Pemandangan ikon kota Madinah dalam perjalanan 48 jam di Saudi.
Cultures

48 Jam di Saudi: Menitikkan Air Mata di Makkah dan Berenang di Laut Merah

Orang sering berkata bahwa kejutan dari Tuhan datang pada waktu yang tak terduga. Itulah yang saya rasakan ketika akhirnya mendapat kesempatan berangkat dan berpetualang 48 jam di Saudi untuk pertama kalinya. Sebagai seorang muslim, tujuan utamanya tentu untuk beribadah di kota-kota suci.

Namun, perjalanan saya tidak berhenti pada kisah spiritual semata. Selama ini, persepsi banyak orang Indonesia terhadap Saudi masih related pada keagamaan. Padahal, negeri dengan lambang elang hijau itu menawarkan banyak hal, selain sisi religiusnya. Ada tempat-tempat magis dan memukau yang layak dijelajahi sebagai destinasi wisata. Ini petualangan saya 48 jam di Saudi.

Hari 1: Pengalaman Spiritual di Makkah dan Masjidil Haram

Perjalanan udara lebih dari sepuluh jam dari Jakarta ke Jeddah akhirnya membawa saya ke tanah yang selama ini hanya saya bayangkan. Dari bandara, saya langsung melanjutkan perjalanan darat menuju Kota Suci Makkah.

Setibanya di sana, setelah mengisi perut sebentar, saya tak ingin membuang waktu. Saya berjalan menuju kawasan Masjidil Haram dengan langkah yang semakin terasa berat oleh rasa haru bercampur bahagia yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Dada saya berdebar, dan bulu kuduk ikut merinding ketika Ka’bah akhirnya tampak di depan mata. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan momen itu. Air mata, doa, dan ibadah berpadu begitu alami saat saya menunaikan umrah bersama ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia. Di sinilah kiblat seluruh umat Islam di dunia menghadap ketika mendirikan salat.

Makkah, kota yang hanya dapat dimasuki umat Muslim, nyaris tidak pernah berhenti bergerak. Setiap tahun, lebih dari 13 juta jamaah umrah dan sekitar 2,5 juta jamaah haji datang ke sini. Kota ini benar-benar terasa maju. Dari tahun ke tahun, inovasi terus dilakukan demi kenyamanan para jamaah: sistem pendingin raksasa yang menjaga area Masjidil Haram tetap sejuk, robot pembersih yang beroperasi tanpa henti, kamera berbasis AI untuk mengatur arus kerumunan, hingga smart bracelet yang membantu jamaah lansia agar tidak tersesat. Bahkan, pemerintah telah menempatkan lebih dari 5.000 kamera baru di sekitar kompleks untuk mempercepat respons keamanan.

Semua ini menjadi bagian dari Saudi Vision 2030, sebuah program besar yang menargetkan pendapatan wisata religius mencapai lebih dari USD 80 miliar per tahun, sekaligus membuka pintu untuk ragam pengalaman wisata di luar ibadah.

Malam itu, saya menutup hari yang penuh kesan dengan menginap di Jumeirah Jabal Omar Makkah, properti pertama dari grup Jumeirah di Saudi. Berada di kawasan Jabal Omar yang hanya beberapa langkah dari Masjid al-Haram, banyak kamar di hotel ini menawarkan pemandangan langsung maupun sebagian ke arah Ka’bah, termasuk kamar yang saya tempati.

Setelah sebentar beristirahat, tujuan saya berikutnya adalah Distrik Budaya Hira. Terletak di kaki Jabal al-Nour (gunung yang terkenal karena menjadi tempat Gua Hira, lokasi turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW), kawasan ini dikembangkan secara modern dan sangat teratur. Dengan luas lebih dari 67.000 m², distrik ini mencakup pusat pengunjung, museum, pameran, jalur menuju gua, ruang publik, serta berbagai fasilitas pendukung.

Dua atraksi utamanya tidak boleh dilewatkan. Revelation Exhibition menghadirkan kisah turunnya wahyu melalui instalasi audio-visual modern yang imersif, sementara Holy Qur’an Museum menampilkan manuskrip Al-Qur’an kuno, fragmen bersejarah, dan teknologi interaktif yang mengajak pengunjung memahami perkembangan penulisan mushaf dari masa ke masa. Selain nilai edukatifnya, Distrik Budaya Hira juga dirancang sebagai ruang wisata yang nyaman.

