Menu lokal di Xiang Tang Ji, restoran keluarga di lereng bukit yang menatap kota.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Muhammad Fadli

Tamu siang ini: Tobey Maguire. Tapi tak seorang pun menyadarinya. Di lantai dua Le Moût, restoran termewah di Taichung, pemeran manusia laba-laba itu duduk di kursi bermotif flora. Tak ada karpet merah. Tak ada paparazzi. Tobey tampil kasual, cuek, sedikit lusuh. Seorang pelayan yang penasaran menghampirinya. Usai serangkaian pertanyaan, Tobey akhirnya sudi menuturkan jati dirinya. Dia juga mengaku baru menemui Ang Lee yang sedang menggelar syuting Life of Pi di Taichung.

Di atas peta, Taichung tertulis dengan tinta yang samar. Kota terbesar ketiga di Taiwan ini teronggok di tengah negeri, di dasar mangkuk raksasa yang dikepung bukit hijau, di tepi selat yang memisahkannya dari RRC. Bandaranya yang bersahaja cuma dilayani oleh 11 maskapai. Jumlah turisnya per tahun sepertiga pengunjung Pekan Raya Jakarta. Hotel waralaba hanya dua: Holiday Inn dan Evergreen. Kata seorang warga, Shangri-La sebenarnya sudah membeli sebidang lahan di sini, tapi masih menunda konstruksi propertinya dengan alasan “pasar hotel bintang lima belum tumbuh.”

Sudah lama Taichung kerap luput dari sudut mata. Ia tak pernah disambangi Tintin atau tercantum dalam daftar kota populer Instagram. Tak banyak yang mengenalnya, dan Taichung memang tak menawarkan sosok yang mudah dikenal. Satu dekade setelah Taipei mengerek Taipei 101, Taichung masih setia mengandalkan pasar malam sebagai ikonnya.

Adalah Le Moût yang membuat nama Taichung kini bergema. Restoran Prancis ini baru saja menembus daftar prestisius Asia’s 50 Best Restaurants. Sementara kokinya yang fenomenal, Lanshu Chen, dinobatkan sebagai Asia’s Best Female Chef. Banyak orang kemudian bertanya-tanya, bagaimana sebuah restoran di kota penghasil sepeda sanggup menyihir puluhan kritikus makanan—juga aktor kondang asal Amerika.

Interior Le Mout dengan gaya khas restoran Prancis yang elegan.

Hari ini, saya datang dengan pertanyaan yang sama. Seperti Tobey, saya duduk di kursi bermotif flora, di hadapan perangkat makan yang menegaskan standar agung Le Moût: sendok Christofle, piring porselen Bernardaud, lepek Pieter Stockmans. Sommelier muda Thomas Ho datang menuangkan Blanc de Blancs 2008 ke cangkir berbentuk tulip. Buih-buihnya berletusan di tengah udara cerah musim panas yang lembap. “Sampanye ini memiliki tingkat keasaman yang relatif tinggi,” jelas Thomas. “Cocok sebagai fondasi bagi menu-menu Le Moût.”

Piring-piring mulai berdatangan. Le Moût mendemonstrasikan perkawinan harmonis antara rasa yang kompleks dan presentasi yang imajinatif. Sajiannya mengingatkan saya pada Restaurant André di Singapura, namun Le Moût sesungguhnya menawarkan lebih dari sekadar tampilan yang kreatif. Menunya bagaikan jendela gastronomi untuk menyelami bahan-bahan masak lokal. Sekitar 80 persen kebutuhan dapurnya dipasok dari petani setempat. Le Moût bukan cuma menempatkan Taichung dalam peta kuliner internasional, tapi juga menunjukkan kepada dunia kualitas produk pertanian Taiwan. Mungkin ini yang membuat para kritikus kepincut.

