Rimba yang Terluka

Dari udara, Ulet Ifansasti memotret kerusakan hutan Papua, sekaligus mengajak publik turut peduli.

Ulet Ifansasti sejatinya seorang travel photographer, tapi bukan dalam definisi yang jamak kita pahami. Pewarta foto yang berbasis di Yogyakarta ini rutin mengunjungi ke lokasi yang dihindari turis dan melawat tempat yang menyesakkan. Portofolionya berisi pantai penuh sampah di Banyuwangi, bekas-bekas tsunami di Banten, reruntuhan gempa di Palu, kampung berselimut debu pasca-erupsi Sinabung.

Dari semua karyanya, Paradise Threatened punya makna yang lebih personal. Proyek foto ini menceritakan deforestasi di Papua, tanah kelahirannya. Menaiki helikopter, Ulet memotret hutan yang dibabat dan bersalin fungsi jadi ladang kelapa sawit. Sebuah pekerjaan yang menurutnya memicu rasa sentimen dalam dirinya. “Sangat terasa ketika kita melihat secara langsung tanah kelahiran kita dihancurkan,” jelas Ulet, yang masih memiliki kerabat di Papua.

Paradise Threatened bermula pada 2009 ketika Ulet ditugaskan oleh LSM Greenpeace untuk mendokumentasikan deforestasi di Indonesia. Awalnya dia terjun ke belantara Sumatera dan Kalimantan—dua pulau di mana penebangan bergulir agresif. Demi mengimbangi foto-foto memilukan di sana, Ulet berinisiatif melawat Papua yang dianggapnya masih steril dari problem. “Saya ingin mendapatkan gambar hutan yang cantik,” kenangnya, “demi menunjukkan sisi optimistis bahwa masih ada yang harus kita perjuangkan sebelum terlambat.”

Gayung itu kemudian bersambut. Pada 2018 Greenpeace menawarkannya memotret Papua. Tetapi harapan Ulet tidaklah terwujud. “Selama sebulan mengabadikan foto-foto hutan di Papua bagian selatan, ternyata kita menemukan bukti deforestasi telah terjadi dan itu sangat masif.”

Hingga kini, Ulet sudah meliput wilayah dataran rendah di Papua bagian selatan, persisnya di Kabupaten Boven Digoel dan sekitarnya. Semua foto-fotonya diambil dari udara. Di tahap berikutnya, dia akan menyasar kawasan tengah dan barat. Agar dokumentasinya berimbang, Ulet ingin mendokumentasikan pihak-pihak yang diuntungkan dari pembukaan hutan untuk kebun.

Satu kendala besar yang mesti diatasinya ialah biaya. Reportase di rimba Papua tak cuma menuntut tubuh yang kuat menangkal malaria, tapi juga ongkos yang mahal. “Jujur, proyek ini membutuhkan dana yang begitu banyak dan akses yang tidak mudah. Saya banyak mendapatkan materi untuk proyek ini dari penugasan-penugasan dari berbagai penggiat lingkungan.” 

Paradise Threatened adalah sebuah alarm. Papua menyimpan salah satu keragaman hayati tertinggi di dunia. Setidaknya 20.000 spesies tanaman dan 125 mamalia hidup di sini. Kekayaan alamnya juga menjadi sandaran hidup warga. Di Papua, rusaknya hutan adalah bencana lingkungan yang berpotensi menjadi bencana kemanusiaan.

Ulet berharap Paradise Threatened bisa memicu kepedulian, walau dia juga melihat realitas miris hutan Indonesia sebagai tamparan moral bagi semua orang, termasuk dirinya sendiri. “Buah keserakahan manusia, dan kita semua berkontribusi,” ujarnya.—CR

Proyek foto ini dipilih lewat proses seleksi oleh editor tamu Beawiharta dan telah diterbitkan dalam DestinAsian Indonesia edisi Juli-September 2019.

Ulet Ifansasti_Paradise Threatened_001 Ulet Ifansasti_Paradise Threatened_002 Ulet Ifansasti_Paradise Threatened_003 Paradise Threatened Paradise Threatened Paradise Threatened

Ulet Ifansasti
Pria kelahiran Papua yang menetap di Yogyakarta ini bernaung di bawah Getty Images sejak 2008 dan kerap mendokumentasikan tema lingkungan. Karya-karyanya pernah diterbitkan oleh beragam media, termasuk The New York Times, Life, dan Time. Pada 2014 dan 2015, namanya masuk daftar kandidat Photographer of the Year versi The Guardian. uletifansasti.com.

Comments