Cultures

Proyek Foto 17 Tahun di Mongolia

Seorang penggembala di Danau Tolbo yang bertengger di ketinggian 2.080 meter di sisi barat Mongolia.

Teks & Foto oleh Frédéric Lagrange

Padang rumput yang bergelombang, pegunungan yang agung, langit biru tanpa batas, dan legiun penggembala nomaden penghuni stepa. Mongolia memang punya banyak hal yang memesona kita. Tapi Frédéric Lagrange, fotografer asal Versailles yang berbasis di New York, sebenarnya tak cuma terpesona. Dia terpikat, bahkan bisa dibilang kecanduan. Dalam kurun 17 tahun, dia bolak-balik memotret negeri ini, lalu membukukan hasil fotonya pada 2018.

Frédéric awalnya mendengar Mongolia dari buyutnya, Louis, seorang mantan serdadu Prancis yang pernah disekap oleh Jerman semasa Perang Dunia II. Frédéric, yang waktu itu masih kecil dan menetap di Versailles, ingat betul peristiwa pembebasan buyutnya pada 1944 oleh detasemen pasukan Mongol di bawah komando Uni Soviet. Mereka dengan ganas merangsek kamp tahanan dan membuat tentara Jerman kabur tunggang langgang. “Kisah itu meninggalkan imaji yang membeku dalam pikiran saya tentang Mongolia dan orang orangnya,” tulis Frédéric dalam catatan pengantar Mongolia, buku foto pertamanya. “Bagaimanapun, kepada mereka saya berutang nyawa buyut saya, dan dengan itu, juga nyawa saya.”

Kiri-kanan: Seorang gembala muda di tendanya yang terletak di dekat Danau Khövsgöl, belahan utara Mongolia; teater renta warisan era Uni Soviet di Choir, kota yang teronggok di tepi jalur kereta Trans-Mongolia, sekitar 220 kilometer sebelah tenggara Ulaanbaatar, Ibu Kota Mongolia.

Frédéric kali pertama menginjakkan kakinya di Mongolia pada 2001, 10 tahun usai negara ini membuka babak baru selepas kejatuhan Uni Soviet. Bermodalkan tabungan dari hasil kerjanya sebagai asisten fotografer fesyen Nathaniel Goldberg di New York, dia terbang ke Beijing, lalu menaiki kereta jurusan Ulaanbaatar. Dari situ, Frédéric berkelana selama empat minggu hingga ke danau garam Üüreg Nuur di Pegunungan Altai, belahan barat Mongolia. Dalam trip itu pula, dia menjalin persahabatan dengan sebuah keluarga pengembara, termasuk ikut berburu marmot dan mengawal ternak mereka dari ancaman serigala. Kunjungan perdana itu tak hanya membuka kisah cintanya dengan Mongolia, tapi juga kariernya sebagai seorang fotografer travel.

Sebuah keluarga tengah merakit tenda di bumi perkemahan musim panas di Provinsi Bayankhong.

Dihitung sejak kunjungan pertamanya, Frédéric total sudah 14 kali melawat Mongolia. Tripnya kadang bergulir panjang. Frédéric sudah mengalami empat musim berbeda, juga mengarungi hampir tiap sudut tanah enigmatik ini. Ekspedisinya ditempuh dengan beragam moda: mengendarai mobil, melayang dengan pesawat Tupolev renta buatan Rusia, juga menunggang kuda dan unta.

Medan di Mongolia cukup menantang. Masih basah dalam ingatan Frédéric saat dia merangsek badai salju dan badai pasir, menembus celah berbahaya di danau es, juga meringkuk di tengah suhu minus yang mengakibatkan kamera Pentax 6×7 miliknya macet. Tapi negara lapang yang terkurung daratan ini juga menghadirkan banyak kenangan manis. Di setiap bumi perkemahan, warga menyediakan tenda tradisional ger yang dikhususkan bagi tamu. Frédéric mengenang mereka sebagai, dalam kata-katanya, “beberapa orang yang paling hangat dan paling ramah yang pernah saya temui.”

