Oleh Cristian Rahadiansyah

Ibarat “paparazi bencana,” Ulet Ifansasti kerap memotret tempat-tempat yang paling runyam. Bukan karena hobi tentu saja, tapi penugasan. Pria yang bermukim di Yogyakarta ini pernah mendokumentasikan, antara lain, tsunami Banten, gempa Palu, erupsi Sinabung, dan kebakaran hutan Kalimantan Tengah. Tahun ini, dia meliput pandemi Covid-19 di Yogyakarta, penugasan dari The New York Times dan Getty Images

“Istri sebenarnya keberatan,” kata Ulet, “tapi saya merasa pekerjaan ini juga penting.” Berkompromi dengan dilema itu, Ulet selektif mengambil order: memotret hanya tempat yang dekat dan minim risiko, misalnya kondisi lengang Candi Prambanan atau konser daring musisi jazz. “Getty sempat menawarkan penugasan ke Malaysia, tapi saya tolak,” jelasnya lagi,

Kompromi juga diterapkan Ulet saat reportase. Dia membatasi kontak dengan subjek, gesit memotret, lalu bergegas pamit. Saat bepergian, dia naik mobil pribadi, itu pun dengan membawa serta istrinya, yang kadang merangkap tugas sebagai sopir dan pengawas demi memastikan sang suami tak ceroboh di lapangan. Sekembalinya ke rumah, Ulet mencopot semua barang di teras, menjauhi kedua anaknya, dan segera mandi.  

Masih di Yogyakarta, Arnold Simanjuntak, juga merekam wabah virus. Kali ini bukan dalam rangka penugasan, melainkan “panggilan mendesak,” seperti ditulisnya di akun Facebook. Pada 30 Maret, fotografer independen ini mulai menggarap dokumentasi bertema “solidaritas sosial saat pandemi.” Awalnya dia memotret penjahit pakaian hazmat di Sleman, lalu memotret seorang pria yang terkulai di muka Kantor Pos Besar. Foto-fotonya tayang di sejumlah media, tapi keluarganya marah karena dia nekat bekerja di tengah wabah.

Seperti juga Ulet, Arnold berupaya menjaga diri saat memotret, misalnya dengan menghindari kontak fisik—siasat yang problematis dalam pola tata krama lokal. “Kadang orang langsung menyodorkan tangan, dan di sini susah menolaknya,” ujarnya. Atas alasan keamanan pula, sepulang memotret, Arnold membiasakan diri masuk rumah lewat pintu samping, memasukkan baju ke ember cucian, lalu mandi.

Kendati situasi mengancam, Arnold berniat meneruskan proyek fotonya. Pandemi ini, menurutnya, adalah momen genting yang penting untuk direkam. “Istri sekarang sudah lebih mengerti tentang pekerjaan saya, tapi keluarga tidak lagi saya kasih tahu,” jelas Arnold tentang taktiknya untuk meredam omelan, seraya berharap keluarganya jarang memantau media. Pada 15 April, 14 foto karyanya tayang di The Jakarta Post. 

Empat petugas medis bersiap-siap mengevakuasi seorang pria yang terkulai di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta. (Foto: Arnold Simanjuntak)

Atas nama penugasan atau panggilan, banyak fotografer bekerja mendokumentasikan pandemi. Pilihan yang sarat risiko, tapi vital. Berkat keringat mereka, publik mendapatkan berita seputar perkembangan situasi terkini. Di Bali, Nyimas Laula, kontributor The New York Times, memotret turis Tiongkok sedang pelesir demi menghindari virus. Di Jakarta, Willy Kurniawan, staf Reuters, mengabadikan personel Palang Merah Indonesia menyemprotkan desinfektan. Di Depok, Adicumi Sastroputro, pewarta foto Antara, membuntuti pekerja medis melakukan tes swab

Di luar reportase untuk media massa, beberapa fotografer mencetuskan proyek personal bertema Covid-19. Walau menakutkan, pandemi memang menawarkan beragam tema visual. Apalagi, tatkala order proyek komersial menyusut drastis dan banyak media gaya hidup ditutup atau hiatus, fotografer tak punya banyak pilihan selain menggarap tema yang paling dicari publik—pandemi.    

Muhammad Fadli adalah salah seorang fotografer yang menggarap tema semacam itu. Pria yang berbasis di Bogor ini mendokumentasikan orang-orang yang terpaksa bekerja di tengah wabah, umpamanya pemulung, sopir taksi, hingga teknisi internet. “Baru dimulai minggu lalu,” jelasnya. “Awalnya sendirian. Tapi kemudian saya membawa Atet karena mesti memotret pakai lighting.” 