Tentang filosofinya dalam memasak, Lanshu Chen memilih istilah “ jong,” artinya “fusi” atau “harmoni.” Memang itulah yang saya rasakan selama dua jam bersantap siang. Dua kreasinya yang paling berkesan adalah oyster & pearl, modifikasi dari menu serupa di French Laundry di mana Lanshu sempat mengabdi; serta daging burung dara dengan liver babi yang meninggalkan sensasi rempah dan creamy yang seimbang di pangkal lidah.

Membuka restoran dengan standar luhur semacam itu bukan perkara mudah. Le Moût berbicara tentang teknik memasak yang rumit dan presentasi yang evokatif. Restoran ini mungkin lebih layak ditempatkan di Champs-Élysées, bukan di kota kecil yang teronggok di luar orbit turis. Lalu, apa alasan Lanshu memilih Taichung sebagai pertaruhannya?

“Jika Le Moût dibuka di Taipei, mungkin kami akan mendapatkan lebih banyak uang. Tapi di sini kami bisa lebih fokus,” jawabnya dengan bahasa Inggris yang fasih. Tubuhnya mungil, parasnya ayu, jarinya lentik. Sosok yang kelewat manis untuk berjibaku dengan kompor. “Taichung juga lebih rileks, hujan tidak terlalu lebat, dan jalannya bebas macet. Di sini, orang punya waktu untuk berbicara dan mendengar.”

Kiri-kanan: Sajian burung dara dengan liver babi di kreasi Lanshu Chen di Le Mout; Lenshu Chen, koki wanita yang berhasil memasukkan nama Taichung ke daftar kuliner Asia.

Pertaruhannya kini telah terbayar. Tiap akhir pekan, Le Moût menjadi magnet yang memikat petualang lidah dari kota-kota di Taiwan dan sekitarnya. Meroketnya tamu asing bahkan memaksa sejumlah staf mengambil kurus bahasa Inggris sepulang kerja. “Sekarang saya sadar, kami berada di jalur yang benar,” jelas Lanshu lagi. “Le Moût membawa sesuatu yang baru untuk Taichung. Kami hanya harus setia pada apa yang kami yakini.”

Berkat Le Moût, nama Taichung kini berdengung di telinga. Namun, jika kita mau berkaca pada sejarah, kota ini sebenarnya sudah lama akrab di lidah kita, jauh sebelum Le Moût berdiri. Kisahnya dimulai dari sebuah kontes karyawan di gerai teh, suatu hari di 1987.

Dari tiap butir “kelereng” tapioka yang kita sedot, tersimpan riwayat industri teh Taichung. Saya menyelami legenda tersebut di Chun Shui Tang Teahouse, bersama seorang wanita langsung yang bergerak gesit layaknya ribuan sepeda motor yang berkelebat di jalan-jalan kota saban harinya.

Restoran ini menyajikan aneka teh premium dan masakan lokal, tapi daya tarik terbesarnya adalah pearl milk tea, minuman menyegarkan yang lebih kondang dengan nama bubble tea. “Pearl kami tidak memakai pengawet,” ujar Wu sembari memperlihatkan dua wadah berisi butiran-butiran mungil. Butiran di wadah pertama, produk restorannya, hancur saat ditekan dengan ujung jari. Butiran di wadah kedua, entah dari mana, sangat keras dan bisa memantul layaknya bola pingpong. “Pearl tanpa pengawet bertahan hanya tiga jam setelah dibuat.”

Tak ada catatan valid tentang risalah bubble tea, namun hampir semua orang di Taichung sepakat Lin Hsui Hui adalah penemunya. Babad unik dari tanah Taichung ini dimulai saat Lin berkelana ke Eropa. Suatu kali, dia melihat cocktail shaker di sebuah bar dan bohlam di kepalanya pun menyala. Pemilik Chun Shui Tang Teahouse ini kemudian mencetuskan ide inovatif untuk mencampuri teh dengan es dan susu—prekursor bubble tea.

