Artis Cinanti Astria dengan latar karya Agus Suwage dalam pameran Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak. (Foto: Sancoyo Purnomo/Goethe-Institut)

Membuka 2022, Galeri Nasional Indonesia menghadirkan pameran akbar bertajuk Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak. Pameran ini dibuka pada 27 Januari dan dijadwalkan bergulir hingga 27 Februari 2022.

Ini adalah pameran temporer luring pertama di Galeri Nasional setelah hiatus lebih dari satu tahun. Pameran format serupa yang terakhir kali digelar di sini ialah Pameran Imersif Affandi ‘Alam, Ruang, Manusia’ pada Oktober 2020.  

Kiri-kanan: Fasad Galeri Nasional Indonesia; Grace Samboh, kurator pameran. (Foto: Sancoyo Purnomo/Goethe-Institut)

Pameran Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak menampilkan 78 objek, terdiri dari arsip, buku, serta karya buatan 50 seniman. Bertindak sebagai kurator ialah Grace Samboh, yang juga terlibat dalam tim kurator Jakarta Biennale 2021. 

Dalam konferensi pers pada 27 Januari, Grace Samboh menjelaskan pameran ini berikhtiar menawarkan narasi baru dalam membaca sejarah seni. Dia meneliti sejumlah peristiwa sejarah, biografi seniman, juga “biografi” karya, lalu mencari persinggungan di antara peristiwa, orang, dan karya tersebut. 

Persinggungan-persinggungan itulah yang diterjemahkan dalam lima bagian pameran. Di bagian Kekerabatan misalnya, lukisan Kakak dan Adik dari Basuki Abdullah bersanding dengan lukisan Nenek dan Cucu dari Fadjar Sidik serta Father and Daughter dari Bui Suoi Hoa. Pilihan subjek terasa jadi benang merah di sini.

Ruang pamer bertema Kekerabatan memajang antara lain lukisan dari Basuki Abdullah dan Fadjar Sidik. (Foto: Sancoyo Purnomo/Goethe-Institut)

Berpindah ke bagian Daya, terpajang dua karya yang menyimpan kisah personal, yakni patung Torso dari Edhi Sunarso dan lukisan Torso buatan istrinya, Kustiyah. Dalam lukisannya, Kustiyah sebenarnya melukiskan patung tubuhnya yang dibuat oleh Edhi. Relasi seni pasutri yang unik.  

Bergeser ke bagian lainnya, Keberpihakan, ada karya yang jadi semacam “maskot” pameran, yakni Paduan Suara yang Tidak Bisa Berkata Tidak dari S. Teddy D. Berbentuk barisan kepala ayam berwarna kuning, instalasi buatan 1997 ini menyindir kor politik saat itu yang kompak tidak berkata tidak kepada Presiden Soeharto. Judul karya inilah yang menginspirasi judul pameran.

Kiri-kanan: Karya Paduan Suara yang Tidak Bisa Berkata Tidak buatan S. Teddy D.; Patung Couple buatan G. Ravinder Reddy. (Foto: Sancoyo Purnomo/Goethe-Institut)

Pameran Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak mendatangkan objek-objeknya dari beragam sumber, antara lain Galeri Nasional, Museum Seni Rupa & Keramik, Hamburger Bahnhof Berlin, MAIIAM Contemporary Art Museum Chiang Mai, serta Singapore Art Museum.

Publik bisa menemukan sejumlah karya dari nama besar di belantika seni, contohnya Tisna Sanjaya, Agus Suwage, Henk Ngantung, Lempad, serta Walter Spies. Kehadiran mereka agaknya bisa mengobati kerinduan publik berwisata mata di Galeri Nasional.

Patung Solidaritas buatan Dolorosa Sinaga mengenang perempuan korban kerusuhan 1998. (Foto: Sancoyo Purnomo/Goethe-Institut)

Pameran ini merupakan bagian dari proyek seni jangka panjang Collecting Entanglements and Embodied Histories. Selain di Indonesia, proyek garapan Goethe-Institut ini diwujudkan dalam pameran di Thailand, Singapura, serta Jerman.

Dengan asumsi level PPKM tidak kembali meningkat, pihak penyelenggara berniat meramaikan pameran di Jakarta lewat sejumlah acara, contohnya lokakarya bunyi bersama Nayamullah, sesi nobar film hasil kurasi Lisabona Rahman, serta tur sepeda bersama Ary Jimged. Khusus anak-anak, tersedia kelas kolase yang diasuh Ika Vantiani.Cristian Rahadiansyah