Juga beradaptasi dengan situasi, Fadli memodifikasi caranya bekerja. Dia menjaga jarak dari subjek, menghindari jabat tangan, dan mengurangi waktu pendekatan—proses yang merepotkan untuk proyek foto portrait. “Kadang jadi susah memang. Ketika mau kasih lihat hasil foto di kamera ke subjek, saya mesti jaga jarak, dan fotonya jadi tidak terlihat.”  

Baca juga: 20 Proyek Foto Merekam Dunia

Fotografer umumnya mafhum, menghadapi ancaman adalah bagian dari pekerjaan. Walau begitu, mereka juga sadar Covid-19 menghadirkan tingkat risiko yang ekstrem. Virus tidak terlihat, tidak pandang bulu, dan pastinya tidak peduli kartu pers. Lebih pelik lagi, fotografer tak cuma rawan menjadi korban, tapi juga rentan berubah menjadi “pelaku,” andaikan tanpa sadar terjangkit lalu menulari kolega atau keluarganya. Itu sebabnya isu reportase pandemi jadi perhatian komunitas juru foto. 

“Jika meliput konflik dan kena tembak, hanya kamu yang kena. Selesai! Untuk kasus virus, urusannya bisa panjang,” jelas Beawiharta, fotografer senior yang aktif mewanti-wanti rekan-rekannya. Didorong kegelisahan itu pula, dia menulis kiat meliput Covid-19, yang kemudian ditayangkan di akun Facebook pribadi dan portal forum fotografi 1000kata

Didasarkan pada kajian dari Centurion Risk Assessment Services, Bea merinci hal-hal yang perlu dipersiapkan fotografer sebelum turun ke medan wabah, mulai dari masker hingga asuransi jiwa. “Saya menulisnya setelah menerima pertanyaan dari 11 teman. Ada yang bertanya apa yang sebaiknya dilakukan, bagaimana jika ditugaskan kantor ke lapangan,” kenang Bea, fotografer independen yang pernah bekerja selama 20 tahun untuk Reuters.

Sebagian tips Bea mengisyaratkan pentingnya bersikap bijak. Tanpa mengabaikan tuntutan profesi, fotografer perlu menakar ancaman dengan saksama. “Jangan lakukan liputan kalau tidak penting sekali,” tulisnya di bagian awal. “Kalau menurut logika dan situasi lapangan, penyebaran virus terlalu berbahaya, peliputan sebaiknya dibatalkan,” tulisnya di bagian yang lain. Bagaimana jika liputan sangat penting sekaligus sangat berbahaya? Bea menawarkan solusi alternatifnya: foto hasil jurnalisme warga. “Fotonya mungkin kurang bagus, dan bisa jadi datang terlambat,” ujarnya, “tapi risikonya jauh lebih kecil.”

Foto karya Andri Wahyu meraih jumlah likes terbanyak dalam kontes Berbagi Cerita dari Rumah garapan lembaga pendidikan PannaFoto Institute.

Tak semua fotografer menghadapi posisi pelik itu. Terkurung isolasi, sejumlah orang memilih memotret hanya di lingkup personal dan domestik. Mereka tetap berkarya tanpa meninggalkan rumah. Mempraktikkan social distancing, tapi tidak “camera distancing.”

Karya-karya semacam itu, setidaknya sementara ini, masih sulit menembus meja redaktur, tapi bukan berarti tak punya platform. Di jagat maya bermunculan kontes foto personal bertema pandemi. Pada 31 Maret, Pewarta Foto Indonesia cabang Bandung menanggap kontes yang mendukung kampanye #dirumahsaja. Fotografer diminta mengirimkan foto tunggal atau foto cerita yang digarap di rumah dan sekitarnya. Sepuluh pemenangnya mendapatkan hadiah buku foto dan perlengkapan kesehatan.  

Seminggu sebelumnya, inisiatif serupa datang dari PannaFoto Institute. Pada 24 Maret, lembaga pendidikan fotografi ini meluncurkan kontes Berbagi Cerita dari Rumah. Tujuannya tak cuma mengajak fotografer berkarya di rumah saat pandemi, tapi juga menantang mereka merespons pandemi. Dari total 142 foto kiriman, tim juri memilih tiga pemenang, plus satu pemenang tambahan yang didasarkan pada jumlah likes terbanyak di Instagram. “Kita akan semakin kreatif saat terimpit, lalu sadar bahwa segala subjek di rumah ternyata dapat ditampilkan sebagai karya,” kata Fernando Randy, anggota tim juri.