Panduan Menjelajah Seychelles

Mengandalkan aset wisata seperti kura-kura raksasa, karnaval internasional, dan kelapa gigantik, Seychelles adalah alternatif yang lebih menghibur dan bersahaja dari Maladewa.

Pagi-pagi sekali, saya meluncur ke pelabuhan dan menaiki feri menuju Praslin, pulau terbesar kedua di Seychelles. Persinggahan pertama adalah Vallee de Mai Nature Reserve, hutan lindung yang berpredikat Situs Warisan Dunia. Ikonnya tentu saja pohon palem endemis dan sensual coco de mer. Pohon ini ternyata sangat tinggi, sekitar 25-34 meter. Daunnya berbentuk kipas sepanjang 7-10 meter dan buahnya berukuran besar dengan bobot sanggup menembus 40 kilogram. Tak heran harganya cukup mahal, antara $250-400 per batoknya.

Layaknya pohon bersejarah, coco de mer menyimpan legenda. Syahdan, pohon jantan bisa berjalan menemui pohon betina untuk bercinta di tengah badai. Adegan sanggama ini haram ditonton. Barang siapa yang melihatnya akan diganjar sanksi tegas: menjadi buta atau tewas seketika. Barangkali legenda inilah yang menyebabkan coco de mer tetap lestari meski statusnya terancam punah.

Dari kiri ke kanan: Yacht yang bersandar di La Digue; Suasana Pantai Anse Royale.

Pantai terbaik di Pulau Praslin adalah Anse Lazio. Meski lokasinya terpencil, pantai berpasir putih ini senantiasa diawasi oleh lifeguard. Daya tarik tempat ini adalah Aldabra giant tortoise, salah satu spesies kura-kura terbesar sejagat. Beratnya rata-rata 250 kilogram, sementara usianya bisa menyentuh 200 tahun. Satwa ini berasal dari Aldabra Atoll yang terpisah jauh di barat daya Seychelles.

Tapi kita tak perlu ke sana untuk melihatnya, sebab Pantai Anse Lazio memiliki kandang berisi selusin kura-kura. Saya pun tak menyia-nyiakankesempatan berfoto bersama.

Dari Praslin, saya kembali menumpang feri dan meluncur ke Pulau La Digue. Kendaraan bermotor dilarang beroperasi di sini. Satu-satunya moda transportasi untuk menjelajahi pulau adalah sepeda. Saya menyambangi tempat penyewaan sepeda, lalu mengambil peta di kantor Biro Pariwisata Seychelles. Berhubung cuma punya waktu setengah hari, saya disarankan pergi ke L’Union Estate, daerah perkebunan kopra yang menampung makam penduduk asli dan pantai cantik Anse Source d’Argent.

Dalam perjalanan ke pantai, ketika sedang terengah-engah menggenjot sepeda, saya mendengar suara desahan dan hantaman keras dari tepian jalan. “Woh! Wooh! Grotak! Wwhooohhh!! Grotaaak!!” Saya kira suara perkelahian orang, tapi rupanya suara adegan percintaan kura-kura. Di sebuah penangkaran, dua ekor kura-kura raksasa sedang kawin. “Woh” adalah suara kedua kura-kura, sementara “grotak” suara benturan tempurung yang saling tindih. “Excess baggage” memang kerapmerepotkan dalam sebuah hubungan.

Kembali ke sepeda, saya melanjutkan perjalanan ke Anse Source d’Argent. Usai memarkir sepeda, saya berjalan menuju pantai dan disambut oleh bebatuan granit yang bertaburan sejauh mata memandang. Lanskap pantai ini mirip Belitung, tapi bebatuannya lebih besar dan banyak. Saat menyusuri pantai, saya berulang kali terpaksa merunduk dan memanjat bebatuan yang menjulang rapat. Membuka perjalanan di Seychelles dengan berenang di tepian ibu kota, saya kini menutupnya dengan berenang di pantai hening yang ditaburi bebatuan.

Detail
Seychelles

Rute
Penerbangan dari Jakarta ke Seychelles dilayani oleh Emirates (emirates.com) dan Etihad (etihad.com). Bagi pemegang paspor Indonesia, visa bisa diperoleh gratis dengan menunjukkan tiket pesawat pulang-pergi dan bukti reservasi hotel. Feri merupakan moda transportasi utama guna menjangkau pulau-pulau di Seychelles.

Untuk menuju Pulau Praslin dan La Digue, gunakan kapal feri reguler Cat Cocos (seychellesbookings.com/cat-cocos). Informasi seputar objek wisata dan agenda acara bisa disimak di situs resmi Biro Pariwisata Seychelles (seychelles.travel).

Penginapan
Mahe, pulau terbesar di Seychelles, mengoleksi banyak hotel, salah satunya Savoy Resorts & Spa (Beau Vallon; 248/4392-000; savoy.sc; doubles mulai dari Rp3.000.000) yang berlokasi di pantai publik terbaik di pulau ini.

Savoy juga berada di dekat banyak restoran dan bar. Berhubung Seychelles beriklim tropis dengan tingkat kelembapan tinggi, busana kasual dan sandal diterima di banyak tempat. Tapi jika Anda ingin memasuki kelab malam atau kasino, sepatu wajib dikenakan.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2016 (“Segara Afrika”).

Comments