Di perairan Pantai Cikoneng, perahu menyeret banana boat dengan latar Pulau Sangiang.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Pernah dengar istilah forest bathing? Saya sudah, tapi belum mencobanya. Ini semacam terapi yang dikembangkan di Jepang. Pada 1980-an, para dokter di sana mendapati aktivitas shinrin-yoku (“menyerap atmosfer hutan”) berkhasiat bagi tubuh, termasuk menurunkan kolesterol dan meningkatkan imunitas.

Di dunia komik, tesis itu mungkin ada benarnya. Setidaknya Tarzan selalu bugar dan Mowgli begitu lincah walau tak dapat ASI. Khusus dunia medis, forest bathing baru populer beberapa tahun belakangan. Kegiatan ini dipandang sebagai antibiotik natural untuk menawar depresi di zaman digital. Dengan kata lain: healing.

Kiri-kanan: Jalur mendaki menuju terowongan di Omah Jati; Jetski menanti penyewa di Pantai Panjang.

Awal Juni, saya akhirnya dapat kesempatan mencoba forest bathing. Lokasinya di Omah Jati, sekitar dua jam berkendara dari Jakarta.

Tempat ini berada di tepi kampung. Memasukinya, saya mendaki lorong batu, menembus terowongan gelap, lalu mendadak menyembul di tengah hutan. Transisi visual sempit-lapang ini merupakan ciri khas Andra Matin, perancang Omah Jati. Jika Anda belum tahu, dia arsitek kondang. Banyak kreasinya menuai pujian. Contohnya Potato Head Bali dan Bandara Blimbingsari.

Hanya ada satu vila di Omah Jati. Kapasitasnya pun cuma dua orang. Padahal, lahannya luas, dua hektare. Vilanya dirangkai dari kayu, melebur alami dengan lanskapnya. Kecuali di kamar mandi, semua dindingnya kaca transparan, membuyarkan batas antara luar dan dalam. Kadang, desain ini membuat saya merasa seperti ikan dalam akuarium.

Kiri-kanan: Patung flamingo di kebun sorghum Desa Bandulu; Area makan Midori, resto yang sempat akan dijual saat pandemi.

Di sekitar vila, pohon-pohon jati menjulang semampai. Jumlahnya, menurut brosur, 1.800 batang. Pohon-pohon ini ditata simetris, rapi seperti bulu sikat gigi. Daun-daunnya rapat menyaring sinar mentari. Alhasil, dari pagi hingga sore, tanah selalu teduh. Atmosfernya kian syahdu berkat minimnya polusi suara. Kecuali cicit burung dan tonggeret, nyaris tak ada interupsi. Saking heningnya, suara daun rontok pun terdengar.

Dengan latar zen itulah, saya mencoba forest bathing. Tak ada tutorial baku untuk kegiatan ini. Intinya ialah relaksasi, melarutkan diri dalam tenang. Tak jelas apakah kolesterol saya menurun. Yang pasti, bengong khidmat di antara pepohonan—dan rehat dari Gmail—mujarab menenangkan batin.

Omah Jati beralamat di Anyer. Tak jauh dari Hotel Marbella. Saat saya datang, properti ini belum resmi dibuka. Tarifnya pun belum dipatok. Namun begitu, ia sudah menyita banyak perhatian di media sosial. Mungkin berkat pamor Andra Matin. Atau berkat tawarannya yang unik. Di Anyer, destinasi yang tersohor akan pantainya, vila ini justru mengajak orang menyepi di hutan.

Dek kayu menuju vila satu kamar di Omah Jati, properti rancangan Andra Matin.

Agaknya, konsep berani ini tak lahir dari kalkulasi bisnis murni. Kisahnya dimulai sekitar 18 tahun silam, saat Ibu Yoet menanami lahan miliknya di Desa Bandulu dengan benih pohon jati. Niat awalnya, katanya, untuk investasi. Namun, setelah pohon-pohon tumbuh besar, rencana itu urung diwujudkan. Ibu Yoet telanjur sayang dengan pohon-pohon peliharaannya. Dia tak sampai hati menebangnya.