“Lin sebenarnya hanya ingin mempromosikan teh,” jelas Wu lagi. “Dulu, teh hanya dinikmati kalangan tua.” Ambisi itulah yang memacu Lin untuk terus berpikir di luar kotak. Dia kemudian menggelar lomba meracik minuman antarkaryawan guna menelurkan kreasi-kreasi segar. Di ajang inilah, pada 1987, seorang karyawan berhasil menciptakan minuman baru yang tak ada rujukannya dalam hikayat industri teh Cina: bubble tea.

Ambisi memasyarakatkan teh membuat Lin tak peduli dengan paten. Dia membiarkan bubble tea ditiru dan disebarkan hingga sudut-sudut gang di Jakarta. “Lin bermimpi teh akan menjadi minuman internasional layaknya Coca-Cola,” kata Wu. Mimpi itu hampir tergapai. Bubble tea adalah produk ekspor terbaik Taiwan setelah Acer dan HTC. Jika Le Moût memikat dunia ke Taichung, Lin menerbangkan sepenggal rasa Taichung ke pojok-pojok bumi.

Kiri-kanan: Mutiara bubble tea. Yang asli dan tanpa pengawet teksturnya lembut serta hanya bertahan tiga jam setelah dibuat; Bubble tea disinyalir lahir dari tangan pencinta teh di Taichung.

Dengan menggenggam segelas bubble tea, saya meninggalkan Chun Shui Tang Teahouse, lalu merandai jalan-jalan sempit untuk mencari kreasi dapur Taichung lainnya. Seperti Tokyo, kota ini terbelah-belah menjadi banyak blok kubus. Jalan diagonal atau melengkung nyaris tak eksis. Perempatan luar biasa banyak dan hampir semuanya dilengkapi lampu lalu lintas. Taichung adalah salah satu kota dengan jumlah lampu merah per kapita terbanyak.

Lanskap kulinernya didominasi masakan lokal dan Cina. Nasi, tumis sayur, mi kaldu, dan daging kukus adalah beberapa menu yang jamak ditemukan. Tiap menu disajikan dalam porsi besar, kadang begitu besar hingga hanya mungkin dihabiskan jika kita sedang menderita kelaparan akut.

Persaingan paling ketat berlangsung antara restoran xiao long bao dan yakitori. Bao tak ubahnya makanan nasional. Roti gurih berisi daging babi ini lazim disantap untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Sementara restoran yakitori melambangkan gairah kuliner warga lokal pada masakan Jepang. Banyak hal yang terkait Jepang memang populer di Taiwan. Penjajahan Nippon selama setengah abad di sini sepertinya tak cuma meninggalkan duka. Banyak fakta memperlihatkan, kaum terjajah kadang justru akrab dengan negara yang dulu menginjak-injaknya.

Taichung juga sedang menyaksikan pertumbuhan masif restoran bergaya butik. Berbeda dari pengusaha lawas yang fokus mengolah rasa, generasi baru restaurateur sangat memperhatikan elemen desain dan servis. Bagi mereka, makan bukan cuma soal mengunyah dan menelan, tapi juga pengalaman yang melibatkan banyak indra sekaligus. Konstelasi itu turut didukung pasokan tenaga kerja lokal yang mumpuni, terutama setelah Le Cordon Bleu membuka cabangnya di Taichung pada 2012—keputusan yang turut melambungkan pamor kota ini sebagai simpul penting dalam industri kuliner Asia.

Salah satu bintang dalam industri kuliner lokal adalah Ba Gua Yao, restoran yang tersohor bukan semata berkat menunya yang sedap, tapi juga bangunannya yang absurd: bekas pabrik batu bata yang berdiri pada 1953, tapi kemudian gulung tikar pada 1990. Ruang makannya ditempatkan di perut sebuah terowongan tungku bata. Sekilas mirip aula kenduri sekte sesat.

