Kiri-kanan: Menara yang menampung restoran di Anantara Al Jabal Al Akhdar; kebab dengan nasi kabsa di Al Baleed Resort Salalah by Anantara.

Selepas 20 menit meninggalkan kaki gunung, kami berhenti di Nizwa, kota bersejarah yang dikurung benteng cokelat. Bekas Ibu Kota Oman ini berperan vital dalam mengakhiri penjajahan Portugis pada abad ke-17. Nizwa dilengkapi battlement, menara pengawas, serta “lubang-lubang pembasmi” di mana minyak mendidih dituangkan kepada para penyusup. Banyak turis dari Muscat berdatangan ke Nizwa demi mengenang masa lalu kota yang heroic itu. Dari benteng, mereka lazimnya singgah ke souk untuk berbelanja, termasuk saya yang membeli setengah kilogram kurma sebagai camilan di mobil.

Mobil selanjutnya singgah di Arab World, sebuah kantin tepi jalan. Tempat ini membuat kurma-kurma yang saya beli mubazir. Saya melahap makan siang porsi besar berharga ramah kocek. Hidangan terdiri dari ayam panggang, potongan daging domba dengan rempah shuwa, kari labu dan wortel, gundukan nasi wangi biryani, serta Mountain Dew yang sepertinya merupakan minuman terpopuler di Oman. “Bir ala Oman,” kata Nabhan.

Sesi makan kalap itu menjaga perut saya tetap kenyang hingga Duqm, kota di pesisir timur yang menatap Laut Arab. Berkat bisnis eksplorasi minyak, kota ini tumbuh pesat. Perumahan mewah bertaburan. Sebenarnya kurang memikat untuk wisata, tapi setidaknya Duqm memiliki sejumlah hotel tepi laut yang cukup bagus.

Hotel saya, Park Inn by Radisson, dikelilingi taman rindang. Properti ini menyewakan sejumlah chalet dan kamar bergaya apartemen kepada kaum ekspatriat yang berbisnis minyak. Di malam hari, mereka berkeliaran di restoran prasmanan dan bar tepi kolam. Usai perjalanan panjang mengarungi gurun tandus Ash Sharqiyah, atmosfer Duqm memang terasa janggal, apalagi setelah saya masuk kamar dan mendapati kasur yang dikelilingi neon.

Etape terakhir perjalanan saya berhasil dituntaskan lebih cepat. Setidaknya ada dua alasannya. Pertama, sikap cuek Nabhan melabrak aturan batas kecepatan. “Saya dulu mengendarai mobil reli off-road,” jelasnya blakblakan ketika speedometer menembus 140 kilometer per jam. Alasan kedua, pemandangan di luar yang terlampau menggiurkan.  Laut berwarna biru perak mulai terlihat, dan kami tak sabar untuk menggapainya.

Kiri-kanan: Seekor unta di sebuah peternakan di dekat Salalah; seorang pramusaji menata meja di restoran Al
Qalaa di Anantara Al Jabal Al Akhdar.

Mendekati laut, barisan pohon akasia dan pinus mulai memberi warna berbeda pada lanskap. Jalan melengkung, lalu berkelok-kelok di pesisir yang ditaburi bongkahan batu. Di Wadi Shuwaymiyah, jalan menukik curam sepanjang 150 meter, kemudian menyajikan panorama dramatis berupa kawanan lumba-lumba yang berenang di lepas pantai dan flamingo yang berkerumun di laguna.

Salalah terletak di Dhofar, provinsi yang selama 6.000 tahun tersohor sebagai sentra perdagangan kemenyan biang parfum. Di musim panas, angin Khareef yang kaya air menerpa Salalah, lalu mengubahnya jadi salah satu kawasan paling hijau di Timur Tengah. Berhubung saya datang di April, alam masih gersang dan kering, walau suasana itu hampir tidak terasa berkat kolam-kolam yang menyambut kami di Al Baleed Resort Salalah by Anantara.

Usai melewati bangunan utama resor yang bercat putih dan menyerupai benteng, saya menyaksikan vila-vila fotogenik berbentuk gula kubus yang bertaburan anggun di sepanjang pantai yang ditumbuhi pohon palem. Tiap vila di sini dilengkapi kolam renang, halaman yang luas, serta ornamen kain buatan suku lokal. Lantainya dilapisi marmer krem. Kamar mandinya terkoneksi dengan kolam. Semua suguhan ini terasa lebih mewah sehabis menempuh perjalanan panjang dari Duqm.