Terdapat jalur pendakian menuju Gua Hira yang dimulai dari kawasan ini, area kafe dan restoran untuk beristirahat, taman taman relaksasi, serta toko suvenir yang menambah lengkap pengalaman berkunjung.

Ketika matahari semakin terik, saya melanjutkan perjalanan menuju kota suci berikutnya, apalagi kalau bukan Madinah. Untuk mencapai kota ini, saya menaiki Haramain High-Speed Railway (HHR), kereta cepat pertama di Timur Tengah sekaligus salah satu yang paling modern di dunia.

Rute HHR membentang sekitar 450 kilometer, menghubungkan lima stasiun utama: Makkah –Jeddah – King Abdulaziz Airport – King Abdullah Economic City (KAEC) – Madinah. Setiap stasiunnya tampil dengan arsitektur modern bercorak Islami, dengan kubah geometris, garis-garis bersih, dan langit-langit tinggi yang mengingatkan pada masjid kontemporer. HHR melaju hingga 300 km/jam, membuat perjalanan Makkah–Madinah hanya sekitar 2 jam 20 menit, jauh lebih singkat dibandingkan perjalanan darat yang sebelumnya memakan waktu lebih dari lima jam.

Kenyamanan dan kecepatan HHR membawa kami langsung menuju destinasi pertama di Madinah, yakni Masjid An-Nabawi, masjid tersuci kedua setelah Masjidil Haram. Ketenangan yang saya rasakan di sini sulit digambarkan dengan kata-kata. Saya berkesempatan menunaikan salat Ashar di masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW sendiri pada tahun 622 M.

Salah satu fitur paling ikonik Masjid Nabawi modern adalah 250 payung raksasa otomatis yang menghiasi halaman masjid. Payung-payung ini dapat membuka dan menutup seperti bunga raksasa untuk memberikan perlindungan dari panas terik sekaligus menciptakan pemandangan yang sangat indah saat semuanya mengembang serempak.

Di dalam kompleks masjid terdapat Raudhah Asy-Syarifah, area di antara mimbar dan rumah Nabi yang disebut sebagai “taman surga”. Di sinilah juga berada makam Nabi Muhammad SAW. Ketika saya berdiri tepat di depan Raudhah, rasa haru membuat saya sulit berkata apa pun, yang tersisa hanyalah doa yang mengalir tanpa henti. Meski waktu di dalam Raudhah sangat singkat, momen itu akan selalu terpatri di ingatan dan hati saya.

Mengakhiri hari, saya menginap di Anwar Al Madinah Mövenpick dikenal sebagai hotel bintang lima terbesar di Madinah. Dengan lebih dari 1.200 kamar dan suit, Hotel ini memiliki akses langsung ke pelataran Masjid Nabawi, sehingga tamu bisa bisa berjalan hanya beberapa langkah untuk salat di Masjid Nabawi.

Hari 2: Menjelajahi AlUla, Museum Terbuka Arab Saudi

Dari Madinah, saya melanjutkan perjalanan darat sekitar tiga setengah jam melintasi padang pasir musim dingin menuju AlUla. Jalur menuju kawasan ini dahulu merupakan bagian dari rute perdagangan kemenyan dan rempah yang menghubungkan Arabia, Mesir, dan Levant.

Sepanjang perjalanan, lanskap yang saya lihat dari dalam mobil selalu berubah dramatis. Dari gurun berbatu yang tampak gersang, kemudian bergeser ke lembah-lembah basalt hitam yang seolah membeku dalam waktu, hingga akhirnya menyambut kami dengan hamparan pasir keemasan yang lembut dan berkilau di bawah matahari musim dingin. Perubahan kontur dan warna ini membuat perjalanan terasa seperti menelusuri bab-bab berbeda dari sebuah buku sejarah alam.

Setibanya di AlUla, kami langsung menuju tempat menginap malam ini, Our Habitas AlUla. Properti ini berdiri anggun di tengah Ashar Valley, lembah dramatis yang diapit tebing-tebing batu pasir berwarna oranye kemerahan. Lanskapnya begitu megah hingga terasa seperti berada di antara dinding-dinding alam raksasa yang berubah warna mengikuti cahaya.