Daniel Suharya, anak bungsunya, lalu punya ide agar investasi pohon itu tetap berbuah, tanpa ditebang. Dia mendirikan rumah liburan di tengah hutan jati milik ibunya. “Niat saya mendirikan rumah yang menyimpan cerita ibu,” kata Daniel. “Cerita ibu mengurus pohon jati dari kecil, merawatnya, membersihkan ranting-rantingnya.”

Kiri-kanan: Ruang bersantai dengan dinding dan atap kaca di Omah Jati; Mercusuar Cikoneng, ikon sejarah Anyer yang dikerek pada 1885.

Anyer adalah nama klasik yang menghiasi masa kecil. Saya hanya punya ingatan yang samar tentang tempat ini. Seingat saya, terakhir kali berkunjung, tembang romantis Antara Anyer dan Jakarta masih diputar di radio. Saat radio masih bisa memutar kaset.

Yang pasti, tempat ini dulu sangat populer. Bagi pelajar di Jakarta, jika belum pernah ke Anyer, rawan dicap “ketinggalan zaman.” Berlibur di sini, apalagi menginap di hotel kondang semacam Marbella, ibarat pencapaian hidup yang diceritakan bangga di sekolah.

Tentu saja, Anyer juga terkenal lantaran dipelajari di kelas. Ia dapat bab khusus dalam buku sejarah. Inilah titik awal dari jalan legendaris Anyer-Panarukan. Pramoedya Ananta Toer mengecamnya sebagai proyek genosida, lantaran ribuan nyawa melayang dalam konstruksinya. Namun begitu, jalan ini berjasa menghubungkan Jawa dari tepian barat hingga timur. Tanpanya, mungkin tak ada Jalur Pantura.

Kiri-kanan: Kolam refleksi di Omah Jati, kompleks yang ditumbuhi 1.800 pohon jati; Hidangan sarapan di Omah Jati.

Lama tak bersua, melawat Anyer serasa bernostalgia. Mengendarai mobil, saya menyusuri pesisir hingga mendekati perbatasan Pantai Carita. Sepanjang jalan, terlihat betapa Anyer belum kehilangan magnetnya. Bus-bus turis memadati lahan parkir di tepi pantai. Perahu hilir-mudik menyeret banana boat. Mobil-mobil pelat B berjejal di pelataran hotel.

Sebenarnya, saya datang saat Anyer dalam tahap pemulihan. Akhir 2018, pesisir barat Jawa diterjang tsunami, buah dari longsornya lereng Anak Krakatau. Anyer luput dari gelombang maut itu, tapi efek sampingnya terasa. Orang-orang takut datang ke sini. Pasokan turis pun menyusut. Banyak hotel dan restoran sekarat.

Fossil Garden, salah satu objek wisata yang sedang dikembangkan di Anyer.

Belum sembuh dari dampak tsunami, bencana lain menerjang: pandemi Covid. Seperti di daerah lain, pariwisata Anyer menderita. Tapi, dalam perkembangannya, wabah ini ternyata tak melulu buruk. Gelombang virus justru jadi momentum kebangkitan. Memang, ada bulan-bulan di mana kegiatan pelesir dibatasi. Namun, secara umum bisnis tumbuh.

“Saat banyak hotel di Bali banting harga, hotel-hotel di Anyer malah ramai,” kenang Wulan Putri, mantan butler Six Senses Uluwatu, yang sudah dua tahun bekerja di Anyer. “Bahkan vila-vila yang pasang tarif delapan juta sering penuh tiap akhir pekan.”

Membuka data, turis memang meningkat. BPS mencatat, wisatawan di Serang pada 2020 melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Lalu, musim libur Lebaran Mei silam, banjir turis memicu kemacetan lebih dari 10 kilometer, sampai-sampai polisi menerapkan sistem satu arah.