“Harga batu bara untuk proses pembakaran melonjak, hingga pabrik ini terpaksa beralih fungsi,” ujar Lin Kuang Gong, pemilik restoran, saat saya menyantap piring-piring berisi masakan Sichuan dan Taiwan: ayam kukus, tumis sapi dengan paprika, asparagus dengan telur asin, serta tofu dengan saus sambal. Lin Kuang bertolak ke dapur, kemudian kembali dengan menu penutup andalannya: kentang goreng yang ditaburi wijen dan dibalut gula aren. Cara menyantapnya agak janggal: kentang dijepit dengan sumpit, lalu dicelupkan ke mangkuk berisi air es. “Menu favorit di sini,” kata Lin bangga.

Kiri-kanan: Wajah kota yang mengikuti perkembangan zaman; Pasar malam Feng Chia, wadah idel untuk bertemu warga dan mencicipi camilan lokal.

Mencari menu lezat di Taichung adalah perkara gampang; yang sulit adalah membelinya. Mayoritas pedagang tidak bisa berbahasa Inggris. Acap kali saya terpaksa mengandalkan bahasa tubuh saat memesan. Jika beruntung, saya kadang menemukan pelayan asal Indonesia yang fasih berbicara bahasa lokal. “Ada ratusan orang Indonesia di sini,” kata Eni, wanita kelahiran Indramayu yang bekerja di Xiao Ming, kedai bao paling tersohor. “Saya sudah lima tahun di sini. Dia lebih lama,” ujarnya lagi sembari menunjuk rekannya, seorang ibu asal Batam.

Hari hendak berakhir, tapi udara lembap masih berseliweran. Di toko Taiyang Tang yang sejuk, saya bergabung dengan keluarga-keluarga lokal untuk mengikuti kelas membuat suncake, kue legit khas lokal yang juga dicetuskan di Taichung.

Riwayat suncake agak simpang-siur. Taiyang Tang mengaku telah membuatnya sejak 1954. Toko tetangganya mengklaim sudah berbisnis serupa sejak 1949. Bakpia versi Taichung ini mulai tersohor usai dipuji Presiden Taiwan dalam sebuah jamuan kenegaraan. “Di zaman kekaisaran, suncake hanya dinikmati kaum kaya. Setelah penjajahan Jepang berakhir, suncake dikembangkan sebagai produk massal,” ujar Chiang, Manajer Taiyang Tang. “Kini, suncake ukurannya lebih kecil, rasanya lebih padat, dan isinya lebih variatif. Penganan ini ingin melayani segmen yang lebih luas.”

Kursus suncake digelar di ruang ramping beralaskan tegel. Kata sang mentor, kelezatan suncake ditentukan oleh kemampuan menciptakan lapisan-lapisan lembut pada kulitnya—proses yang menuntut kelentikan jari. Setelah setengah jam, kelas rampung dan empat buah suncake buatan saya ditarik dari oven. Bentuknya mirip bakpia yang dibanting ke aspal, lalu terlindas delman.

Kiri-kanan: Mural jamak ditemukan di lokasi-lokasi seni di Taichung; Menikmati sate seafood di Pasar Malam Feng Chia, ikon sekaligus obyek wisata paling terkenal di Taichung.

Awalnya bersimpuh malu di bawah bayang-bayang Taipei, Taichung giat berbenah dan berpacu mengejar seniornya. Kota ini sekarang berubah secepat perubahan teknologi telepon genggam. Di bawah komando Wali Kota Jason Hu, Taichung mencanangkan moto sebagai kota internasional. Politisi bergelar doktor dari Oxford itu menciptakan trotoar yang nyaman, sungai yang resik, dan tata kota yang rapi. Tahun ini, sistem transportasi BRT (mirip Transjakarta) mulai diuji coba. Di sejumlah ruas jalan, tiang-tiang monorail sedang dikerek, walau proyek ini sempat menuai protes dari warga yang menganggap monorail terlalu boros untuk komunitas mungil berisi 2,6 juta jiwa.