Resor ini memiliki konsep seperti tenda modern di setiap 96 villanya. Mengusung filosofi sustainable luxury, arsitekturnya memanfaatkan bahan-bahan alami seperti kayu dan batu lokal, serta menerapkan desain modular yang dapat dipasang dan dibongkar tanpa merusak lingkungan.

Setiap vila mampu dilepas sepenuhnya tanpa meninggalkan jejak ekologis, menjadikan Habitas salah satu pionir eco-conscious hospitality di Saudi.

Siapa pun yang menginap di sini pasti sepakat bahwa pemandangan di sekitar vila, hamparan pasir lembut dan tebing batu pasir menjulang, adalah pengalaman yang tak ternilai. Saat malam tiba, langit gurun menampilkan taburan bintang yang jarang terlihat di kota. Pagi harinya, cahaya jingga matahari terbit memantul di dinding-dinding batu, menciptakan pemandangan yang hampir terasa tidak nyata.

Saya juga menyempatkan diri berkeliling menggunakan sepeda listrik yang disediakan untuk setiap vila. Angin dingin gurun Saudi yang menerpa wajah, berpadu dengan keheningan dan keagungan Ashar Valley, menciptakan rasa kagum yang sulit dijelaskan.

Namun rasa kagum itu masih belum berhenti. Semakin saya menjelajahi AlUla, semakin saya tersadar bahwa daerah ini bukan sekadar indah, ia adalah museum terbuka berusia ribuan tahun. Jauh sebelum keberangkatan saya, saya sudah mengetahui sedikit tentang sejarah AlUla, tetapi berada langsung di tempatnya membuat semuanya terasa berbeda.

Temuan arkeologi menunjukkan bahwa kawasan ini telah dihuni sejak lebih dari 200.000 tahun lalu, menjadikannya salah satu wilayah tertua yang mencatat aktivitas manusia di Jazirah Arab. Keberadaannya mendahului banyak kerajaan besar yang pernah berjaya di lembah ini.

Land Rover sebagai transportasi darat selama 48 jam di Saudi.

Melalui tur menggunakan Land Rover Series I &II klasik asli Era 1950-an, saya menyusuri Hegra (Mada’in Salih), kota peninggalan Kerajaan Nabatean yang pernah menguasai jalur perdagangan kemenyan dan rempah. Di sinilah terdapat lebih dari 100 makam batu raksasa dengan fasad detail yang diukir langsung pada tebing pasir merah. Hegra adalah situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Saudi, sering dijuluki sebagai “saudara Petra” di Jordania, namun suasananya jauh lebih tenang, mistis, dan terasa sangat autentik.

Beberapa menit berkendara mengantarkan saya ke kawasan kota batu Dadan. Bertahun-tahun lalu, para arkeolog menemukan makam-makam monumental dengan ukiran khas, termasuk Makam Singa yang terkenal yang menjadi bukti kejayaan politik dan religius masyarakat kuno yang pernah berkuasa di sini.

Tak jauh dari Dadan, saya melanjutkan eksplorasi ke Jabal Ikmah, yang dikenal sebagai perpustakaan terbuka terbesar di Saudi. Tebing-tebing di kawasan ini dipenuhi ribuan inskripsi kuno seperti ukiran kalimat, simbol, dan catatan kehidupan yang dibuat masyarakat ribuan tahun lalu. Tulisan-tulisan tersebut membahas banyak hal, mulai dari politik, aturan sosial, perdagangan, hingga hak-hak perempuan. Di dekat situs itu, saya bahkan mencoba memahat nama saya sendiri menggunakan aksara Dadanitic, meskipun hasilnya jauh dari memuaskan.

Setelah hari yang panjang, saya beristirahat sekaligus bersantap di Joontos, restoran bintang lima yang terletak di hotel Dar Tantoura The House. Nama Joontos berasal dari konsep “from the soil to the soul”, yang mencerminkan hubungan mendalam antara bumi AlUla dan kehidupan yang tumbuh darinya. Setiap hidangan di sini dirancang untuk menghormati tanah, baik dari bahan, rasa, maupun cara penyajiannya.

Chef eksekutif Joontos adalah Jaume Puigdengolas, seorang chef berbintang Michelin dengan pengalaman luas di Timur Tengah dan sebelumnya menjabat sebagai head chef di beberapa restoran ternama di Spanyol. Salah satu hidangan andalannya adalah goat’s cheese, pengalaman rasa yang baru bagi saya namun terasa unik dan lembut.

