Parade balon udara di AlUla, sisi utara Arab Saudi.
Cultures

Menjelajah AlUla dari Peradaban Kuno hingga Kemewahan Masa Kini

Sering dianggap sebagai area terlarang untuk umat Muslim, AlUla kini menjadi salah satu destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Saudi.

Terletak di jantung lembah yang dikelilingi tebing batu pasir raksasa dan gurun luas yang seolah tak berujung, kawasan ini akan memikat siapapun yang berkunjung dengan pesona alamnya yang dramatis, warisan sejarahnya yang luar biasa, serta transformasinya menjadi destinasi kelas dunia.

Bagi banyak pelancong, AlUla adalah tempat yang sempurna untuk memahami bagaimana Saudi membuka dirinya pada pariwisata sambil tetap menjaga akar budayanya.

Parade balon udara di AlUla, sisi utara Arab Saudi. (Foto: Saudi Tourism Authority)

Namun tak sedikit orang yang beranggapan bahwa AlUla yang kini dipromosikan sebagai kawasan wisata merupakan wilayah yang dulu dikaitkan dengan kisah kaum yang dibinasakan, sebagaimana tercatat dalam tradisi dan disinggung dalam sejarah Islam tentang kaum Tsamud.

Baca Juga: 48 Jam di Saudi: Menitikkan Air Mata di Makkah dan Berenang di Laut Merah

Padahal, persepsi tersebut sering kali bercampur antara lokasi historis yang berbeda dan tidak seluruhnya merujuk pada wilayah yang kini dikembangkan sebagai destinasi wisata. Area yang dibuka untuk pelancong saat ini justru merupakan lembah yang kaya peninggalan peradaban.

Pemerintah Saudi pada faktanya menata kawasan ini sebagai ruang edukasi budaya dan sejarah, bukan sebagai tempat yang menyalahi nilai-nilai tersebut.

“Perpustakaan Terbuka”

Adapun sejarah panjang AlUla merupakan bagian yang paling memukau. Jejak peradaban kuno tercatat jelas di tiga situs utamanya. Yang pertama ada Hegra, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Saudi. Situs ini menghadirkan makam-makam monumental kaum Nabataean yang dipahat langsung di tebing batu dengan detail yang hampir mustahil dipercaya.

Bentuk fasadnya menunjukkan tingkat kecanggihan teknik arsitektur yang berkembang jauh sebelum peradaban modern. Tak jauh dari sana, Jabal Ikmah dikenal sebagai “perpustakaan terbuka” terbesar di kawasan ini.

Disebut demikian karena wilayah ini dipenuhi ribuan inskripsi yang terpahat di batu-batu besar yang menggambarkan kehidupan, perdagangan, ritual, hingga hukum pada masa lampau. Sementara itu, Dadan menjadi pusat kerajaan Dadan dan Lihyan, dua peradaban penting yang menguasai jalur perdagangan regional di masanya.

Di dekat situs Dadan, pengunjung bahkan bisa mencoba pengalaman memahat aksara dadanic, huruf khas yang terinspirasi dari cara masyarakat kuno mengukir simbol dan tulisan di bebatuan.

(Dok. Our Habitas AlUla)
Elephant Rock

Di antara lanskap ikonik AlUla, Elephant Rock atau Jabal AlFil menjadi salah satu formasi alam paling terkenal. Batu raksasa yang menyerupai siluet gajah ini terbentuk secara alami selama jutaan tahun akibat erosi angin dan air, menciptakan pemandangan yang memukau terutama saat matahari terbenam. Area di sekitarnya kini ditata sebagai ruang rekreasi dengan tempat duduk outdoor, cahaya lembut, dan suasana gurun yang tenang. Hal ini tentu membuat

Elephant Rock menjadi lokasi sempurna untuk menikmati senja khas AlUla. AlUla tentu saja juga mengalami transformasi modern. Salah satunya ditandai oleh hadirnya Maraya, sebuah gedung cermin terbesar di dunia yang berdiri anggun di tengah padang batu.

Baca Juga: Trade Talk: Eyad Jan, Southeast Asia Market Unit Senior Director, Saudi Tourism Authority

Bangunan ini memantulkan lanskap AlUla secara sempurna, sehingga menciptakan ilusi optic yang memukau dan menjadikannya ikon arsitektur kontemporer di Saudi. Bagi yang suka berfoto, tempat ini jelas bisa mempercantik feed instagram kamu.

Di dalam gedung ini bisa dijadikan pusat pertunjukan musik, seni, dan konferensi internasional. Tak heran, Maraya terkadang menjadi simbol AlUla sebagai destinasi budaya sekaligus ruang kreatif global.

Perkembangan pariwisata yang pesat juga melahirkan deretan resor bergengsi, salah satunya Our Habitas AlUla yang menjadi favorit banyak wisatawan. Resor ini dikenal karena pendekatannya yang ramah lingkungan, memadukan estetika gurun dengan kenyamanan modern tanpa merusak lanskap alami di sekitarnya.

Vila-vilanya yang berkonsep tenda tersebar di antara tebing dan lembah. Siapapun yang menginap dijanjikan dengan suasana privat yang menyatu dengan alam tebing-tebing tinggi nan menawan. Apalagi pada malam hari bintang-bintang terlihat sangat jelas dan matahari terbit menjadikan langit indah untuk dipandang.

Pengalaman menginap di sini bukan sekadar menikmati kemewahan, tetapi juga merasakan ketenangan khas AlUla yang sulit ditemukan di tempat lain. Ada juga resor lain seperti Banyan Tree AlUla yang cocok untuk pengalaman menginap mewah.

Untuk urusan kuliner, AlUla juga menghadirkan sejumlah restoran yang menghadirkan pengalaman lokal dengan sentuhan modern. Joontos menjadi pilihan menarik dengan konsep yang menonjolkan bahan-bahan segar gurun dan teknik memasak kreatif yang menghadirkan cita rasa baru.

Sementara itu, Pink Camel menawarkan suasana santai dengan hidangan ringan serta pemandangan lembah yang menenangkan, cocok untuk menikmati waktu sore setelah seharian menjelajah situs-situs bersejarah.

Bagi siapa pun yang ingin merasakan keindahan Saudi yang sesungguhnya, AlUla adalah destinasi yang wajib masuk dalam daftar perjalanan.