Kiri-kanan: Kolam renang di Kadena, hotel yang dibuka pada akhir 2021; Mobil terparkir di Hotel Mandalika, lokasi syuting film Yuni.

Sejumlah pelaku usaha turut menikmati berkah di balik musibah itu. Menyusuri pesisir, beberapa hotel dijual. Tapi hotel baru juga bermunculan. Oktober 2021, Kadena dibuka. Selang dua bulan, MaxOne menyambut tamu perdananya. Restoran Midori, yang sempat dilego, akhirnya beroperasi kembali.

Banyak orang menduga, PPKM turut membantu pemulihan Anyer. Ketika proses terbang kelewat merepotkan, banyak warga Jakarta memilih berkendara ke destinasi terdekat. Terpisah hanya dua jam, Anyer menuai berkah di musim “liburan dekat rumah.”

Kiri-kanan: Pucuk hutan jati dengan latar perbukitan di interior Anyer; Seorang ibu menyewakan bodyboard di depan sekolah selancar.

Sabtu pagi, saya singgah di Pantai Panjang. Di area parkirnya, kios-kios berbaris menanti pembeli. Di Sekolah Tukik, papan-papan selancar tertumpuk. Tempat ini berjasa memopulerkan cabang selancar angin di Anyer. Salah satu muridnya sukses menyabet emas di PON Papua. “Akhir bulan ini ada turnamen selancar di Anyer,” kata instrukturnya. “Pesertanya klub-klub di Indonesia.”

Pantai Panjang, sesuai namanya, membentang panjang. Turis dan warung berbagi tempat di atas pasir cokelat. Melayangkan pandangan ke laut, pulau-pulau menyembul di Selat Sunda. Bukit-bukit Sangiang bergelombang seperti punggung naga. Di sisi kiri, Anak Krakatau mengembuskan asap, seperti bocah pemarah yang memendam murka.

Perahu terparkir dan anak-anak bermain layangan di Pantai Panjang.

Berpindah ke Pantai Cikoneng, suasananya kontras. Tempat ini muram. Warung-warungnya sepi, sebagian tak beroperasi. “Orang paling cuma datang ambil foto, lalu pergi, karena gak bisa berenang,” keluh seorang ibu penjual kelapa muda.

Di depan warung, benteng batu membentang panjang, menahan cakar-cakar ombak. Seekor biawak melata pelan, mungkin mencari makan di kolong warung. “Semenjak ditanggul, ada banyak biawak. Sarangnya ya di batu-batu itu,” tambah si ibu.

Banyak pesisir di Anyer menipis digerus abrasi. Di sejumlah titik, pantai bahkan hilang sepenuhnya. Problem ini sudah lama dideteksi, dan kondisinya kian parah selepas tsunami 2018. Demi mengatasinya, tahun lalu, pemerintah memasang dinding-dinding penahan ombak di banyak lokasi, termasuk Cikoneng. Pasir pantai pun terkubur barisan batu.

Kiri-kanan: Vila bertubuh kayu di Omah Jati; Buah naga yang dipetik dari kebun di kawasan perbukitan Anyer.

Perubahan yang menarik di Anyer justru berlangsung di luar pantai. Sejumlah objek wisata mulai terpetakan di sisi interior. Air terjun ditemukan di antara bukit-bukit rindang. Kebun buah merekah di lereng, menawarkan wisata agro.

Stone Garden adalah contoh objek baru lainnya. Di lahan bekas kebun kelapa sawit ini terhampar taman elok dan danau buatan. Di sela-sela taman, artis cahaya Adi Panuntun sedang menggarap instalasi lampu.

Penginapan juga sedang disiapkan di Stone Garden. Sebuah vila rancangan Raul Renanda akan dibuka tahun depan. Tak jauh dari sini, 10 pondok Bobocabin sedang dibangun di tepi sawah, menatap perbukitan. Seperti Omah Jati, konsep liburan di alam hijau ini terbilang asing di Anyer. Perlu dinanti bagaimana publik meresponsnya. Yang jelas, Anyer kini tak hanya menawarkan pantai.