ketimbang saluran mengompensasi emisi.

Ada kalanya, maskapai bahkan tidak menyediakan cara untuk berkontribusi. Ambil contoh Garuda Indonesia. Maskapai ini sudah meneken perjanjian carbon offset dengan IATA pada 2010, tapi hingga kini belum menawarkan saluran bagi penumpang untuk menyetor dana.

Kasus berbeda terlihat pada Emirates. Tak sudi melempar tanggung jawab emisi kepada penumpang, Emirates memilih menjalankan proyeknya sendiri. Pertama, proyek konservasi alam di gurun Dubai (tidak dicantumkan biayanya). Kedua, proyek konservasi senilai AUD 125 juta di Wolgan Valley, di mana mereka mengelola sebuah resor. Inisiatif yang mulia, tapi tak ada yang mengaudit apakah proyek Emirates memadai untuk mengompensasi emisinya.

Solusi praktis untuk menggalakkan carbon offset ialah memasukkan komponen biaya emisi dalam harga tiket. Pemanasan global sulit ditanggulangi mengandalkan donasi sukarela penumpang, apalagi pencitraan maskapai. Meraih pahala, barangkali, memang harus dipaksa. Cristian Rahadiansyah