Taichung tampaknya hendak mengulang “Taiwan Miracle” yang dulu menempatkan negeri ini ke dalam liga negara-negara dengan perekonomian ajaib di Asia. Kota ini mendirikan museum seni kontemporer walau jumlah senimannya bisa dihitung dengan jari. Kota ini juga menciptakan transportasi modern meski kemacetan sangat langka. Dan kota ini merancang gedung opera kendati hanya memiliki satu grup orkestra yang cukup terkenal. Rasanya tinggal menunggu waktu bagi Time Out untuk melansir cabangnya di sini.

Dari lokasi proyek gedung opera, saya menelusuri distrik bisnis yang ditaburi gedung-gedung bergaya Wall Street yang dingin, berjarak, tapi berbicara banyak tentang kekuatan ekonomi kota ini. Tiap beberapa blok, terhampar ruang publik yang mencampuri taman dan galeri terbuka di mana warga bisa bersantai dan menyimak pentas akustiki. Di depan Hotel One, gedung terjangkung di Taichung, terdapat sebuah taman berisi pajangan badak buatan seniman Li-Jen Shih. Entah mengapa dia memilih badak, satwa yang tak eksis di Taiwan. Mungkin karena badak melambangkan kekuatan yang didambakan Taiwan, negara yang masih menanti pengakuan penuh PBB.

Saya juga menyusuri Calligraphy Greenway, kreasi lain yang menyuntikkan napas humanis di Taichung. Ruang hijau ini didesain memanjang, menghubungkan Natural Science Museum dan Kanal Liuchuan. Di depan sebuah amfiteater mini, beberapa musisi menggelar konser akustik. Di bawah pohon, belasan orang menari massal di samping lemari berisi buku-buku yang bisa dipinjam gratis. “Ini kota yang nyaman; alurnya tidak terburu-buru,” ujar seorang wanita penjaja suncake. “Taichung berada di tengah Taiwan. Cuacanya tidak selembap Taipei di utara dan tidak sepanas Kaohsiung di selatan.” Mungkin itu sebabnya Taichung sempat terpilih sebagai “kota pensiunan terbaik” versi Global Views.

Bagi turis, menikmati tawaran Taichung tak selalu mudah. Sang Wali Kota berniat menciptakan sebuah kota internasional, tapi Taichung tidaklah direkayasa untuk mengutamakan pendatang. Pelang toko, jadwal bus di halte, bahkan tombol remote AC dan televisi di kamar hotel, ditulis dalam aksara Cina. Berjalan-jalan di kota ini tanpa penerjemah kadang bisa sangat merepotkan dan menyesatkan. Tapi barangkali itulah yang membuat Taichung memikat. Kita masih bisa menemukan kepolosan dan autentisitas di jalan-jalannya.

Suatu malam, saat sedang mengetik artikel di gerai 7-Eleven (tidak ada kafe 24 jam di Taichung), kasir menanyakan profesi saya. “Apa? Jurnalis? Saya tidak mengerti,” katanya dengan bahasa Mandarin bercampur Inggris yang membingungkan. “Saya menulis untuk majalah,” timpal saya berusaha menjelaskan. “Oh, penulis. Seperti Pi,” ujarnya merujuk novel Life of Pi. Ketika saat saya hendak beranjak, dia menghampiri. “Boleh saya berfoto bersama Anda?”

Sejumlah kota mulai ditinggalkan petualang bukan hanya karena mereka terlalu touristy, tapi juga karena mulai mengemas dirinya dalam kacamata turis. Mereka sibuk membayangkan apa yang kita pikirkan, tapi melupakan apa sebenarnya yang kita dambakan. Taichung agak berbeda. Ia bergegas mengejar kota-kota lain, tapi di saat yang sama setia merawat identitasnya.

