Kyoto ‘Melawan’ Arus Turis

“Di tengah perjuangan menangani “kanko kogai” atau polusi turis, Kyoto kini dipusingkan oleh aset- aset sejarahnya yang berpindah kepemilikan ke tangan asing. Destinasi andalan Jepang ini menjadi korban dari popularitasnya sendiri.”

Seorang pria memandang bangunan utama dari kompleks Kuil Tofukuji dari Jembatan Tsutenkyo

Kendati begitu, Mariko dan Yusuke juga sadar turis tak melulu bisa dikontrol. Ada problem-problem kronis yang tak bisa diatasi lewat kelas sopan santun semata. Aturan simpel seperti membuang sampah saja kerap dilanggar. “Kastel Nijo sangat kotor!” keluh Mariko. “Saya pikir hal itu cukup mudah. Jika satu orang buang sampah, maka dia yang membersihkan. Sangat mudah, tetapi menjadi sangat susah.”

“Kamu penulis kan? Tolonglah sampaikan pesan ini ke semua orang, supaya mereka bisa paham,” pesan Mariko. Saya mengangguk sembari membatin: andai saja tulisan saya punya kekuatan sebesar itu.

Di tengah terjangan kanko kogai dari dunia luar, sebuah tren urban menggerogoti Kyoto dari dalam. Machiya, rumah tradisional yang membentuk wajah Kyoto, kini dalam kondisi darurat. Banyak rumah bersejarah ini ditinggalkan pemiliknya, atau dihancurkan dan diganti bangunan modern.

Kiri-kanan: Seorang penjaga parkir bertugas di tengah hujan; sekelompok wanita lokal dan turis berkimono tengah bercengkrama sembari menyusuri jalan-jalan Kyoto.

Membuka sejarah, machiya berakar di Periode Heian (794-1185). Dulu, rumah kayu ini lazim ditempati pedagang dan perajin, karena itulah banyak rumah merangkap fungsi sebagai toko atau bengkel kerja. Aset sejarah ini tak cuma membentuk aura guyub yang romantis di Kyoto. Machiya juga penting bagi identitas kota ini. Setidaknya kehadirannya membuat Kyoto terasa berbeda dari Tokyo yang metropolis.

Akan tetapi, sebagaimana rumah tradisional di banyak negara, machiya kepayahan beradaptasi dengan zaman. Interiornya yang langsing tak bisa menjawab pergeseran selera dan gaya hidup, misalnya kebutuhan untuk memiliki dapur besar atau ruang menonton televisi. Penghuni juga kesulitan memiliki privasi lantaran dinding rumah ini berbahan kayu dan kertas tipis.

Di bawah mendung, saya bersepeda bersama Kimiko Shiki, profesor planologi di Universitas Ritsumeikan. Berniat membantu saya memahami arti penting machiya, dia membawa saya ke Distrik Nishijin yang pernah menggeliat sebagai sentra industri tekstil.

Kami menyusuri gang-gang sempit yang dipenuhi machiya, sesekali berhenti untuk melihat rumah yang dibubuhi stempel “dilindungi” oleh pemerintah. “Machiya bukan cuma sebuah rumah, tapi juga tanda bahwa kawasan itu sudah berdiri selama ratusan tahun,” jelas Kimiko dengan sedikit terengah-engah.

Kami kembali mengayuh, lalu berhenti di seutas gang. Kimiko menunjuk selembar papan yang melekat pada dinding sebuah rumah jompo. “Tertulis machiya ini akan dikonversi menjadi guesthouse. Terkadang pemilik properti tak punya pilihan lain,” ujarnya.

Kiri-kanan: Hidangan salmon di etalase kedai onigiri; bus menurunkan penumpang di terminal.

Kondisi kawasan tua Kyoto kadang tak jauh berbeda dari kampung-kampung padat di Jakarta. Rumah-rumah di sini berukuran kecil dan ditata berdempetan di tepi gang-gang sempit yang hanya cukup menampung satu mobil. Machiya yang bernasib tragis biasanya berada di gang yang tak bisa dimasuki kendaraan. Sesuai aturan, rumah di lokasi seperti itu dilarang diubah jadi bangunan modern, sebab tak memenuhi syarat lebar jalan minimum empat meter di depannya. Dan karena tak bisa dirombak, keluarga-keluarga muda enggan menghuninya. Alhasil, banyak rumah terbengkalai dan lapuk.

Sebenarnya ada satu solusi untuk menjawab kebuntuan itu: pariwisata. Seperti yang diperlihatkan Kimiko, machiya bisa saja di alihfungsikan menjadi penginapan. Lagi pula, banyak turis menyukai pengalaman sarat nostalgia menginap di rumah tradisional. Tapi keputusan itu ternyata sering ditentang oleh para tetangga. Dan jika pun berhasil mendapatkan restu mereka, proses konversi rawan tersandung aturan hukum. Machiya umumnya sukar mendapatkan proteksi legal karena dianggap tak tahan gempa dan kebakaran— syarat wajib setiap bangunan di Jepang, seperti tertuang dalam undang-undang standar bangunan terbitan 1950.

