Seiring dilonggarkannya ‘PPKM’ di Italia, pesisir Gaeta mulai didatangi orang. (Foto: Gabriella Clare Marino)

Ketika aktivitas wisata akan dimulai kembali, kebutuhan akan info seputar destinasi wisata pun kian urgen. Publik perlu mengetahui, apakah bandara di lokasi tujuan sudah dibuka kembali? Apakah taman rekreasi di sana sudah beroperasi? Dan berapa lama syarat karantina bagi pendatang?

Problemnya kemudian, mengumpulkan beragam informasi dari beragam negara tentu merepotkan. Apalagi, aturan tiap negara ajek berubah dalam tempo singkat, mengikuti perkembangan kasus Covid-19.

Isu inilah yang coba dijawab oleh World Tourism Organization (UNWTO) dan International Air Transport Association (IATA). Pada 23 April, kedua lembaga ini berduet meluncurkan Destination Tracker, platform daring yang memuat beragam info terbaru terkait Covid-19 dan kunjungan wisata.   

Warga mengenakan masker saat melihat panorama Istanbul dari daerah Sirkeci. (Foto: Can Yilmaz)

Platform ini terbuka gratis untuk umum dan bisa diakses di portal UNWTO maupun IATA. Publik cukup memilih negara yang ingin didatangi guna mengetahui, misalnya, jumlah kasus positif, populasi orang yang sudah divaksin, syarat karantina dan tes bagi pendatang, hingga protokol kesehatan dan pembukaan tempat wisata. 

Selain untuk turis, Destination Tracker juga didedikasikan bagi pelaku industri dan pemangku kepentingan. Pemerintah, misalnya, bisa merujuknya saat akan menentukan mitra negara “travel bubble.” Sementara biro perjalanan punya acuan dalam merumuskan paket trip.   

“Ketika pemerintah memiliki kepercayaan diri untuk membuka kembali perbatasan, orang akan bersemangat untuk bepergian. Dan mereka akan membutuhkan informasi yang akurat untuk memandu mereka,” jelas Willie Walsh, Direktur Jenderal IATA, tentang alasan kelahiran Destination Tracker.

Info atraksi turis di Indonesia menampilkan tautan pemerintah India. (Foto: Screenshot dari portal UNWTO)

Penting diingat, banyak konten Destination Tracker berisi info yang bersifat umum. Untuk mengetahui info lebih rinci, misalnya soal jadwal pembukaan objek wisata, publik harus membuka tautan dari pemerintah atau gugus tugas di negara tujuan. Artinya, info sangat tergantung pada transparansi dan kecepatan pembaruan data dari negara tersebut.

Juga wajib diwaspadai, belum semua tautan terverifikasi ataupun akurat. Ambil contoh Indonesia. Saat kita mencari info pembukaan atraksi, Destination Tracker justru menampilkan situs web pemerintah India.Cristian Rahadiansyah