Suasana London, Inggris, pada 1980.

Oleh Arif Furqan
Foto koleksi Arsip Unhistoried

Hanya sedikit tersisa arsip foto yang menceritakan riwayat keluarga saya. Sempat ada berpuluh foto dan klise negatif yang mengabadikan perjalanan keluarga, tapi semua itu kemudian raib, mungkin ditinggal saat proses pindah rumah lantaran dianggap dokumen yang tak bernilai. Dari kehilangan itulah saya menjadi begitu dekat dengan foto-foto lawas yang tergeletak di pasar loak. Menikmati mereka membantu saya menambal lubang ingatan, hingga kemudian mendorong saya melakukan eksperimen pengarsipan foto keluarga yang bernama Unhistoried.

Sejak empat tahun lalu, saya melakukan pengumpulan, pendataan, serta digitalisasi foto-foto dari pasar loak, mayoritas dari kota Malang dan Yogyakarta. Saya menyebut mereka “foto yatim piatu” :  foto tanpa ikatan familial, tanpa cerita sentimental. Lepas dari tangan pembuat dan pemiliknya, mereka pun mengerucut jadi objek yang dikebiri dari kenangannya, ibarat serpihan artefak dari sebuah era, walau bukan berarti kosong tanpa cerita.

Kiri-kanan: Pantai Parangtritis, Yogyakarta, 1970-an; foto buatan 1980-1990-an yang disertai label.

Foto keluarga adalah rekaman semangat visual sebuah zaman yang diproduksi secara sukarela, partisipatoris, juga kolektif. Mereka menawarkan jendela kecil untuk membaca konteks yang lebih luas. Foto ini mengungkapkan cerita individu dan keluarga secara keseluruhan, karena pada dasarnya setiap individu mengemban multiperan sebagai anggota keluarga sekaligus anggota jaringan komunitas yang lebih luas. Usai mengadopsi foto-foto yatim piatu ini, saya melakukan pemaknaan, re-interpretasi, serta pelacakan jejak-jejak kontekstual dan historis di baliknya.

Dari ribuan foto yang terkumpul, beberapa menarik perhatian. Contohnya foto Presiden Soeharto bersama Ibu Tien dalam sebuah acara resmi. Ada juga foto Presiden Gus Dur dalam sebuah jamuan keluarga. Kedua foto itu secara tidak langsung menunjukkan betapa tokoh-tokoh besar pun bersinggungan dengan peristiwa kecil dalam keluarga. Foto keluarga adalah serpihan cerita dari narasi yang lebih besar. Ia terbentuk dalam ruang yang domestik dan intim, unit sosial terkecil bernama keluarga.

Itu pula sebabnya foto-foto keluarga tak bisa dipandang remeh. Setelah sekian panjang perjalanan ditempuh oleh sebuah bangsa, setelah semua kisah heroik tentang kepahlawanan dan epos diceritakan, narasinarasi kecil dituturkan dalam keluarga. Melalui meja makan atau kenduri, cerita minor itu larut dalam teguk kopi, menjalar bersama aroma teh, menyelinap di antara denting piring, seolah menegaskan sejarah terjadi tak hanya di panggung negara, tapi juga di bilik-bilik privat.

Slide positif potret diri di Versailles, Prancis, dalam kunjungan kerja pada 1970-1980-an.

Mayoritas arsip foto keluarga dalam Unhistoried bertitimangsa 1970 hingga 1990-an—sebuah kurun yang menandai babak pertama popularitas fotografi di Indonesia, terutama di kalangan menengah-atas. Dalam buku Refracted Visions: Popular Photography and National Modernity in Java, Karen Strassler mengklaim fotografi mulai mudah diakses oleh masyarakat Indonesia di era Orde Baru. Awalnya dilakukan dalam studio, memotret merekah jadi praktik umum, terutama setelah kamera banyak tersedia di pasar berkat kian terbukanya keran impor produk asing.

Dari arsip yang terkumpul, foto bertema perjalanan cukup dominan. Sejak lama, fotografi memang berhubungan mesra dengan wisata. Menenteng kamera saat trip, mengabadikan pemandangan, serta mengumpulkan dokumentasi dalam album foto, adalah laku yang lumrah. Sebagaimana kini, motivasi masyarakat dulu untuk bepergian pun beragam, mulai dari piknik keluarga, ziarah, pertukaran pelajar, hingga kunjungan kerja.

Atraksi menunggang unta di Piramida Giza, Mesir, pada 1989.

Arsip Unhistoried menunjukkan destinasi favorit keluarga Indonesia meliputi situs prasejarah, pesona alam, dan monumen penting. Tercakup dalam Tujuh Keajaiban Dunia, Candi Borobudur kerap terekam, mulai dari foto hitam putih buatan 1970-an hingga foto berwarna bertarikh 1980-an. Pada beberapa lembar foto terlihat orang-orang yang berupaya menyentuh patung Buddha di dalam stupa Borobudur. Mitos semacam ini ternyata berjejak panjang.

Unhistoried juga mengoleksi arsip foto perjalanan ke luar negeri. Foto era 1970-an cenderung dibuat dalam misi dinas atau studi banding. Ada misalnya sekitar 100 foto yang mendokumentasikan kunjungan kerja pegawai PLN Yogyakarta dan tenaga ahli pengairan dari Malang ke Amerika dan Eropa. Mengingat pada periode itu Indonesia tengah menggencarkan pembangunan infrastruktur, tak heran jika foto-foto dinas insinyur menjadi rekaman yang penting. Perkembangan ini tentu tak lepas dari konektivitas udara yang kian terbuka. Garuda Indonesia, misalnya, di masa awal Orde Baru gencar melebarkan sayapnya ke banyak kota, termasuk Frankfurt dan Los Angeles.

Khusus foto trip bisnis, medium yang dipilih berbeda dari foto keluarga. Jika foto keluarga dipotret dengan film negatif dengan tujuan dicetak, arsip foto dinas dipotret menggunakan slide positif dengan tujuan dipresentasikan. Dalam kumpulan arsip ini, selain foto terkait permesinan, terdapat sejumlah foto pribadi di tempat-tempat ikonis sebagai catatan pribadi.