Joontos juga mendapatkan Bib Gourmand dari Michelin Guide Saudi Arabia 2025. Bib Gourmand ini memberikan penghargaan untuk restoran yang punya masakan berkualitas tinggi tetapi dengan harga relatif terjangkau. Restoran ini bekerja sama langsung dengan petani lokal di oasis AlUla, yang memasok bahan segar seperti kurma, buah delima, mangga, citrus, dan sayuran akar gurun.

Interior Joontos mengikuti gaya arsitektur mudbrick tradisional,  dinding tanah, cahaya alami, dan furnitur buatan tangan lokal. Pencahayaan lembut dan aroma rempah hangat menciptakan suasana yang intim dan membumi, seperti makan di rumah bersejarah AlUla.

Hari 3: Menjelajahi Jeddah dan Laut Merah

Hari ini adalah hari terakhir saya di Saudi. Setelah puas menjelajahi AlUla, saya terbang menuju Jeddah untuk singgah semalam di Assila, a Luxury Collection Hotel, Jeddah, hotel elegan yang berdiri di salah satu jalan utama kota, Prince Mohammed Bin Abdulaziz Street.

Keesokan paginya, saya menuju Laut Merah untuk sesi snorkeling di kawasan La Mer Beach Resort. Laut Merah di Saudi terkenal dengan keanekaragaman hayatinya. Ada 1.200 lebih spesies ikan, dan sekitar 20 % dari spesies tersebut hanya ditemukan di Laut Merah. Air di sini relatif hangat dan stabil, membuat snorkeling bisa dilakukan sepanjang tahun di banyak area.

Untuk pertama kalinya, saya akhirnya memberanikan diri berenang di laut terbuka, semua berkat instruktur saya, Amy, seorang penyelam professional dari Afrika selatan, dan keindahan ekosistem laut merah yang masih sangat terjaga.

“Aku sangat bahagia ketika mendengar kebahagiaan seperti itu terjadi karena saya,” kata Amy dengan senyum lebar setelah saya memujinya.

Kembali ke daratan, saya menuju North Corniche, sebuah jalur dan taman tepi laut (waterfront promenade) yang membentang puluhan kilometer di sepanjang pesisir Laut Merah, dirancang untuk rekreasi, taman bermain anak, olahraga, dan menikmati pemandangan laut.

Di sini, saya menyusuri Jeddah Corniche Circuit, sirkuit yang digunakan dalam kalender Formula 1. Lintasan ini dibangun tepat di tepi laut, sehingga para pembalap melaju dengan panorama Laut Merah di satu sisi dan deretan gedung modern di sisi lainnya. Sirkuit ini dikenal sebagai street circuit tercepat di dunia, dengan kecepatan rata-rata mencapai 252 km/jam. Dengan panjang 6,174 kilometer dan 27 tikungan cepat, Jeddah Corniche Circuit menjadi sirkuit jalan raya terpanjang kedua di dunia.

Tak jauh dari lintasan tersebut berdiri Jeddah Yacht Club (JYC), dibuka tahun 2022 sebagai marina pertama di Saudi. Tempat ini dirancang untuk menampung kapal pesiar mewah dan memperkuat posisi Jeddah sebagai “Gateway to the Red Sea.” JYC juga memiliki destinasi eksklusif bagi warga dan wisatawan premium seperti restoran fine dining, beach club, promenade, dan galeri seni. Kehadirannya menjadi bagian penting dari Saudi Vision 2030 untuk memajukan pariwisata maritim dan memperkenalkan Saudi sebagai pusat gaya hidup internasional.

Hanya beberapa langkah dari area tersebut berdirilah Masjid Al-Rahma, masjid megah yang dibangun di atas pilar-pilar beton di laut. Saat air pasang, bangunan putih ini tampak mengapung di atas ombak. Masjid ini menjadi tempat singgah favorit jamaah umrah dan wisatawan yang ingin beribadah sembari menikmati keindahan Laut Merah.

Dan di titik inilah perjalanan saya di Saudi berakhir, meninggalkan tanah yang menghadiahkan pengalaman spiritual, budaya, dan alam yang akan selalu terukir di hati saya. (chs)