Kiri-kanan: Kolam renang dan pantai di Al Baleed Resort. mendaki di tepi sebuah wadi di Saiq Plateau.

Makanan adalah magnet lain resor ini. Kedatangan kami bertepatan dengan sesi seafood night di restoran prasmanan Sakalan. Tentu saja, tak seorang pun datang jauh-jauh ke Salalah untuk semata menyantap hidangan laut. Ada banyak hal yang bisa dinikmati di sini.

Di dekat resor terdapat souk yang senantiasa menebarkan aroma harum. Beberapa langkah dari sini ada Al Baleed, anggota Situs Warisan Dunia. Taman arkeologi seluas 60 hektare ini menampung reruntuhan kota pelabuhan kuno yang pernah menjadi pusat perdagangan frankincense (resin aromatik bahan parfum). Untuk kelas sejarah singkat tentang Oman, tempat yang ideal adalah Land of Frankincense Museum, bangunan yang mengisahkan tradisi pembuatan kapal dan proses modernisasi Oman yang dimulai pada 1970 ketika penguasa sekarang, Sultan Qaboos, memakzulkan ayahnya yang berhaluan konservatif.

Untuk trip yang lebih jauh, tamu bisa mengaturnya dengan Hussain Balhaf, pramuwisata lokal yang dijuluki “Salalah Guru” berkat wawasannya yang mendalam. Suatu pagi, dia mengantar saya melihat blowholes di Al Mughsayl, kemudian melawat pantai lengang untuk berenang dan piknik. Aktivitas yang lebih seru tersaji di hari berikutnya. Pertama-tama, saya dibawa ke Wadi Dawkah yang ditumbuhi pohon kemenyan, lalu mengunjungi oasis caravan abad pertengahan yang dinamai Wubar. “Ada banyak jenis pohon kemenyan di Afrika, tetapi ini yang terbaik, Boswellia sacra,” jelas Hussain seraya menyodorkan getah putih beraroma harum. “Inilah harta kami.”

Kiri-kanan: Seorang pedagang rempah di nizwa Souk yang berlokasi di bekas Ibu Kota Oman; teras di vila di Al Baleed Resort Salalah by Anantara.

Saya dan Hussain menghabiskan sore dengan berkendara ke Rub’ al Khali, padang pasir yang membentang mahaluas hingga melintasi perbatasan tiga Negara tetangga: Arab Saudi, Yaman, dan Uni Emirat Arab. Hussain mengemudikan SUV mengarungi bukit-bukit pasir, kemudian kami berhenti di puncak tertinggi. Berdiri di sini, dengan latar matahari senja yang membalur jingga pada gurun, gunung-gunung sejuk di Jabal Akhdar terlihat begitu tak terjangkau. Besok saya akan kembali ke Muscat. Berita baiknya, kali ini saya akan menaiki pesawat ketimbang mobil. Bagaimanapun, ada bagian dalam diri saya yang berharap petualangan ini tak akan segera berakhir.

Panduan

Rute
Selain melayani penerbangan Jakarta-Muscat, maskapai Oman Air (omanair.com) mengoperasikan beberapa penerbangan harian dari Ibu Kota Oman menuju Salalah di selatan negeri. Bahwan Travels (968/2465-4140; bahwantravels.com), salah satu operator tur lokal, bisa mengatur paket petualangan privat di Oman, termasuk untuk menonton lumba-lumba dan tur padang pasir.

Penginapan
Perbukitan Jabal Akhdar di utara negeri memiliki dua resor mewah, salah satunya Anantara Al Jabal Al Akhdar Resort (968/2521-8000; jabalakhdar.anantara.com; mulai dari Rp4.800.000). Di selatan Oman, ada Al Baleed Resort Salalah by Anantara (968/2322-8222; salalah.anantara.com; mulai dari Rp5.200.000) yang bersemayam di kota bandar Salalah. Di antara kedua resor itu, salah satu lokasi transit yang patut dicoba adalah Park Inn by Radisson, Duqm (968/2208-5700; parkinn.com; mulai dari Rp2.200.000).

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2018 (“Antara Hajar & Salalah”).