Di Kobror, menjadi pemburu bagaikan takdir profesi. Anak-anak telah bermain busur bahkan ketika masih dalam perut ibunya, kata anekdot setempat. Namun tak semua burung dibunuh dan dijual; beberapa dirawat sebagai hewan peliharaan. Jika pria di Jawa gemar “bermain” merpati, orang di sini menyukai kakatua raja, kakatua biru, dan kakatua putih. Satwa menawan ini dipelihara tanpa sangkar. Pada siang hari, mereka akan melayang ke hutan, lalu kembali pada sorenya. Tapi, kenapa tidak ada yang memelihara cenderawasih?

Pertanyaan saya membuat Sayid terpingkal. Giginya tinggal empat buah dan gusinya menghitam dibakar bara tembakau. Fanean atau cenderawasih digolongkan sebagai burung mangar, burung dari kayangan yang diturunkan Tuhan ke bumi. Dalam mitologi masyarakat Gwanabai—masyarakat yang hidup di Kobror—ada dua pusaka yang diturunkan Tuhan: fanean dan em (mutiara). Kedua mainan para bidadari itu turun ke bumi untuk menemani Adam dan Hawa yang terusir dari firdaus.

Ada lagi alasan cenderawasih tidak ditangkarkan. Masyarakat Kobror percaya, nenek moyang mereka berasal dari cenderawasih. Memeliharanya berarti membunuhnya secara perlahan. “Tidak ada yang lebih cerdas dari cenderawasih,” kata Sayid. “Jangankan untuk dipelihara; belum seorang pun menemukan di mana ia bertelur.”

Hidup di Kobror pada musim Angin Timur adalah hidup dalam ketiadaan air. Musim panas yang panjang tengah melanda tanpa ampun. Perempuan-perempuan berjalan hingga belasan kilometer demi mencapai sumber air, kadang tanpa mendapatkan air bersih. Tapi pada musim inilah perburuan cenderawasih digelar.

Suatu pagi, mesin tempel perahu telah menderu. Elvis, yang telah kembali dari Benjina, menstarternya. Obet dan beberapa lelaki mengekang senapan angin. Perempuan-perempuan masuk ke perahu. Semuanya menanti saya. Tapi kami tidak hendak berburu cenderawasih. Kami akan “berburu” air. Belasan kilometer jauhnya. Air tidak lagi dicari di tengah pulau, sebab pasokannya sudah kering, jadi kami akan merantau ke pulau lain.

Perjalanan mencari air seperti liburan keluarga. Semua anak-anak ikut. Tampaknya mencari air jauh lebih penting daripada mencari guru. Tiap desa di Kobror memiliki satu SD, sementara SMP hanya ada di ibu kota kecamatan—Benjina. Jadwal sekolah pun tidak menentu. Bila ada guru, anak-anak bersekolah. Bila musim berburu datang (berburu cenderawasih ataupun air) sekolah diliburkan. Pendidikan formal bukanlah kebutuhan penting di sini.

Di musim hujan, orang-orang berburu rusa. Di musim kemarau, mereka berburu burung dan kepiting besar—juga berburu air seperti sekarang—walau anak-anak lebih suka menangkap biawak, yang kemudian dititipkan pada seseorang yang hendak pergi ke Dobo untuk dijual.

Di Kobror, orang menyantap apa saja demi mengisi perut: kepiting rebus, kasuari bakar, sup kanguru, gulai kuskus, babi, kakatua, nuri, rusa. Tidak ada padi. Tidak ada beras. Yang ada sayuran hijau, sagu, serta kasbi atau ubi.

Seretnya air memaksa saya tidak mandi berhari-hari. Air hanya untuk diminum, dan saya tidak tega memakainya untuk membasuh tubuh, sekalipun Obet dan istrinya berkali-kali dan hampir nyinyir mempersilakan saya menggunakan air di rumah untuk keperluan apa saja.

Perburuan air bersih menyita waktu seharian, sejak pagi hingga senja. Dalam ekspedisi yang melelahkan ini, rombongan saya masih sempat memeriksa jerat yang dipasang pada hari-hari sebelumnya. Dua ekor burung nuri dan seekor kanguru terperangkap. Saya pun mulai membayangkan menu malam ini. Perahu yang menampung air dan 10 penumpang membawa kami kembali ke Pafakula. Desa ini kembali ramai oleh canda dan tawa anak-anak.

Malam ini, Obet meracau tak keruan. Anjing peliharaannya, Burik, menggigit seorang anak. Si korban akan segera dibawa berobat ke Benjina, tempat satu-satunya di sini yang memiliki rumah sakit. Sekarang Obet mengutuki anjing tersebut, dan beberapa remaja sedari tadi berkeliaran dengan parang dan tombak untuk menghukum si pelaku.

Malam datang membawa gelap. Kegelapan dalam artian yang sebenarnya. Tapi, di Benjina sana, lautan akan dipenuhi cahaya, kata Obet. “Seperti di Hong Kong, kapal-kapal akan menyalakan lampu penangkap tuna. Semua terang, bahkan bayi tuna pun bisa kau lihat dari atas kapal,” kata Obet lagi, mengalihkan pembicaraan dari anjingnya yang bersembunyi di hutan. Obet terus menenggak arak dan meracau. Sesekali lolongan anjingnya terdengar dari kejauhan. Kantuk membunuh saya lebih cepat.