Kuda pengangkut barang di jalur trekking Annapurna Circuit.

Teks & foto oleh Edy Purnomo

Aroma hio bercampur bau gosong ranting cemara merambat di gang-gang Desa Manang. Sayup-sayup terdengar pula gemerincing lonceng doa membuka pagi yang dingin. Di desa di kaki Himalaya ini, sekitar 4.500 kilometer dari Jakarta, menembus udara segar seraya menajamkan pancaindra untuk memotret ibarat merasakan “orgasme” fotografi.

Sebagai seorang fotografer yang menggemari trekking, saya senantiasa mencari destinasi di mana profesi dan hobi saya bisa berjalan beriringan—dan Nepal adalah salah satu tempat yang paling ideal untuk itu. Khusus trip kali ini, saya bahkan diganjar bonus menghadiri festival Photo Kathmandu.

Alam dan budaya adalah dua magnet utama Nepal. Selain rangkaian gunung jangkung bermasker salju, negeri atap dunia ini didiami 30 juta warga yang mayoritas tekun merawat tradisi dan agama. Demi menyaksikan itu semua, kaum penjelajah internasional rutin melawat Nepal, terutama setelah tim pimpinan Sir George Everest melakukan survei topografi Himalaya pada abad ke-19.

Seorang pemilik pondokan di Upper Pisang mengisi waktu sore.

Pendaki ulung (dan sugih) lazimnya membidik puncak-puncak yang paling semampai. Sebagian yang lain, termasuk saya, memilih trekking di jalur-jalur elok dataran tinggi, salah satunya Annapurna Circuit.

Annapurna Circuit, salah satu trek terpanjang di dunia, dinaungi pegunungan dengan elevasi antara 6.000-8.000 meter, contohnya Dhaulagiri, Machhapuchhre, Gangapurna, dan Manaslu. Sebagai perbandingan, Menara alam terjangkung di Indonesia, Puncak Jaya, tingginya “hanya” 4.884 meter.

Selain dikangkangi rantai pegunungan, jalur trekking ini dibelah persawahan, ditumbuhi hutan subtropik, serta ditaburi desa bersahaja yang menyandarkan hidupnya pada alam. Permukiman di dataran rendah umumnya didiami penganut Hindu, sementara pemeluk Buddha Tibet menghuni dataran tinggi seperti Manang dan Lower Mustang.

Kiri-kanan: Sawah di Bahudanda, Annapurna Circuit; Seorang trekker menyusuri jalur menuju Desa Ghyaru.

Saya mengawali trekking di Bhulbhule, sebuah desa di kawasan konservasi. Mengikuti meander Sungai Marshyangdi, saya merandai jalur naik turun, kadang meniti jembatan gantung yang dihiasi bendera-bendera doa sarat warna yang terus berkibar ditiup angin. Selalu ada yang menarik dipotret sepanjang jalan, baik gunung, sungai yang membelah tebing, ataupun penduduk dengan segala aktivitasnya.

Annapurna Circuit membentang 160-230 kilometer di pinggang Pegunungan Annapurna. Sepanjang jalur, ada banyak desa yang rutin dijadikan area transit pengelana, misalnya Bahundanda, Chamje, dan Dharapani. Usai lima hingga tujuh jam berjalan, saya lazimnya beristirahat di pondokan di desa, lalu mengambil kamera dan melakoni eksplorasi fotografi.

Tiap kali mengarungi desa di Nepal, saya mencoba mengenal kebudayaan lokal sekaligus memahami cara warga hidup di tengah gelombang modernisasi. Walau tanpa laut dan teronggok di atap dunia, Nepal sejatinya sudah terkoneksi dengan dunia. Turis dari penjuru bumi rutin mendatanginya. Tahun  lalu, angkanya mencetak rekor baru di atas  satu juta jiwa. Persinggungan transnasional itu juga berlangsung di jagat maya. Jaringan internet sudah terpasang di sini, dan media sosial bukanlah sesuatu yang asing bagi sherpa.

Siluet orang-orang di gerbang Desa Ranipauwa, salah satu titik transit di Annapurna Circuit.

Melanjutkan ekspedisi ke area Chame, hutan rhododendron dan sungai Marshyangdi mendominasi lanskap. Warga di sini dibentuk dari percampuran antara komunitas Gurung, Manangi, dan Thakali yang menghuni rumah-rumah tradisional berdinding batu.

Di etape berikutnya, saya memasukiUpper Pisang, di mana karakter lanskap bergeser dari hutan subtropis menjadi alpin. Kini tersaji padang lapang yang dikerumuni tanaman perdu yang pendek. Seiring itu, panorama kultural pun berubah haluan ke arah Tibet, seperti terlihat dari banyaknya gompa dan biara Buddha.

Memotret di dataran tinggi menuntut bekal khusus. Selain peralatan fotografi yang prima menghadapi cuaca ekstrem, kita membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan tipisnya udara. Kombinasi itu menentukan kadar kenikmatan trekking dan memotret.

Kiri-kanan: Atmosfer pagi di Desa Manang; Seorang pria berdiri di atap rumahnya di Desa Manang.

Manang, desa di ketinggian 3.540 meter, sedikit di bawah Gunung Semeru, adalah wadah populer bagi para trekker untuk melakukan aklimatisasi atau penyesuaian tubuh terhadap lingkungan baru, dalam hal ini dataran tinggi.  Selain menampung pondok-pondok rehat, desa terbesar di Annapurna Circuit ini memiliki sebuah klinik yang saban sore memberikan kuliah seputar AMS (acute mountain sickness).

