Kiri-kanan: Dinding-dinding bangunan uzur di kawasan Kota Tua Ipoh disulap menjadi kanvas para seniman; salah satu lukisan seniman di dinding bangunan Kota Tua.

Di sisi selatan padang (lapangan), beberapa langkah dari stasiun kereta, terdapat pilar-pilar terpenting dari industri kuliner kota ini. Salah satunya Kong Heng, kedai kopi yang diawaki oleh empat staf. Meski hikayatnya bisa dilacak mundur hingga 100 tahun ke zaman kejayaan para baron timah, karisma tempat ini sepertinya tak pernah memudar. Kursi-kursinya senantiasa ramai. Dulu, pelanggannya adalah kaum pekerja migran dan pemain opera Cina yang umumnya singgah di sela-sela pertunjukan. Kong Heng memang tak sekadar kedai kopi, tapi juga saksi dari kehidupan kota yang pasang-surut.

Ng Sek San, arsitek dan hotelier yang bekerja di Kuala Lumpur, mengaku tumbuh bersama Kong Heng pada 1960-an. “Tempat ini menyimpan begitu banyak memori indah,” kenang pria yang menjuluki dirinya “anak Ipoh” ini. “Ketika saya masih remaja, keluarga saya selalu pergi ke Kong Heng untuk makan pada akhir pekan, dan saya pun akan bersua teman-teman di sana sepulang sekolah.”

Usai meninggalkan Ipoh untuk mengejar karirnya, Ng tak pernah melupakan kedai dari masa kecilnya itu, bahkan yakin suatu hari nanti pasti akan kembali. Keyakinan yang kemudian jadi nyata. Pada 2008, gedung tiga lantai yang menampung Kong Heng dijual, dan Ng tak berpikir panjang untuk membelinya. Dua lantai teratas yang dulu menampung kasur bagi para pemain opera, diubah menjadi sebuah penginapan banal bernama Sekeping Kong Heng.

Kiri-kanan: Interior kamar Sekeping yang mengawinkan gaya industrialis modern dengan sentuhan klasik; fasad Sekeping Kong Heng yang masih mempertahankan bentuk aslinya.

Berniat sebisa mungkin menjaga keaslian bangunan, Ng tak mengutak-atik lapisan-lapisan orisinal Kong Heng. Daun-daun jendela yang sudah rapuh juga tak disentuh. Bahkan kuitansi-kuitansi sewa yang telah menguning dibiarkan melekat di dinding guna mengenang para mantan penyewa gedung. Sentuhan modern sebenarnya ada, tapi halus, sehingga riwayat bangunan tak ternoda. Sekeping Kong Heng jelas tidak mewah dan Ng terang-terangan mengakuinya.

Kendati demikian, konsepnya disambut pasar. Gebrakan bernyali Ng di Kota Tua terendus oleh pemain lain. Sejumlah operator kecil mengikuti langkahnya dengan mengonversi ruko usang menjadi guesthouse. Salah satu buah dari tren ini adalah Happy Eight Retreat, bangunan tiga lantai yang telah bersalin wajah menjadi penginapan berdesain ceria, di mana dinding mural bersanding harmonis dengan kriya berbahan kayu. >>