Kuil tua yang berada di tengah kota yang juga menjadi daya tarik wisatawan.

Mengetik “Taichung” di Amazon, kita tak akan menemukan satu pun buku yang membahasnya. (Dalam buku CEO Guide to Doing Business in Asia, Taichung hanya dijelaskan dalam satu paragraf sebagai “pusat Giant Bicycles and Nike Asian Design Centre.”) Penulis-penulis travel ternama juga belum mengulasnya. Bagaimana mungkin kota yang menciptakan bubble tea dan berperan penting dalam industri sepeda tak dikupas oleh siapa pun? “Kembali dari bekerja di luar negeri, saya menyadari ternyata banyak orang tidak mengenal Taichung,” ujar James pemandu sekaligus penerjemah saya, yang pernah menetap di Australia.

Warga Taichung sepertinya lebih mudah terkoneksi ke dunia ketimbang dunia terkoneksi ke mereka. Jaringan internet di sini masif dan prima. Hotel saya, S Terminal, properti kecil di tepi sungai, bahkan menawarkan kecepatan internet layaknya sebuah markas hacker—72 Mbps.

Akan tetapi, di kota yang sedang mengejar masa depan, kita akan selalu menemukan residu: kaum yang berusaha melawan zaman. “Taichung sekarang kian modern. Kopi dibuat aneh dengan busa bermotif bunga. Kafe kian mewah, tapi tidak memberi pemahaman tentang kopi kepada tamu-tamunya,” seorang pria paruh baya bertutur kesal di kafe miliknya, Café 13. Dia tak sudi memberikan namanya. “Panggil saja Mr. 13.”

Kiri-kanan: Sebagian anak muda di Taichung berpenampilan unik; Kehidupan modern mulai menjadi gaya hidup anak-anak muda di Taichung.

Café 13 adalah sarang bagi pencinta kopi tulen. Tempat ini mengoleksi biji kopi dari ratusan kawasan produsen kopi. Usai melewati gerbang yang dihiasi tulisan “No Menu,” saya memasuki plaza di tengah sebuah rumah sepuh, lalu duduk di kursi pendek yang sepertinya didedikasikan bagi bangsa Dwarf. Di sekitar saya terpajang sepeda onthel berkarat, mesin penggiling gabah, serta timbangan antik. Tempat ini lebih mirip galeri artefak ketimbang kafe.

Mr. 13 datang bersama dua cangkir kopi, kendati saya sebenarnya belum memesan apapun. Kopinya disajikan dingin, tanpa gula dan tanpa krim. Gelas pertama berisi kopi Mandailing; yang kedua kopi Nikaragua. Kenapa memakai air dingin? “Sekarang musim panas, jadi kopi disajikan dingin,” jawabnya singkat.

Berkeliaran dengan kaus oblong dan tanpa alas kaki, Mr. 13 lebih mirip seniman yang frustrasi ketimbang barista. Tapi saat berbicara perihal kopi, gairah hidupnya menyala. Dia bisa bercerita panjang tentang kopi, bahkan sanggup mendeteksi asal biji kopi cukup dengan mengendus aromanya. “Café 13 bukan untuk bisnis. Ini tempat saya berbagi rasa cinta pada kopi. Ada budaya yang tersimpan di tiap biji kopi.” Saya berusaha menimpali obrolan semampunya. “Indonesia juga punya kopi luwak. Kopi termahal di dunia,” ujar saya, berusaha terlihat paham. “Saya menyimpan feses luwak di kamar,” timpal Mr. 13.

Mr. 13 agaknya berusaha memurnikan kopi dari kreativitas kapitalisme. Kafenya adalah wadah untuk bernostalgia dengan cairan kafein sebelum mesin espresso ditemukan dan Starbucks mewabah. Saat saya hendak beranjak, Mr. 13 memutar lagu gending Bali, lalu menuang kopi Ethiopia dingin ke cangkir saya, seolah memaksa saya untuk duduk beberapa menit lagi. Obrolan tentang kopi berlanjut. Saya bersandar di kursi, mencerna cairan pahit, menikmati sepenggal masa lalu di kota yang sibuk mengejar masa depan.