Manang jugalah sentra turis yang populer. Desa ini mengoleksi sejumlah teater yang rutin memutar video-video bertema petualangan di Himalaya. Di antara sesi menonton, pengunjung bisa kongko santai di kedai-kedai kopi atau German bakery. Selagi melakukan aklimatisasi, saya bertamu ke biara-biara Buddha dan tempat-tempat fotogenik di sekitar desa, salah satunya Danau Gangapurna.

Titik tertinggi di Annapurna Circuit adalah Thorong La (5.416 meter). Dari sini, saya melewati persinggahan seperti Yak Kharka, Thorong Phedi, dan High Camp, selanjutnya menuruni medan ke arah Muktinath yang merupakan destinasi ziarah umat Hindu. Mendarat di Kagbeni, kompleks yang menyerupai desa warisan Abad Pertengahan, saya pun menutup trekking, walau trip ini sesungguhnya belumlah rampung. Seperti saya singgung di awal tulisan, ajang akbar Photo Kathmandu telah menanti  di ujung perjalanan.

Salah satu sudut Freak Street, gang yang sangat populer di kalangan hippies.

Bergeser 360 kilometer dari Annapurna Circuit, saya memasuki Ibu Kota Nepal tatkala Photo Kathmandu bersiap menyambut sesi Public Programming yang dijadwalkan bergulir dua pekan. Jika selama trekking saya dibombardir pemandangan elok, kali ini saya disuguhi foto-foto serius kreasi puluhan juru kamera.

Di kompleks tua Patan Durbar Square, bagian dari Situs Warisan Dunia, pengunjung hilir mudik mengamati foto-foto yang melekat di sebuah papan besar. Beberapa turis asyik mengamati foto dengan tangan memegang program book berisi peta, lokasi, dan daftar acara festival. Saya pun berpindah dari satu foto ke foto lain, sesekali memotret suasana Durbar Square dengan pendekatan street photography.

Photo Kathmandu adalah festival foto garapan lembaga edukasi Photo Circle. Hajatan ini awalnya dipusatkan di Patan, zona historis di Kathmandu, tapi kemudian panitia melebarkannya ke area-area lain. Satu aspek unik yang membuat festival ini punya banyak penggemar ialah kemasannya. Berbeda dari banyak festival yang “berjarak” dari lingkungan sekitarnya, Photo Kathmandu melebur natural dalam denyut kehidupan kota.

Warga memandangi foto peserta Photo Kathmandu di Patan Durbar Square.

Di jilid ketiganya akhir tahun silam, Photo Kathmandu menyoroti isu “gender, power, identity, patriarchy, and sexuality.” Foto-foto hasil seleksi dan kurasi dipajang di beragam lokasi, termasuk kedai kopi, pasar, gang sempit, hingga rumah warga. Menariknya, tak Cuma sejalan dengan tema kuratorial, foto-foto itu ditata sedemikian rupa agar harmonis dengan latarnya memakai pendekatan yang lazim dinamai “respons ruang.”

Ini kunjungan kedua saya ke Photo Kathmandu. Yang lebih mengesankan kali ini ialah pengalaman menelusuri kota untuk melacak venue festival. Sensasinya seperti berburu harta karun. Tiap penemuan adalah sebuah kejutan. Suatu kali, di tengah-tengah terpaan angina dingin, saya meringkuk di sebuah kafe di kawasan Freak Street dan menyaksikan beberapa foto yang dipajang di interiornya. Ditemani secangkir kopi, saya menyerap cerita tentang kaum hippies yang turut membentuk wajah daerah ini.

Berkat penataannya yang merakyat dan artistik, foto-foto yang dipajang dalam festival ini kerap berubah jadi target foto baru. Saya misalnya menemukan para perempuan yang menjajakan camilan di muka foto-foto arsip yang memperlihatkan kehidupan buruh Nepal di masa yang lalu. Paduan antara perempuan berbaju sari yang menyala dengan latar foto pameran dan lalu lalang orang seakan menambah energi kota ini.

Kiri-kanan: Pedagang sayur dengan latar foto peserta Photo Kathmandu; Seekor anjing terlelap di kaki foto yang dipajang di daerah Patan.

Atmosfer malam festival tidak kalah seru. Setiap pukul 19.00, komunitas fotografer bergabung dengan warga dan turis untuk menyaksikan slideshow foto. Plaza hingga tempat cuci baju diubah jadi teater nobar. Rampung pemutaran karya, tepuk tangan bergema, lalu para penonton berpencar menuju kafe-kafe sekitar untuk meneruskan malam. Ditunjang suasana festival yang cair, forum-forum dialog kasual di antara pengunjung begitu mudah tercipta di luar ruang-ruang acara.

Photo Kathmandu mendedahkan beragam wajah Nepal yang kerap luput dari mata turis. Berkat festival ini pula, Nepal merekah jadi destinasi yang kian memikat bagi para fotografer, terutama fotografer pencinta trekking seperti saya.

Pameran foto dalam Photo Kathmandu, festival yang digelar di beragam ruang publik.

PANDUAN
Rute
Kathmandu, gerbang utama Nepal, dilayani antara lain oleh Thai Airways (thaiairways.com) via Bangkok, Singapore Airlines (singaporeair.com) via Singapura, serta Malaysia Airlines (malaysiaairlines.com) via Kuala Lumpur. Visa bisa diurus di bandara dengan biaya $25, berlaku untuk 15 hari.

Informasi
Awalnya tahunan, Photo Kathmandu (photoktm.com) berubah jadi ajang bienial di jilid ketiganya, 2018. Jadwal 2020 belum dilansir, tapi festival ini lazimnya bergulir di akhir tahun, antara Oktober dan November. Photo Kathmandu diselenggarakan oleh Photo Circle (photocircle.com.np), lembaga edukasi yang juga mengelola arsip foto digital bernama Nepal Picture Library (nepalpicturelibrary.org).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2019 (“Plato & Foto”).