Tingginya pajak mempengaruhi biaya hidup penduduk sebuah kota. Setidaknya itulah yang menjadi acuan Bank UBS untuk menentukan sepuluh kota di dunia dengan biaya hidup termahal. Dalam studi bertajuk Prices and Earnings 2015: Do I Earn Enough for the Life I Want, para analis UBS memilih kota-kota dengan biaya hidup tinggi dengan pendapatan rata-rata penduduk yang cukup rendah setelah dipotong pajak. Biaya hidup yang dimaksud sudah mencakup harga sewa tempat tinggal serta harga barang dan jasa. New York dinobatkan sebagai kota termahal versi studi ini.

Uniknya, Singapura yang menduduki posisi pertama sebagai kota termahal versi Economist Intelligence Unit tidak masuk dalam daftar sepuluh besar UBS. Di New York sendiri, selama ini masyarakatnya sudah terbiasa dengan tiga pajak yang dibebankan kepada mereka, yakni pajak kota, negara bagian, dan federal. Berikut 10 kota di dunia dengan biaya hidup termahal versi Bank UBS:

1. New York
2. Zurich
3. Jenewa
4. Oslo
5. London
6. Hong Kong
7. Chicago
8. Kopenhagen
9. Sydney
10. Tokyo

Perhitungan yang dilakukan oleh bank asal Swiss tersebut berdasarkan atas dicabutnya batas suku bunga pinjaman oleh Swiss National Bank pada Januari silam yang berakibat pada naiknya harga. Di New York misalnya, harga sewa apartemen dua kamar tidur bisa menembus $4.320 per bulan, nyaris dua kali lipat dari harga sewa di Zurich. Sedangkan harga-harga barang di Zurich dan Jenewa lebih mahal dibanding kota-kota di Amerika Serikat. Minus biaya sewa apartemen, satu keluarga di Zurich butuh biaya $3.600 per bulan, sementara di Jenewa biaya yang harus disiapkan setidaknya $3.600 per bulan. Sedangkan biaya hidup di New York sedikit lebih murah, yakni $3.340 per bulan.