Profesor Kimiko dan keluarga kecilnya menetap di machiya. Katanya, hidup di rumah renta tidaklah mudah, juga tidak murah. Dari segi operasional, machiya sangat boros. Pajaknya tinggi dan biaya renovasinya selangit. Berhubung dindingnya tipis dan memiliki banyak celah, suara langkah kaki atau kendaraan mudah merembes ke interior, begitu pula hawa dingin yang menusuk di musim salju. “Tapi mungkin kami mencintai rasa sakitnya,” Kimiko berkelakar.

Mungkin memang hanya rasa cinta pada bangunan kuno yang membuat Kimiko bertahan, walau untuk itu dia harus banyak beradaptasi. Misalnya dalam hal proses mandi. Pemilik rumah sebelumnya menempatkan kamar mandi di taman belakang, dengan begitu mereka tidak perlu ke onsen. Kimiko dan suaminya juga menambah lapisan dinding supaya rumah lebih tahan gempa. “Kami sedang membesarkan anak. Tentu tidak boleh mati, bukan?” tambahnya.

Kiri-kanan: seekor akita inu terlelap di teras machiya, rumah tradisional yang menjadi bagian vital dari identitas Kyoto; wisatawan menyusuri Gerbang Torii di tengah gerimis.

Bagaimanapun, Kimiko adalah kasus langka. Mayoritas machiya kini dihuni kaum lansia yang tak punya banyak energi untuk mengurus rumah. Dan setelah para penghuni sepuh itu mangkat, anak dan cucunya kerap enggan mewarisi kediamannya. Dalam sembilan tahun terakhir, jumlah machiya menyusut dari 48.000 menjadi 40.000 unit. Dari jumlah yang tersisa itu, sekitar 10 persennya kosong.

Mahal dan ringkih, machiya memang rumah yang merepotkan. Untungnya, tak semua orang pasrah pada kondisi itu. Sejumlah lembaga dan individu bergerak untuk menyelamatkan machiya. Geoffrey Moussas, arsitek asal Amerika Serikat, telah merenovasi lebih dari 30 machiya, di mana sebagian telah disewakan sebagai guesthouse. World Monuments Fund, organisasi nirlaba yang merawat warisan sejarah di 90 negara, juga mendukung proyek pelestarian machiya di Kyoto.

Usai tur sepeda bersama Kimiko, saya menemui Shimagaki Toru, anggota Kyoto Center for Community Collaboration (KCCC), sebuah yayasan yang bergerak di bidang preservasi machiya. Lembaga ini rutin menggelar kegiatan di machiya, sekaligus menawarkan dukungan kepada orang-orang yang bersedia menempatinya, misalnya dengan memperkenalkan mereka kepada perajin kayu tradisional dan pemangku kepentingan, serta membantu menjaring dana renovasi.

Sepasang turis asing berfoto di depan Kuil Kinkakuji

KCCC bergerak di ranah sosial. Lembaga ini bertekad menggairahkan kembali minat menghuni machiya. Di mata mereka, terbengkalainya banyak rumah tua acap disebabkan oleh ketidakpedulian pemiliknya. “Kalau ada anak muda yang punya warisan machiya dari orang tuanya, sementara dia sudah punya apartemen, maka dia akan memilih untuk menjual rumahnya,” jelas Shimagaki.

Satu hal yang kini mengkhawatirkan KCCC ialah tren bisnis properti yang mulai menyasar machiya. Turis ternyata tak hanya tertarik menghuninya, tapi juga memilikinya. “Banyak investor Tiongkok membeli machiya. Belinya bukan satu-satu, tapi satu blok. Dan mereka sering kali membayar tunai,” ujar Shimagaki sembari memeragakan gerakan menyerahkan koper uang layaknya adegan transaksi mafia.

Kiri-kanan: Pertunjukan jenaka bertema samurai di Toei Kyoto Studio Park, taman rekreasi yang merangkap lokasi syuting film; suasana senja di gang Pontocho, salah satu tempat favorit turis untuk melihat geisha.

Machiya rupanya tak cuma sukar dirawat, tapi juga sulit dijaga. Hunian yang merekam masa lalu kota ini sekarang terancam menatap masa depannya di tangan asing. Problem tersebut sekilas mengingatkan saya pada George Town dan Venesia. Di dua destinasi historis itu, banyak bangunan tua juga telah dikuasai investor asing. Seiring itu, harga properti meroket dan biaya hidup melonjak. Akankah Kyoto bernasib serupa?

Shimagaki percaya machiya punya prospek lebih cerah jika dihuni warga lokal. Tapi dia juga harus maklum, rumah-rumah ini dimiliki oleh individu, dan pihak pemilik berhak menentukan apa yang akan dilakukan pada asetnya. Satu solusi yang bisa diambil tentu saja terobosan hukum untuk melindungi cagar budaya, tapi Shimagaki menatap langkah itu dengan pesimistis. “Hukum pertanahan Jepang masih lemah. Warga setempat sebetulnya tidak mau tanah mereka dibeli asing,” keluhnya. Untuk soal machiya, berbeda dari kanko kogai, Kyoto agaknya tidak bisa lagi menyalahkan turis, melainkan diri sendiri.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2019 (“Perkara Populer”).

Comments