PANDUAN
Rute
Penerbangan termudah ke Taichung dilayani oleh Cathay Pacific (cathaypacific.com). Dari Jakarta atau Surabaya, Anda akan terbang langsung ke Hong Kong, lalu meneruskan perjalanan dengan Dragonair (dragonair.com) ke Taichung. Dragonair juga menyediakan rute ke dua kota lain di Taiwan, yakni Taipei dan Kaohsiung. Jarak pusat kota Taichung dari bandara sekitar 40 menit. Untuk berkeliling kota, taksi adalah moda termudah, tapi sebaiknya siapkan catatan lokasi tujuan dalam bahasa lokal karena tak banyak sopir yang mampu berbahasa Inggris.

Penginapan
Gedung tertinggi di Taichung, Hotel One (Jl. Ying-Tsai 532; 886-4/2303-1234; taichung.hotelone.com.tw; mulai dari $143) menyuguhkan panorama lanskap kota dari restoran steik di lantai 46. S Terminal Hotel (Jl. Zhong Ming South 333; 886-4/2302-5066; sthotel.com.tw; mulai dari $73) menawarkan desain yang simpel, resepsionis yang lancar berbahasa Inggris, serta restoran berdesain butik. Hanya ada dua hotel waralaba internasional saat ini, salah satunya adalah Holiday Inn Express Taichung Park (Jl. Tze Yu 94, Section 2; 886-4/3505-9898; holidayinnexpress.com.tw; mulai dari mulai dari $70).

Aktivitas
Gedung rancangan arsitek tersohor Toyo Ito, Metropolitan Opera House (tmoh.com.tw), ditargetkan rampung tahun ini untuk menjadilandmark baru Taichung. Sementara ini, predikat ikon kota masih diemban oleh Pasar Malam Feng Chia, wadah berisik yang menjajakan aneka kudapan lokal dan pakaian. Instalasi seni bisa ditemukan di taman-taman kota, misalnya Feng Le Sculpture Park dan Calligraphy Greenway, tapi kreasi seni yang paling progresif tersaji hanya di National Taiwan Museum of Fine Arts (ntmofa.gov.tw).

Makan & Minum
Pecandu kopi bisa menjajal kopi-kopi dari penjuru bumi di Café 13 (Fengshu Ln. 13, Nantun), sementara penggemar bao wajib mencicipi kreasi Xiao Ming Tang Bao (Jl. Hankou 235, Section 2, Xitun). Restoran lokal dengan desain paling unik, Ba Gua Yao (Jl. Wuquan West 539, Section 3, Nantun), menempati bekas tungku batu bata. Menu-menu impor dan restoran bergaya butik bisa ditemukan di kawasan Little Europe dan persimpangan antara Jalan Xiangshang dan Zhongxing.

Bintang kuliner Taichung saat ini, Le Moût (lemout.com), mengajak lidah mengeksplorasi haute cuisine Prancis yang diracik oleh wanita berpredikat koki wanita terbaik di Asia. Berhubung mayoritas warga Taichung tidak bisa berbahasa Inggris, sebaiknya lakukan tur bersama pemandu yang bisa merangkap sebagai penerjemah dan sopir. Salah satu operator yang menyediakan jasa tersebut dalam satu paket adalah roundTAIWANround (rtaiwanr.com). Anda juga bisa mengatur agenda perjalanan sesuai selera, termasuk menanyakan tempat-tempat menarik semacam tempat kelahiran bubble tea, Chun Shui Tang Teahouse (chunshuitang.com.tw); serta toko perintis bisnis suncake, Taiyang Tang.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September-Oktober 2014 (“Tabernasia Taichung”)