Kami naik perahu, lalu menyeberangi selat yang tenang layaknya selembar kain habis disetrika. Kami mendarat di Pantai Malole, membentangkan tikar di atas pasir putih, membuka rantang dan ransum yang disiapkan Ramla. Bersama, kami menyantap ikan-ikan segar berbumbu rempah yang harumnya menyeruak sampai jauh.

Nelayan cilik dan hasil tangkapannya di sore hari.

Kami memandang laut sambil bercakap-cakap, lalu pulang setelah bosan. Tamasya yang sederhana. Tidak hanya keluarga Ramla, ada beberapa keluarga lain yang piknik di sini. Warga Banda punya kebiasaan berlibur, walau tempat liburannya hanya berjarak 15 menit dari rumah. Lagi-lagi, ini kebiasaan warisan orang Eropa.

Pagi buta berikutnya, Ramla telah mandi, lalu merias bibir dan wajahnya yang mulai keriput. Usia tampaknya lebih kuat dari kecantikannya. Suaminya, Yahya, juga telah mengenakan batik dan menyisir rambutnya yang tipis, kemudian mengenakan peci. Kali ini saya diundang menghadiri sebuah pesta pernikahan. Saya seperti anak yang baru dipungut keduanya di tengah laut. Ke mana pun mereka pergi, saya dibawa. “Kamu harus ikut, di sini setiap orang harus menghadiri pesta!” Kami menumpang kole-kole, perahu kecil. Tak sampai 20 menit, kole-kole bermesin tempel ini telah bersandar di Banda Besar, pulau hijau yang sarat aroma pala. Menoleh ke mana pun, terlihat hamparan pala. Hari masih pagi, tapi para tamu telah berdatangan.

Sepertinya seantero Banda mengetahui siapa saja yang punya hajat. Dan seperti kata Ramla, setiap orang wajib hadir. Di tempat resepsi, mempelai perempuan telah menanti dengan pakaian putih ala Anglo yang dipadu kerudung. Rumah tempat kenduri ini dihiasi warna-warni Eropa dan Cina. Sebuah organ tunggal juga telah disiapkan. Tak berapa lama, pengantin laki-laki datang dan para tamu menyambutnya dengan berdiri. Pengantin pria tampil mirip Raja Fahd dari Arab, dengan serban di kepala dan jubah putih yang membalut badan.

Ketika pesta belum usai, saya dibawa Pongky ke kebun pala yang ditanam sejak 1728. Pala, kata Pongky van den Broeke, adalah buah sengketa berabad-abad. Buah ini pula yang memikat orang-orang Barat, termasuk buyut Pongky. Pongky adalah sisa dari zaman keagungan rempah. Dia mengelola sendiri kebun pala miliknya. Luas tanahnya belasan hektare.

KIri-kanan: Burung nuri hijau yang hidup di kawasan Maluku; buah pala, alasan negeri-negeri penjajah di masa lalu memperebutkan Banda.

Dia juga membudidayakan bibit pala, lalu menjualnya ke berbagai daerah di luar kepulauan. “Dulu, karena keterbatasan tenaga penggarap lahan yang ribuan hektare luasnya di Kepulauan Banda, Belanda mencari kuli ke Pulau Jawa. Tetapi, kini, masa jaya pala itu hanya tinggal ini,” katanya sambil menunjuk kebun pala yang hanya tersisa belasan hektare. Saya pernah melihat suasana di sebuah bandar di Belanda melalui foto tua. Orang-orang antre menunggu rempah yang datang dari Hindia. Rempah dari Banda tentunya. Namun, pada 1940-an, ketika Jepang hendak mencaplok Asia, pala dibabat habis dari tanah Banda. Pieter van den Broecke, kakek Pongky, hampir trauma melihat api yang membakar seluruh kebun pala.

Pala tidak bisa menjawab lapar prajurit Dai Nippon, karena itu diganti ubi. “Ubi ditanam, tapi malah pala juga yang tumbuh,” ujar Pongky disusul tawa. Setelah pembakaran lahan yang masif, pala malah kian subur. Tapi riwayatnya tidak berhenti di situ. Setelah Indonesia merdeka dan Orde Baru berkuasa, pemerintah daerah ingin memonopoli perkebunan pala hingga memberlakukan P28—istilah yang digunakan untuk menangkap siapa saja yang menanam pala. Lagi-lagi pala menjadi simpul sengketa. Berbagai kenyataan itu menyebabkan kejayaannya di Banda perlahan redup.