Kiri-kanan: Seekor burung dibingkai oleh lubang asap ger (tenda tradisional Mongolia) yang sedang dikonstruksi di Desa Sagil, dekat perbatasan Rusia; permukaan beku Khövsgöl, danau air tawar terluas kedua di Mongolia, yang luasnya lebih dari dua kali lipat Danau Toba.

“Aset terbesar saya dalam proyek jangka panjang ini ialah para pemandu lokal, contohnya sahabat saya, Enkhdul Jumdaan,” tambahnya. “Mereka membantu saya memahami sistem, tradisi, dan kearifan lokal.” Bermodalkan pengetahuan dan wawasan dari pemandu, Frédéric belajar beradaptasi dengan irama hidup setempat. “Orang-orang di sini sulit diprediksi dan kadang memicu rasa frustrasi, jadi saya melakukan perencanaan seminimal mungkin.”

Demi membangun kepercayaan, Frédéric rutin berpartisipasi dalam ritus setempat. Setiap memasuki sebuah kamp misalnya, dia ditawari suutei tsai (teh asin campur susu) serta keju atau daging rumahan. Sebagai gantinya, dia memberikan gula, garam, rokok, permen, atau pena. “Saya selalu memastikan punya hadiah untuk diberikan,” jelasnya.

Kiri-kanan: Unta Baktria merumput di sekitar Danau Üüreg yang terhampar di barat Mongolia; seorang jagawana di kawasan Danau Üüreg, dengan guratan wajah yang dibentuk oleh pengalaman bertahun-tahun menunggang kuda di bawah terik, barangkali juga oleh hobi menenggak arkhi, miras lokal.

Mongolia adalah rangkuman dari seluruh pengalaman dan perjalanannya itu. Dalam 252 halaman, buku ini ditaburi 185 lembar foto yang menggambarkan beragam aspek Mongolia yang sebagian jarang terlihat. Fotofotonya, yang semuanya diambil dengan kamera medium format, merekam lanskap yang variatif, seperti gurun, sabana, dan hutan taiga, ditambah serangkaian potret intim yang menangkap detail terkecil, termasuk garis-garis wajah para jagawana lokal hingga pipi merah bayi yang dibedung.

Baca juga: Kabar dari Timur; Berkunjung ke Museum Fotografi Tertua di Dunia

Seekor kuda di tepi danau garam Üüreg.

Seperti yang ditulis oleh Pico Iyer dalam pengantar buku ini, “Frédéric agaknya tahu setiap jengkal tanah di sini, tetapi yang lebih penting ialah dia mengenal orang-orangnya lahir batin. Dia belajar untuk melihat dunia dari mata mereka, dan merasakan mereka dalam hati.”

Di bagian lain, Pico Iyer menambahkan, “Saya melihat wajah-wajah lapuk yang tak kenal lelah melalui penglihatan Frédéric—pemandangan yang memicu decak kagum— dan saya pun teringat bukan hanya tentang perjalanan yang bersarang di memori saya, seperti lazimnya banyak perjalanan, tapi juga tentang dunia yang saya kenal di dalam beberapa bagian diri saya, bahkan sebelum saya menginjakkan kaki di Mongolia.”

Seorang pemburu marmot di kawasan Danau Üüreg bersiap pulang membawa hasil tangkapan.

Mongolia diterbitkan oleh Damiani, penerbit yang merangkap galeri di Bologna. Buku foto yang lahir dari sistem urun dana publik ini dipasarkan lewat fredericlagrangemongolia.com. “Saya berharap foto-foto dalam buku ini akan membangkitkan rasa penasaran,” jelas Frédéric. “Mongolia menawarkan banyak hal kepada para pengelana, dan tidak hanya bagi mereka yang mencari keindahan. Siapa pun yang tengah menempuh perjalanan spiritual akan mendapati betapa di tengah-tengah bentangan alam Mongolia yang lapang dan megah sejatinya terpancar seruan yang kuat merasakan momen sekarang dan saat ini. Hanya segelintir tempat di dunia yang memiliki kekuatan semacam itu.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2019 (“Mongolia”).